Jerat Asmara Kenasem

Untuk mengatur segelintir manusia yang hidup di jagat asem, Batara Asem meminta Ki Gede Semasem untuk memikirkan tatanan yang mapan.

Maka dimulailah berpikir keras dan kerja keras oleh Ki Gede Semasem. Setiap suara dari segelintir nyawa mulai diperhatikan. Akan tetapi sejauh pelemparan kerikil agaknya kegelisahan mulai menerjang Ki Gede Semasem. Kenangan buruk menyapa Ki Gede Semasem.

“Ki Gede, saya mau tanya satu perkara. Boleh?” tanya Kenasem.

“Jika aku pandang penting, pasti aku jawab,” jawab Ki Gede teringat kenangan masa lalu yang asem. Kenangan asem itu kini berubah wujud menjadi wanita molek berambut putih. Kulit Kenasem masih seperti remaja usia belasan tahun. Tubuh yang padat berisi menggoda setiap mata yang memandang. Lekuk pinggang dan bagian depan sebelah atas seolah membawa kabar berita untuk mengundang hawa panas untuk datang.

“Benarkah dulu pernah ada raksasa yang bertangan panjang dan selalu diselimuti kabut asem warna hitam?” selidik Kenasem sambil menyingkap sedikit kain yang menutup pahanya. Sudut mata Kenasem melirik nakal wajah Ki Gede yang mulai benderang tertimpa kilau pantulan dari bawah.

Ki Gede menundukkan wajah. Ia menghindari tatap mata Kenasem yang menggetarkan dadanya.

Kenasem menarik kursinya lebih mendekat. Dengan tangan bersedekap, sedikit bagian atasnya dapat memasuki sudut mata Ki Gede. Ki Gede merasakan tubuhnya terguncang, keringat dingin mulai membasahi leher dan keningnya.

“Makhluk itu tidak pernah ada,” jawab Ki Gede kemudian.

“Tapi Ki Gede,” sahut Kenasem,”aku mendengar ia tinggal di sebuah candi. Orang banyak menyebut candi itu sebagai Candi Alangasem.” Kenasem merendahkan tubuhnya, bagian atasnya seperti memancarkan pamor berkilauan. Keringat yang juga membasahinya perlahan membuat nafas Ki Gede tidak beraturan. Udara terasa panas di dalam ruangan yang sebenarnya cukup dingin. Sebuah AC berkapasitas 2 PK ternyata belum mampu menyejukkan hati Ki Gede.

“Lalu apakah kau akan bersamaku lagi?” tanya Ki Gede.

(Pak tua sudahlah, kamu sudah letih dan lelah)

Kenasem menganggukkan kepala. Ia melirik lukisan yang menempel dinding. Lukisan itu berubah menjadi kabut asem yang perlahan merayap sekujur hati Ki Gede Semasem.

Ki Gede tepok jidat. Plak!

Ia tahu jika Kenasem ternyata memilih anaknya, Murtasem.

“Hmm..katakanlah jika Murtasem dapat menyelinap masuk ke setiap alam bawah sadar dan mimpi rakyat Witasem, aku akan kembali,” pikir Ki Gede Semasem berangan. Ia tersenyum sendiri.

Lalu Ki Gede memandang sebuah cermin mematut dirinya. Satu operasi kecil seharga semangkuk bakso ternyata dapat memberi rasa nyaman di wajahnya. Kenasem mendekatinya dan memeluk rapat Ki Gede dari belakang. Bergumpal-gumpal kehangatan menyusup melalui punggung Ki Gede. Melalui cermin, ia melihat tubuh Kenasem ternyata berubah menjadi nenek bertubuh kering dengan rambut yang mulai jarang berbaris rapi. Pada saat itu Kenasem tersenyum ke arahnya melalui cermin.

(tet tet, gigi nenek tinggal dua)

Ki Gede kembali tepok jidat. Plak! Palak!

Ketika terucap mantra sakti dari bibirnya ‘palak’ muncul seekor kumbang entah dari mana datangnya. Senyum manis kumbang pun memancar mengembang bak sekuntum mawar yang merekah di bulan April. Sayap-sayap kumbang telah patah, akan tetapi kumbang itu bukan sembarang kumbang. Kumbang itu berasal dari hutan di sekitar Candi Alangasem. Sebuah kekuatan sebesar 420 tenaga kuda mendengung dari mulut kumbang yang masih basah oleh getah dari pohon nangka dan karet.  Kehidupan di hutan sekitar bangunan tua itu memang unik. Pohon yang tumbuh pun berasal dari karet, air yang mengalir pun juga bisa melar molor seperti karet.

Kumbang itu hinggap di ujung telinga Ki Gede. Dengung suara kumbang terdengar merdu di dalam gendang telinga Ki Gede. Sebaris syair dirasakan oleh Ki Gede seperti secangkir kopi pahit di pagi hari.

Marang Gusti Kang Maha Suci (Kepada Yang Maha Suci)

Panyuwunku amung siji (Permohonanku hanya satu)

Saking teja ingkang abrit nganti padange rembulan (dari fajar berwarna merah hingga bulan bersinar terang)

Aku ora bakal iso merem ingkang lerem (Aku tidak bakal dapat tidur dengan nyenyak)

Aku isih pingin njiwiti daradana (aku masih ingin korupsi)

Mesem bebarengan Kenasem (Tersenyum bersama kenangan masa lalu)

Tanganku iso gandeng tangane (Kekuasaanku dapat memanjangkan duitku hingga ke tangan mereka)

Tresnoku marang duit kepalang tuo kulite (cintaku pada uang terlanjur abadi selamanya)

Pati ku mugo dadi dalan nyimpen kuncine (semoga kematianku dapat menyimpan kunci gudang uang)

https://ticjepara.com/index.php/kumpulan-berita/item/208-wayang-kulit
https://ticjepara.com/index.php/kumpulan-berita/item/208-wayang-kulit

Pada saat kidung asem terlantun di dalam gendang telinganya, Ki Gede memandang wajah Kenasem. Dari telinga, hidung dan bagian tubuhnya yang berlubang mengeluarkan asap tipis. Perlahan Kenasem kabur dari penglihatan dan kemudian lenyap tanpa bekas.

“Ah!” seru Ki Gede dan tepok jidat ketiga kalinya. Palak! Palak! Palak!

Tinggalkan Balasan