Fiksi Mini : Selalu Berduri

Aku menatap hamparan mawar yang bertabur bahagia memamerkan rekah kelopak. Merah menyala tergelar seperti permadani mahal penghias istana raja. Sungguh pemandangan yang memukau mata, sekaligus ….

“Mas! Aku cari-cari, eh ternyata di sini.”

Dini, kekasihku, pun bergelayut manja di lengan kiriku.

“Panen mawar kita. Bersiap menghias rumah dengan warna merah menyala, plus wangi! Kapan kita potong mawar-mawar itu, Mas?”

“Besok saja, sekalian memupuknya. Sekarang kita masuk ke rumah, aku sudah siapkan makan malam. Hidangan spesial, buat kamu, dan calon bayi kita.”

Lalu kami berjalan menuju villa milikku. Menggandeng erat Dini dengan perasaan tak karuan. Harusnya ini liburan yang menyenangkan. Menuju pegunungan, bermalam menghabiskan waktu penuh cinta, dan kami akan panen mawar.

Tapi semua hancur berantakan, ketika pagi ini dalam perjalanan menuju villa, Dini memberi kabar yang mengejutkan.

“Aku hamil, Mas.”

Seketika, dia telah berubah menjadi sosok yang menjijikkan. Emosi meluap dalam diamku.

Malam ini, untuk yang ketiga kalinya, aku harus menyiapkan diri memanen mawar merah berduriku, lalu memupuknya.

Ah, kebun mawarku. Setelah Alya, Lusi, dan sekarang Dini yang menjadi pupukmu.

Kepalaku menjadi berat ketika terngiang hasil tes beberapa tahun lalu.

“Nono, kamu mandul. Kamu tidak bakal bisa punya keturunan!”

Rasanya aku muak berhadapan dengan wanita-wanita menjijikkan! Mengaku setia, tapi hanya sederetan khianat yang mereka berikan padaku. Ingin kuludahi muka wanita yang bergandeng tangan denganku.

Lebih baik aku fokus pada mawar-mawarku. Meski mereka berduri, tapi tidak akan pernah melukai harga diriku.

 

Tinggalkan Balasan