Penaklukan Panarukan 49

“ Masuklah, pintu tidak terkunci!” perintah Sultan Trenggana dari dalam. Gagak Panji mendorong pelan dan sedikit bunyi berdecit ketika pintu bergeser. Kini ia telah berada di dalam ruangan yang tidak begitu besar. Sekilas ia melihat sebuah pembaringan kecil, tiga buah sebuah kursi dan meja. Bilik yang cukup sederhana bagi seorang pemimpin sebuah kerajaan.

“ Gagak Panji!”  sapa Sultan Trenggana yang duduk pada sebuah kursi. Gagak Panji segera menghaturkan sembah hormat.

“ Kanjeng Sultan,” kata Gagak Panji. Lantas Sultan Trenggana menunjuk sebuah kursi dan untuk duduk. Dalam pada itu Gagak Panji dapat memperkirakan ketebalan dinding lambung kapal. Ia tidak mendengar debur ombak atau hembus kencang angin laut. Dan pula ia merasa bahwa udara di dalam ruangan itu lebih hangat dibandingkan lorong yang dilewatinya.

“ Sebuah keberanian yang sudah sepantasnya dimiliki oleh seorang perwira Demak,” kata Sultan Trenggana,” Namun kau melakukannya pada tempat dan waktu yang salah.”

“ Hamba, Kanjeng Sultan.”

“ Gagak Panji,” Sultan Trenggana berkata lagi,” Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan dengan memilih untuk berpihak pada Blambangan. Kedudukan tinggi di Demak telah kau dapatkan. Bahkan mendapatkan banyak kelonggaran dalam melakukan pekerjaanmu. Tapi lihatlah dirimu sekarang! Kau justru mengambil sikap untuk menentangku.”

“ Tidak ada pemikiran yang berasal dariku untuk menentang Demak atau membangkang seorang pemimpin seperti Kanjeng Sultan,” kata Gagak Panji.

“ Lalu?”

“ Usai pertemuan yang tergelar di Demak dan Kanjeng Sultan menyatakan rencana untuk menaklukan Panarukan, sebenarnya aku ingin menemui Kanjeng Sultan lalu bicara mengenai rencana itu,” jawab Gagak Panji.

“ Dan kau tak pernah melakukannya, bukan?”

“ Aku tidak melihat adanya kemungkinan pembatalan rencana itu dari sikap Kanjeng Sultan sendiri,” jawab lelaki yang seusia dengan Adipati Pajang itu.

“ Aku memang tidak membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengubah rencanaku,” kata Sultan Trenggana. Ia menatap lekat wajah Gagak Panji. Kemudian katanya lagi,” Termasuk Ki Kebo Kenanga dan Paman Parikesit yang berusaha mengubah rencana ini melalui Angger Mas Karebet.”

Gagak Panji menarik nafas dalam-dalam. Ia menyayangkan sikap keras Sultan Trenggana karena dengan penolakan itu berarti benturan yang besar dan sangat keras sangat mungkin akan terjadi.

“ Dan belakangan,” Sultan Trenggana menarik nafas panjang lalu,” Kau telah membuatku benar-benar marah. Kekacauan banyak terjadi dan setiap laporan selalu menyatakan bahwa kau adalah orang yang mengatur semua kekacauan.”

Dahi Gagak Panji berkerut. Dengan kedua alisnya yang saling bertaut, ia bertanya,” Aku tidak merasa telah membuatmu marah, Kanjeng Sultan. Dan pula aku tidak membuat kekacauan seperti yang dilaporkan para petugas sandi.”

“ Kau meninggalkan Jipang dan melangkah jauh melampaui perbatasan Demak.”

“ Aku meninggalkan Jipang dan Demak karena aku tidak ingin ada darah yang membanjiri bumi ini. Aku menemui Adipati Lasem, Adipati Tuban dan Adipati Surabaya. Aku meminta mereka untuk tidak menghalangi laju para prajurit Demak bila melintasi wilayah mereka dan mereka setuju.”

“ Omong kosong!” bentak Sultan Trenggana.  Dalam perjalananmu ke wilayah timur, kau telah menyusun sebuah gerakan untuk menggulingkanku dari singgasana. Kau mengambil banyak orang dan mengatur muslihat agar perhatianku kemudian teralihkan pada keamanan di dalam Demak itu sendiri. Tetapi kau telah gagal, Gagak Panji. Aku telah berada di sini dengan sehamparan kapal perang dan prajurit yang tangguh.”

Gagak Panji beringsut maju lalu berkata dengan keras,” Paman! Hentikan itu! Paman mendengar keterangan yang salah. Itu adalah berita bohong yang disebarkan oleh orang-orang yang berada didekatmu. Sejak pertemuan itu usai, aku telah menapak keluar wilayah Demak untuk berada di sini dan kabar bahwa aku sedang berusaha mengambil tahta darimu itu memang aku dengar. Tetapi semua itu adalah kebohongan.”

“ Kau melampaui batasanmu, anak muda! Aku adalah penguasa tertinggi Demak.”

Tinggalkan Balasan