Penaklukan Panarukan 48

Hyang Menak Gudra telah mendapat laporan mengenai kedatangan armada perang Demak yang dipimpin secara langsung oleh Sultan Trenggana. Setelah menimbang beberapa pendapat, ia bergegas menuju barak pasukan yang berada di pelabuhan. Rakryan Tumenggung Ra Kayumas, Ki Rangga Gagak Panji dan Mpu Badandan sedang memimpin pertemuan para senopati ketika Hyang Menak Gudra tiba memasuki ruangan.

“ Apakah kalian telah menjelaskan pada mereka mengenai rencana kita dalam peperangan kali ini?” bertanya Hyang Menak Gudra. Mereka bertiga pun menjawab dengan anggukkan kepala.

“ Sejauh mana mereka telah mengadakan persiapan?”

Ra Kayumas pun kemudian menjelaskan secara terang bahkan ia menambahkan usulan tambahan yang digagas oleh senopati yang lain. Hyang Menak Gudra mendengar penjelasan Ra Kayumas dengan seksama. Lalu katanya,” Baiklah, secara keseluruhan tambahan yang diajukan oleh para senopati  memang tidak ada penyimpangan dari rencana induk. Aku harap kita semua dapat mematuhi paugeran dan setia pada keluhuran nilai yang kita pegang teguh selama ini.”

Sejenak kemudian Hyang Menak Gudra membubarkan pertemuan dan meminta para senopati kembali ke tempat yang telah ditentukan dan menunggu dalam keadaan siaga.

Ki Rangga Gagak Panji melangkah lebar menuju sebuah bangunan tinggi yang khusus digunakan oleh para pengawas jalur perairan. Ia bersilang dada dan lurus menatap kerlip cahaya yang berasal dari kapal-kapal perang prajurit Demak. Dari tempatnya berdiri, obor-obor yang menyala itu nampak seperti  ribuan kunang-kunang yang sering ia jumpai saat melintasi hutan pada tengah malam.

“ Luar biasa!” desah Gagak Panji. Ra Kayumas dan Mpu Badandan yang berdiri di kedua sisinya tidak membantah perasaan yang terungkap dari Gagak Panji. Mereka bertiga melihat betapa beberapa buah kapal yang berada di baris depan tampak besar dan kokoh. Jarak antar tiang kapal dan kerangka  kayu yang menjadi sandaran layar mengesankan kekuatan yang tersimpan. Ra Kayumas dapat memperkirakan apa-apa yang berada di balik lambung kapal.

“ Boleh jadi, Sultan Trenggana berada di dalam kapal yang ketiga dari sisi kanan. Sekalipun kapal itu tidak terlihat lebih besar dari yang lain, namun jumlah tiang dan dan kedudukan buritan telah memberiku gambaran mengenai kemampuan awak kapalnya,” kata Ra Kayumas. Gelapnya malam tidak menjadi kendala bagi ketiga orang berkepandaian tinggi itu untuk melihat bentuk kapal dengan jelas. Mereka mampu melihat dengan jelas meski cahaya tidak mendukung penglihatan.

“ Apakah itu berarti aku segera menunjukkan diri setelah mencapai geladak?” bertanya Gagak Panji pada Ra Kayumas.

Rakryan Tumenggung Ra Kayumas mengangguk lalu penuh keyakinan ia menjawab,” Lakukanlah! Aku akan membawa beberapa prajurit pasukan khusus untuk mengalihkan perhatian apabila kau mendapatkan kesulitan.”

“ Guru!” Gagak Panji lantas berpaling pada Mpu Badandan untuk meminta sebuah pertimbangan atau sekedar sepatah kata darinya.

Mpu Badandan menarik nafas panjang. Kemudian,” Setelah malam ini aku pikir tidak ada lagi kendala yang berarti bagimu. Kau akan menghadapi orang paling keras dalam pendirian. Kau akan mendapat perlawanan keras darinya pada saat kau katakan bahwa orang-orang di wilayah timur tidak pernah berpikir untuk menentang kedudukan Sultan Trenggana sebagai penguasa Demak. Tidak pernah aku mendengar keluh kecewa dari Pangeran Tawang Balun atau saudaranya yang lain. Tidak pula dari Pangeran Parikesit. Mereka tidak pernah melakukan satu perbuatan yang membahayakan tahta Demak. Walaupun ia menempuh jalan yang kita yakini sebagai sebagai jalan yang salah, tetapi dengan segala keburukannya, ia adalah seorang pemimpin.’

‘Pada malam ini, kita telah kedatangan satu kekuatan yang menakutkan. Kekuatan hebat yang telah melampaui samudera untuk menekan orang-orang bermata biru. Mungkin juga kau tidak akan pernah dapat keluar dari kapal itu hidup-hidup, Gagak Panji. Tetapi kau mempunyai bekal yang sangat kuat. Dan aku mengerti bahkan lebih dari itu bahwa kau akan dapat melewati malam ini meski hasil yang akan kau nyatakan tidak bakal pernah memuaskan banyak pihak.”

