Penaklukan Panarukan 47

Orang-orang berseru kaget, kecuali Ki Rangga Gagak Panji. Mereka mengulang kembali ucapan Mpu Badandan. Sejenak kegaduhan terjadi dalam ruangan yang berukuran sekitar lima puluh langkah kaki itu. Lalu Mpu Badandan meneruskan ucapannya,” Gagak Panji akan mendatangi mereka setelah mereka terlihat telah membuang sauh. Ia akan menemui Sultan Trenggana dan karena tidak mungkin bagi Demak untuk menarik mundur prajuritnya, maka kita harus menantang mereka agar bersedia melakukan perang tanding diantara pemimpin kelompok prajurit.”

“ Bagaimana sikap kita apabila mereka menolak tawaran itu?” bertanya Ki Kayumas dengan dua alis yang terangkat.

Mpu Badandan mengangguk pelan, sekejap ia melirik Gagak Panji yang telah tegak berdiri di dekat sebuah tiang kayu penyanggah. Kemudian kata Mpu Badandan,” Hyang Menak Gudra telah menyiapkan satu rencana yang aku pandang baik. Mereka akan berpikir ulang untuk melanjutkan pertempuran.”

Ki Tumenggung Kayumas sekali-kali melihat Mpu Badandan dan Gagak Panji bergantian. Katanya,” Kalian berdua begitu yakin bahwa siasat ini akan berjalan sesuai harapan.“ Ia berpaling pada senopati yang lain kemudian,” Aku tidak tahu apakah kita harus menempuh jalan yang akan mereka ungkapkan, tetapi aku sendiri tidak mempunyai keberatan yang masuk akal untuk melarang mereka berdua berbicara di hadapan kita semua.” Serentak seluruh senopati yang hadir dalam ruangan itu menyatakan bahwa mereka tidak keberatan untuk mendengar gagasan para pemimpin mereka yang akan disampaikan oleh Mpu Badandan.

“ Ini gagasan yang luar biasa meskipun dapat dikatakan sebagai penyimpangan bentuk siasat perang,” ucap seseorang bertubuh kurus dengan suara keras.

“ Tetapi bukankah kau juga mengharapkan itu terjadi?” sahut orang yang lain.

“ Tentu saja. Aku adalah senopati tanpa pasukan jadi aku pikir aku akan menerima siasat ini,” jawabnya lalu disambut gelak tawa para senopati yang lain. Sekejap kemudian ruangan itu kembali sunyi.

Mpu Badandan lantas menguraikan dengan terukur tentang siasat yang akan mereka tempuh. Dalam pada itu, terbukalah wawasan para senopati yang pada mulanya memandang rendah kemampuan Gagak Panji. Mereka pun menjadi paham alasan Pangeran Tawang Balun menghindari perang secara terbuka. Pada akhirnya mereka semua sepakat dengan penjelasan Mpu Badandan bahwa perang yang akan terjadi meskipun digelar diatas samudera hanya membawa bencana bagi mereka yang berada di darat. Kerusakan memang akan dapat dibatasi tetapi lawan yang mereka hadapi sebenarnya masih terhitung keluarga sendiri.

Oleh karena itu, perang tanding antar senopati benar-benar pilihan yang terbaik bagi mereka. Ditambah keinginan Hyang Menak Gudra untuk berbicara sendiri dengan Sultan Trenggana maka para senopati Blambangan semakin bergairah untuk memberi yang terbaik bagi negeri mereka. Kini mereka tak lagi gundah gulana apabila dikatakan sebagai pengecut. Pada malam itu, para senopati Blambangan telah berada dalam sebuah wawasan yang baru tentang bagaimana mereka menempuh jalan pulang. Ucapan Mpu Badandan mampu menambah semangat mereka berlipat ganda.

“ Apa yang dilakukan Sultan Trenggana sebenarnya bukan tentang siapa kita yang berada di Blambangan. Tetapi lebih mengenai Demak baik sebagai sebuah wilayah berdaulat maupun sebagai keinginan pemimpinnya. Bagi kita, upaya yang dilakukan Demak adalah cara kita dalam menempuh jalan untuk pulang. Kita berperang tidak bertujuan untuk mati tenggelam. Kita berperang dengan perhitungan dan dalam perencanaan yang matang. Bersama keluarga dan kawan kita pasti mampu mempertahankan Panarukan.”

