Toh Kuning- Jalur Banengan 6

Ki Ranu Welang membentak sangat keras, tubuhnya meluncur melebihi anak panah yang terlontar dari busurnya. Akan tetapi serangan Ki Ranu Welang ternyata membentur pertahanan Ki Jawani yang sempat menutup celah terbuka di bagian atas perutnya. Dua tenaga inti yang bekekuatan dahsyat saling bertabrakan dan Ki Jawani gagal menjaga keseimbangan tubuh sehingga ia terdorong jatuh. Ki Ranu Welang tidak menghentikan serangannya, meski ia sempat terhuyung-huyung namun dengan cekatan ia mengembalikan keseimbangan dan kembali melepaskan terjangan membadai. Dua serangan berturut-turut itu tidak mampu ditahan oleh Ki Jawani, untuk kedua kalinya ia terlempar dan bergulingan lalu pingsan.

Kekalahan para pengikutnya dan tumbangnya Ki Jawani diketahui oleh Ki Selaksa Geni. Secara mendadak ia meningkatkan gelombang serangan. Satu tinju darinya mengenai pundak Toh Kuning dan anak muda itu meloncat surut. Kesempatan itu segera digunakan Ki Selaksa Geni untuk melompat panjang dan menjauh, ia berseru nyaring,” Peristiwa ini akan segera diketahui oleh Mahesa Wunelang!” Mahesa Wunelang adalah sebuah nama yang ditakuti oleh para penjahat yang tersebar di lereng-lereng Gunung Kelud, Penanggungan dan Arjuna hingga sepanjang Kali Brantas. Setiap pemimpin penyamun akan berpikir ulang jika mengetahui kehadiran Mahesa Wunelang dan pasukannya berada di sekitar mereka.

Dan memang seperti yang dikatakan oleh Ki Selaksa Geni, maka peristiwa itu telah tiba di kotaraja tidak lama kemudian.

“Gubah Baleman! Dua pekan berlalu tanpa kemajuan yang dapat kau laporkan padaku,” berkata Sri Baginda Kertajaya pada suatu ketika.

“Baginda, kami kesulitan untuk mengungkap orang-orang yang berada di balik gangguan-gangguan yang sering terjadi di lereng Arjuna. Mereka sama sekali tidak berbuat jahat, bahkan mereka pun tidak membahayakan nyawa para pedagang atau orang lainnya,” berkata Gubah Baleman, seorang perwira yang berperawakan tinggi dan bentuk tubuh yang menggambarkan kehebatan ilmunya.

“Lalu bagaimana penjelasanmu tentang gardu-gardu jaga yang berisi prajurit yang terikat kaki tangannya? Seharusnya kekuatan yang kau miliki serta jumlah prajurit yang berada di bawah perintahmu tidak dapat dikalahkan begitu saja oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini,” Sri Baginda Kertajaya berkata dengan nada tinggi dan agaknya ia masih menahan kegusaran dalam hatinya. Ia menambahkan,” Bahkan aku telah mengirim prajurit sandi untuk mengamati secara khusus setiap jengkal wilayah itu, hingga akhirnya aku mendapatkan laporan jika perbuatan itu hanya dilakukan oleh dua orang yang agaknya masih muda. Kau telah mempunyai berita itu atau kau telah berada di belakangku?”

Gubah Baleman mendengus marah. Ia merenung sejenak untuk menyusun jawaban, lalu ia berkata,”Aku telah mengetahui keberadaan mereka sejak lama, Baginda. Sepertinya mereka berdua telah mengamati kegiatan-kegiatan dan waktu yang telah ditetapkan untuk dilakukan perondaan. Karena itulah mereka akhirnya dapat memanfaatkan setiap ruang dan waktu saat pergantian petugas ronda.”

“Aku dengarkan,” Sri Baginda Kertajaya berkata dengan suara lebih rendah.

“Aku yakin jika mereka adalah anak muda yang mempunyai kelebihan dalam menggunakan nalar. Yang menjadi pertanyaan bagiku adalah mereka tidak pernah membawa kerugian harta benda bagi para pedagang atau rombongan-rombongan yang lain” Gubah Baleman menggelengkan kepala karena masih belum mengerti alasan kedua anak muda yang sering mengusik ketenangan di jalur Arjuna.

“Apakah kau telah mendatangi beberapa perguruan yang berada di daerah itu?” Mahesa Wunelang bertanya dengan pandang mata yang sangat tajam.

“Aku belum merasa perlu untuk mendatangi setiap perguruan, Ki Panji,” Gubah Baleman menjawabnya dengan wajah tertunduk. Ia seperti berada dalam keadaan tersudut dalam pertemuan pada siang itu.

 

Kisah Toh Kuning telah tersedia dalam bentuk digital. 

Untuk pembelian dapat menghubungi langsung melalui WA di nomer 0813 5760 9831

Tinggalkan Balasan