Bara di Borobudur – Kao Sie Liong 4

Kao Sie Liong adalah seorang lelaki muda yang memulai pekerjaannya sebagai prajurit muda. Kecerdasan dan ketangkasan yang terdapat dalam dirinya dengan cepat mengantarkan namanya menempati jajaran jenderal muda yang mahir dalam seni perang. Meskipun dalam usianya yang belum setengah abad ia mencapai ilmu silat yang tinggi, namun sesungguhnya dia bukan bagian dari dunia persilatan. Dan sebagai orang yang setia kepada kerajaan, ia akan menempuh jalan-jalan bahaya demi sebuah panggilan kerajaan dan rakyatnya. Pergolakan dan pergantian kaisar tidak menggoyahkan pendiriannya sebagai seorang prajurit yang setia pada sumpahnya. Ia tidak memihak kaisar sebelum Ning Tsung dan juga tidak ikut serta dalam gerakan yang disusun oleh Kaisar Ning Tsung. Oleh sebab itu, ia kini menjadi salah satu jenderal kepercayaan Kaisar Ning Tsung dalam mengelola kerajaan Tiongkok yang memiliki wilayah sangat luas.

“Ketua Toa, tidak semua perselisihan harus diselesaikan dengan kekerasan. Kau masih mempunyai lidah untuk berbicara dan duduk bersama Kaisar Ning Tsung,” berkata Kao Sie Liong.

“Tidak ada jalan keluar bagi kaisarmu selain tunduk pada keinginan kami. Kaisar Ning Tsung telah menghasut rakyatnya untuk tidak berhubungan lagi dengan Suku Juerchen. Untuk itulah, aku berada di sini. Untuk menyelesaikan perkara dengan adil dan bijaksana.”

“Apakah engkau bermimpi, Ketua Toa? Kau bicara tentang kebijaksanaan, sedangkan kau membakar gedung perpustakaan, bukankah sikapmu itu suatu kebiadaban? Perbuatanmu itu akan membuat rakyat negeri ini mengalami kebodohan dalam masa yang panjang!”

Kao Sie Liong masih belum mengerti watak Toa Sien Ting. Ia berpikir bahwa memang seperti itulah kebanyakan sifat manusia. Selalu menganggap dirinya adalah wakil dari kebenaran akan tetapi apa yang ia lakukan justru berlawanan dengan kebenaran yang ia perjuangkan. Sikap Ketua Toa dan gerombolannya dengan membakar gedung perpustakaan telah memberi banyak kesengsaraan bagi masa depan yang sedang dibangun oleh Kaisar Ning Tsung. Ilmu pengetahuan, pengobatan dan masih banyak lagi yang tertuang dalam kulit-kulit binatang dan kertas hampir seluruhnya terbakar. Kebakaran yang melanda gedung perustakaan itu seolah-olah menjadi cermin bahwa Kerajaan Tiongkok akan mengarungi masa kegelapan.

Dalam banyak hal, ia akan bersikap seperti Dewi Kwan Im. Akan tetapi, satu sisi wajahnya akan tampak seperti Wu To Gui yaitu dedemit tanpa kepala yang menjelajah banyak tempat tanpa tujuan. Keberadaan seseorang yang berwatak seperti Wu To Gui ini sudah pasti akan menimbulkan kengerian bagi mereka yang tidak paham. Dia dapat menakutkan bagi orang awam atau orang yang polos pikirannya ketika melihat wujudnya. Sehingga dengan keawaman itu, orang-orang dapat saja dengan mudah menganggap Wu To Gui seperti dewa kematian yang harus dihormati.

Dan juga sudah menjadi watak dasar manusia jika ia terkungkung dalam ketakutan, maka lebih sering ia akan bertindak tanpa diikuti oleh sedikitpun nalar sehat. Jika demikian, satu Wu To Gui akan melahirkan Wu To Gui lagi lebih banyak. Kao Sie Liong lalu meremang saat ia mengingat pelajaran yang ia serap dari gurunya.

Pikirannya yang berkecamuk ternyata menjadikannya agak lengah. Tubuh Toa Sien Ting yang telah terbungkus oleh putaran rantai, tiba-tiba meluncur menerjang ke depan. Kepalan kirinya menghantam kepala Kao Sie Liong dan cambuknya melecut mendatar merobek lambung jenderal muda kepercayaan Kaisar Ning Tsung. Kao Sie Liong telah mempersiapkan dirinya dengan kuda-kuda yang kokoh seperti batu karang sama sekali tidak menggeser tubuhnya.

Satu putaran tombak yang dilakukan Kao Sie Liong menyambut terjangan Toa Sien Ting. Lawannya itu terperangah. Ia merasakan kedua lengannya gemetar. Tubuh Toa Sien Ting terpental surut. Lututnya terasa tergetar dan kesemutan luar biasa. Hampir saja ia roboh berlutut di hadapan Kao Sie Liong. Nyatalah baginya kini ketinggian ilmu jendral muda yang disegani kawan maupun lawan dari dunia hitam.

Nama besar Kao Sie Liong yang di negerinya sendiri lebih dikenal sebagai Ekor Naga Hitam benar-benar menjadikannya jerih. Tindak tanduk Kao Sie Liong dalam menjaga keamanan ibarat ekor panjang dari naga besar. Ia mengibaskan setiap rintangan, meremukkan setiap gangguan dan terkadang mematahkan setiap gerakan yang menyimpang dari kerajaan.

Tinggalkan Balasan