Gempita semangat para senopati kian menggelora. Kekuatan tekad mereka terlontar melalui ungkapan-ungkapan yang diucapkan. Tangan terkepal menggapai udara. Lantai dan dinding ruangan pun seakan ikut bergetar menjadi saksi kedahsyatan tekad yang terpancar dari para punggawa Blambangan itu.

Pintu ruangan kemudian terbuka dan dua orang menyusul masuk ke bagian dalam. Para senopati Blambangan semakin keras dan menggetar menyatakan kesiapan mereka tatkala Hyang Menak Gudra dan Adipati Surabaya melangkah diantara mereka dan disertai Ki Tambak Langon. Para senopati itu telah mengenal baik orang yang berjalan dengan kepala menunduk. Tak terkecuali Ki Rangga Gagak Panji yang merasa seperti mendapat kelonggaran untuk bergerak. Kehadiran Ki Tambak Langon seolah menjadi minyak yang menyiram api semangat yang telah menggelora hebat. Ia dikenal sebagai seorang prajurit sandi namun lebih sering membebaskan dirinya dari paugeran keprajuritan untuk berada dalam pergaulan rakyat biasa. Kehebatannya disebut-sebut nyaris menyamai Pangeran Tawang Balun. Oleh karena itu para punggawa Blambangan semakin percaya diri menghadapi Demak yang mempunyai persenjataan lebih lengkap.

Cukup lama para punggawa Blambangan mengumandangkan bait syair yang mampu menjaga asa mereka. Bahkan Hyang Menak Gudra pun lirih bersuara mengikuti bait syair yang digelorakan oleh para punggawa yang dipimpin oleh Tumenggung Arya Silo Sanen, murid dari sebuah padepokan kecil namun tersohor yang terletak di Alas Kumitir.

“ Kita tak boleh berada dalam keadaan jumawa. Sikap itu akan menghancurkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini, dan pula jumawa akan membinasakan segala manfaat yang mungkin akan kita terima di masa mendatang,” berkata Hyang Menak Gudra setelah para punggawa usai berbait syair.

Lantas ia mengemukakan rencana yang telah disusun bersama Suro Adijaya, Adipati Surabaya. Tidak seorang pun bersuara ketika dua orang itu bergantian menjelaskan siasat yang akan mereka gunakan apabila angkatan perang Demak telah berada di wilayah lepas pantai. Beberapa kali mereka mengambil masa untuk istirahat dan memanfaatkan waktu dengan berbagai pembicaraan yang berasal dari banyak sudut pandang. Saat tengah malam baru saja berlalu, keputusan Hyang Menak Gudra dan seluruh bagian rencana telah disepakati secara bulat. Pertemuan panjang yang melelahkan itu membuahkan hasil yang benar-benar melegakan setiap hati senopati. Mereka mendapatkan kesempatan yang sesuai dengan kemampuan prajurit bawahannya dan mereka akan menyampaikan hasil pertemuan itu setelah tiba di barak masing-masing.

Satu dua hari berlalu tanpa terlihat adanya kesibukan yang luar biasa di Panarukan. Tidak ada tanda-tanda prajurit Blambangan tengah melakukan persiapan. Bahkan pelabuhan Panarukan pun masih berlangsung kegiatan bongkar muat oleh para pedagang yang sering melawat ke luar pulau. Meskipun mereka tahu bahwa angkatan perang Demak sedang mendekati wilayah mereka, namun para saudagar tetap bersikap seperti yang diminta oleh Hyang Menak Gudra.

Sore itu nyaring bunyi peluit yang berasal dari menara pengawas. Siul peluit yang dibunyikan dengan nada tertentu menjadi pertanda bagi para prajurit untuk bergegas menyusun pertahanan seperti perintah Hyang Menak Gudra. Tetapi tidak ada kepanikan yang ditunjukkan oleh para saudagar karena mereka telah bersiap sebelumnya. Kegiatan saudagar Blambangan yang banyak melintasi samudera menjadikan mereka lebih mudah mengamati perkembangan di atas perairan. Beberapa saudagar dari luar pulau telah mengabarkan keberangkatan armada Demak, oleh karena itu mereka telah membuat persiapan matang untuk menjalankan perdagangan mereka dari pelabuhan yang berbeda. Tetapi Hyang Menak Gudra meminta mereka tidak mengosongkan pelabuhan Panarukan secara keseluruhan. Dalam pada itu, para saudagar pun tidak keberatan dengan permintaan pemimpinnya maka mereka menggunakan pelabuhan Panarukan untuk barang dagangan yang berumur panjang seperti kerajinan tangan dan logam yang diolah.

Tinggalkan Balasan