Bara di Borobudur – Kao Sie Liong 5

Mata Toa Sien Ting menatap Kao Sie Liong dengan nanar. Sejuta rasa berkecamuk dalam benaknya. Lalu ia menyapukan pandangan melihat Chow Ong Oey berada di tengah kepungan para pengawal lapis kedua gedung perpustakaan. Tombak Chow Ong Oey berkelebatan menutup tubuhnya dari serangan  para pengawal. Ia berloncatan sangat cepat dan terkadang bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata pengepungnya. Semakin lama kepungan pengawal semakin melebar. Mereka bukan lawan yang sebanding dengan Chow Ong Oey meskipun berjumlah lebih banyak.

Tiba-tiba satu bayangan berkelebat melayang diatas kepala para pengawal, lalu menjejakkan kaki di tengah-tengah kepunga. Para pengawal itu kemudian menarik nafas lega. Kini di hadapan mereka telah hadir seorang pembantu Kao Sie Liong. Seorang lelaki muda yang bertubuh sedang dan raut muka yang menunjukkan ketegasan. Tatap mata yang tajam dan tenang itu menarik perhatian Chow Ong Oey.

Lelaki muda yang berpakaian perang dan kelihatan gagah perkasa itu sudah tentu bukan prajurit biasa. Ia adalah salah satu pembantu terpercaya dari Kao Sie Liong. Di kalangan pengawal, anak muda itu mendapat julukan Putra Naga Langit. Karena kekuatan dan ketangkasannya dalam banyak pertempuran telah memberinya julukan seperti itu.

“Memang sebaiknya aku sendiri turun tangan mengusirmu, Ketua Chow. Sebenarnya apa sulitnya untuk menangkapmu dan membasmi kelompokmu sebagai pemberontak?” tanya lelaki muda dengan penuh kegagahan.

“Perwira muda Zhe, tentu engkau sudah tahu tentang siasat dalam peperangan. Ada saatnya terbaik untuk menyerang, ada pula saatnya mundur dan ada saatnya untuk menanti kesempatan baik. Malam ini adalah satu siasat yang baik untuk menyerang dan mengepung istana. Jadi, sudah jelaskah bagi kalian jika malam ini kalian semua akan menemui dewa kematian?”

Sebenarnya Chow Ong Oey merasakan kegelisahan yang menyesakkan dadanya. Betapa ia melihat Toa Sien Ting terdesak oleh serangan Kao Sie Liong, sedangkan para pengikutnya juga mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda dengannya.

“Chow, kau dan kelompokmu telah mengambil sikap bermusuhan dengan kaisar. Sekarang aku minta engkau untuk menyerah. Mata-mata kaisar telah mendapatkan petunjuk arah kemana kalian akan bergerak membawa negara ini.”

Perwira muda Zhe Ro Phan adalah orang yang berpendirian keras. Ia tidak suka berkata terlalu lama dan berbelit. Demikian ia mengatupkan bibirnya, tubuhnya menerkam Chow Ong Oey. Sebatang golok yang cukup besar tiba-tiba berada di dalam genggamannya. Sinar berkilat bergulung-gulung susul menyusul menghantam Chow Ong Oey dari delapan penjuru angin. Perwira muda dalam beberapa jurus berhasil mendesak lawannya.

Chow Ong Oey tidak ingin dirinya ditundukkan dengan mudah maka ia cepat mundur. Dengan memutar tubuhnya satu putaran penuh, ia menebaskan tombaknya ke perut Zhe Ro Phan. Perwira  Zhe sudah memperhitungkan serangan balasan ini maka ia dengan cekatan melontarkan tubuhnya ke belakang. Perwira Zhe merupakan salah satu dari anak buah Kao Sie Liong yang mempunyai kecepatan gerak yang sangat mengagumkan. Tiba-tiba saja secepat anak panah, ia kembali menyambut bahaya yang dikirim oleh Chow Ong Oey. Golok besar perwira Zhe bergulung-gulung menutup setiap serangan Chow Ong Oey. Chow kongcu hanya dapat menghindar dengan memutar tombaknya lebih cepat sepenuh tenaga.

Satu bentakan yang sangat keras menggetarkan jantung Chow Ong Oey, ia sedikit lengah. Entah darimana datangnya, satu tusukan golok yang mendadak telah menyusup melalui celah yang terbuka di bawah putaran tombaknya mengarah ke ulu hati.

Meskipun Chow Ong Oey sangat terkejut dengan tusukan golok itu, ia masih mempunyai kesiagaan yang cukup untuk meloncat mundur. Pengalaman Chow Ong Oey telah menuntunnya untuk melihat sisi yang terbuka pada bagian dada ZHe Ro Phan. Ia kemudian menebaskan tombaknya ke dada perwira Zhe. Meskipun goloknya terlambat untuk ditarik kembali, perwira Zhe cukup lihai untuk menggeser kakinya ke kanan dan memiringkan tubuhnya. Tebasan tombak itu luput dan hanya melewati bagian kosong. Perwira Zhe lantas menggulingkan tubuhnya, lalu bangkit dan menyusulkan serangan dengan tebasan mendatar menyilang bertubi-tubi susul menyusul.

Tinggalkan Balasan