Penaklukan Panarukan 50

“ Aku tidak peduli!” sergah Gagak Panji. Tanpa sadar ia telah melumatkan kayu sandaran lengan. Kemudian ia berkata,” Seorang paman akan menjaga keponakannya dan bila perlu ia akan membicarakan perihal keponakannya secara langsung. Tetapi Paman telah menuduhku berusaha mengambil alih Demak tanpa bukti yang dapat diterima akal sehat. Paman menuduhku dengan anggapan dari Paman sendiri ditambah laporan yang tidak jelas kebenarannya.”

“ Aku adalah Pamanmu.”

“ Aku sedang membela diriku, Paman!” Gagak Panji menghempas punggungnya pada sandaran kursi. Ia mengatur nafasnya lalu berkata,” Aku tidak melakukan apapun yang Paman tuduhkan.  Seseorang sedang berusaha membuat celah di Demak dengan kepergian Paman kemari.”

“ Aku tinggalkan Angger Mas Karebet untuk mereka,” kata Sultan Trenggana. Sorot matanya tajam seolah menusuk jantung Gagak Panji. Ia berujar kemudian,” Aku akan selesaikan permasalahan yang menghubungkanmu dengan semua peristiwa yang terjadi setelah Blambangan berada dalam genggaman.”

“ Memang lebih baik begitu,” sahut Gagak Panji,” Kita kembali pada pokok persoalan.”

“ Katakan!”

“ Hyang Menak Gudra dan Eyang Tawang Balun tidak menghendaki terjadinya peperangan di antara kerabat sendiri.”

“ Lalu?”

“ Pertempuran yang melibatkan ribuan prajurit akan digantikan dengan perang tanding para pemimpin.”

“ Itu muslihat peperangan,” suara Sultan Trenggana terdengar pelan. “ Apa yang akan terjadi bila aku menolak permintaan mereka?”

“ Aku tidak tahu.”

“ Engkau seorang duta yang tidak diberitahu apapun lebih dari yang kau ucapkan tadi?”

“ Benar, Paman,” Gagak Panji mengangguk.

“Aku datang untuk membawa Blambangan berada dalam kekuasaan Demak. Perlindungan dapat aku berikan bagi Blambangan tetapi dengan usulan Hyang Menak Gudra akan menjadikan  Blambangan tidak berarti lagi sebagai sebuah wilayah.”

“Blambangan tetap mempunyai harga diri, Paman. Kami tidak pernah menganggap Demak  sebagai musuh. Blambangan mempunyai kedudukan yang sejajar dengan Demak.”

“Demak adalah penerus kekuasaan Majapahit dan Blambangan wajib tunduk padaku.”

“Eyang Prabu tidak menunjuk siapapun untuk menggantikannya. Maka yang demikian itu mempunyai arti bahwa setiap wilayah telah mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Bahkan kami semua menyayangkan peristiwa kelam yang terjadi di masa lalu.”

“Kami? Kau berkata seolah kau telah menjadi satu bagian dari Blambangan. Kau masih seorang prajurit Demak, Gagak Panji!”

“Benar, Paman. Aku menganggap diriku telah keluar sebagai seorang prajurit Demak ketika Paman mengumumkan rencana untuk menaklukkan Panarukan.”

“Kau membuat kesalahan berlipat ganda, Gagak Panji. Sebagai seorang dari keponakan, , kau telah berkhianat pada pamanmu. Sebagai seorang prajurit, kau adalah musuh bagi Demak saat ini. Aku dapat menangkapmu dan memberimu hukuman mati.”

“Paman berada di perairan Blambangan.”

“Aku berada di dalam kapalku.”

“Kedatangan Paman tidak mendapat ijin dari Hyang Menak Gudra.”

“Aku tidak membutuhkannya! Menak Gudra bukan siapa-siapa.”

“Jatuhkan perintah untuk menangkapku, Paman Trenggana.”

“Kau menantangku?”

“Tidak ada pilihan bagiku!”

Sultan Trenggana menarik nafas panjang. Bagaimanapun ia pun merasa kagum dengan keteguhan hati Gagak Panji. Betapa ia mendatanginya seorang diri sementara ia dapat ditangkap dan dijatuhinya hukuman mati. Ketegaran Gagak Panji yang sempat berada dalam tekanannya tidak membuat Sultan Trenggana berubah pikiran.

“Gagak Panji,” suara Sultan Trenggana menurun kemudian,” Apakah kau memang menentangku sejak kau memasuki keprajuritan Demak?”

Lelaki yang tumbuh dan berkembang dalam pengamatan Pangeran Parikesit itu menghindari tatap mata pemimpin Demak. Terlintas beberapa jawaban dalam benaknya, kemudian katanya,” Aku memasuki keprajuritan Demak bukan sebagai penentang, Paman.”

“ Tetapi kau sekarang berada di dalam ruangan ini dan berbicara denganku sebagai penentang. Bukankah begitu?” Sultan Trenggana mengalihkan pandangnya lalu,” Bila kau bukan seorang penentang, lalu dimana sesungguhnya engkau berada?”

“Aku berada dalam barisan orang yang setia pada janji.”

“Itu sikap seorang prajurit Demak.”

“Aku bukan lagi prajurit Demak.”

“Baiklah,” Sultan Trenggana bangkit dari duduknya. Lalu,” Aku kira kita akan selalu berada dalam kedudukan saling menyalahkan. Kau akan selalu membela dirimu sedangkan aku pun seorang pengadil, Gagak Panji.”

“Hamba, Kanjeng Sultan.”

“Aku tidak akan lagi berbicara denganmu semenjak malam ini. Selamanya kau adalah salah satu dari banyak keponakan dan kerabatku tetapi aku merasa lelah bila harus berbicara denganmu,” berkata Sultan Trenggana.

“Hamba masih menunggu, Kanjeng Sultan.”

2 tanggapan pada “Penaklukan Panarukan 50”

Tinggalkan Balasan