“ Aku mengerti, Guru,” lirih berkata Gagak Panji lalu memberi hormat serta minta diri pada keduanya untuk menjalankan tugas berat. Sebuah tugas yang hanya mampu diemban olehnya seorang diri. Ia harus dapat menemui Sultan Trenggana dan berbicara dengannya beradu wajah.

Sebenarnyalah para pemimpin yang berkumpul di Panarukan menginginkan sebuah perundingan tetapi mereka mengalami kesulitan untuk menunjuk orang yang dapat mewakili kepentingan Blambangan. Pada malam mereka berkumpul untuk membicarakan siasat yang dihadiri Hyang Menak Gudra lalu muncul pendapat yang diucapkan oleh Mpu Badandan yang akhirnya dapat diterima banyak orang. Mereka pun bersepakat bahwa Gagak Panji adalah orang yang tepat untuk menjadi duta Blambangan meskipun ia sendiri adalah seorang prajurit dari Jipang yang berkedudukan sebagai rangga. Tetapi Gagak Panji mempunyai bukti yang tidak dapat dibantah bahwa ia adalah kerabat dari keluarga Demak selain ilmunya yang cukup tinggi. Maka Hyang Menak Gudra menaruh harapan besar padanya untuk dapat menemui Sultan Trenggana dan menawarkan jalan selain sebuah peperangan.

Demikianlah setelah Mpu Badandan berkata-kata, Gagak Panji pun menuruni anak tangga dan meninggalkan panggungan. Sambil sekali-kali menatap kapal yang diduga menjadi tempat Sultan Trenggana memimpin armada perangnya, Gagak Panji berjalan tenang menuju sebuah perahu kecil yang telah disiapkan untuknya. Gelombang air laut berulang menggoyang badan perahu yang masih terikat oleh sebuah tali yang diikatkan pada sebuah kayu di tepi pantai, seorang prajurit memegangi perahu terlihat berdiri di samping perahu kecil itu. Sebelum kaki Gagak Pani menyentuh air laut seorang prajurit mengulurkan dayung padanya, Gagak Panji kemudian menerima dayung itu lalu melompati permukaan air dan kemudian menjejak ringan diatas badan perahu.

“ Apakah Ki Rangga tidak akan mendayung?” bertanya prajurit yang memegangi perahu dengan kagum.

Ki Rangga Gagak Panji melihat padanya lalu,” Tentu saja aku akan menggunakan dayung ini. Marilah!”  Ia menggerakkan tangan memberi perintah agar prajurit itu melepas tali pengikat kemudian mendorongnya ke tengah laut.

Perahu itu kerap kali bergoyang-goyang ketika ombak datang mengenai badan perahu namun Gagak Panji masih kokoh berdiri diatasnya. Dan tubuh prajurit itu telah tenggelam setengahnya, Gagak Panji mengayunkan dayung dalam keadaan tubuh setengah berjongkok. Seketika itu pula laju perahu seperti didorong oleh kekuatan yang sangat besar. Perahu melaju sangat cepat dengan sedikit kecipak air yang timbul saat Gagak Panji menyentuhkannya pada permukaan air. Perahu melaju seolah terbang rendah diatas permukaan laut perairan Panarukan. Dalam waktu cukup singkat, perahu itu telah berada di samping lambung kapal. Gagak Panji meraba dinding kapal bagian luar lalu ia merayap dengan cara yang tidak masuk akal. Layaknya seekor cicak yang bersayap, tubuh Gagak Panji yang menempel pada lambung kapal dengan enteng dan sangat cepat tiba-tiba telah berada di atas geladak. Keadaan yang sangat sunyi di bagian geladak dan sama sekali tidak mengesankan bahwa mereka sedang dalam keadaan bersiap untuk perang. Hanya ada seorang prajurit sedang berjaga di buritan dan haluan kapal. Namun pada bagian geladak tidak ada seorang pun yang terlihat.

“ Kemarilah, kau ikuti seorang prajurit yang akan segera aku kirimkan untuk menjemputmu!” terdengar suara yang seolah-olah ada orang disampingnya.

“ Kanjeng Sultan!” desis Gagak Panji. Dalam hatinya, ia mengagumi kehebatan Sultan Trenggana yang telah mengetahui kedatangannya. Sebenarnya Gagak Panji sama sekali tidak menimbulkan suara yang cukup keras untuk didengar. Gerakannya saat berada di sisi kapal pun tidak mengeluarkan bunyi sama sekali tetapi orang yang ia kunjungi adalah Sultan Trenggana yang dikabarkan menyimpan kemampuan sangat tinggi. Tak lama kemudian, muncul seorang prajurit dari sebuah lorong yang berada di sisi bilik juru mudi. Gagak Panji yang mengetahui kedatangan prajurit itu segera datang menghampirinya lalu mengikuti langkah kaki prajurit yang diperintahkan Sultan Trenggana untuk menjemputnya. Lalu kedua orang itu berjalan melintasi lorong kemudian menuruni sebuah anak tangga yang pendek. Prajurit itu memberi petunjuk pada Gagak Panji mengenai bilik tempat Sultan Trenggana telah menunggu kedatangannya. Setelah melewati dua bilik yang tertutup rapat, Gagak Panji berdiri di depan pintu bilik Sultan Trenggana.

Tinggalkan Balasan