KKG – Jati Anom Obong 1

Agung Sedayu dan Swandaru pun tak lama kemudian tiba di tepi Kali Progo. Seorang tukang satang yang mengenakan ikat kepala lurik mengawasi mereka dari kejauhan namun ia tak menghampiri dua orang murid Kiai Gringsing itu.

“Sekarang tiba giliranmu,” berkata seorang kawannya.

Lelaki berikat kepala itu menggeleng, katanya,”Ambillah untukmu. Kau seharusnya mendapat upah tambahan karena istrimu akan melahirkan sebentar lagi.” Dingin wajah lelaki itu sambil terus menatap Agung Sedayu serta Swandaru dengan pandangan beku,

Dan kemudian tukang satang pun mendorong rakitnya mendekati dua penunggang kuda yang akan menuju Kademangan Sangkal Putung. Dalam pada itu, Swandaru tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Nyaris saja rakit itu terbalik saat Swandaru begitu saja menghentak lambung kuda menaiki rakit kayu yang dapat memuat beberapa ekor kuda. Namun Agung Sedayu begitu sigap dengan melompat ke bagian yang lain untuk memberi keseimbangan agar tidak berat sebelah. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam dan menggeleng melihat perbuatan adik seperguruannya itu.

Setelah kuda Agung Sedayu yang dituntun oleh seorang penumpang yang lain, maka rakit pun mluncur melintasi permukaan air Kali Progo yang terlihat tenang.

“Terima kasih, Ki Sanak,” senyum Agung Sedayu sambil menerima tali kuda.

“Sesuatu yang wajar, Ki Rangga,” sahut orang yang menuntun kudanya. Meskipun terkejut, tetapi Agung Sedayu dapat mengendapkan perasaannya sehingga tidak terlihat keheranan pada raut mukanya.

Lalu,”Adakah aku pernah bertemu dengan Ki Sanak?” Agung Sedayu bertanya.

“Namaku Ki Prayoga,” jawab lelaki itu mengenalkan diri,”Kita belum pernah bertemu tetapi aku pernah melihat Ki Rangga bersama pasukan khusus melintasi pedukuhan kami ketika Ki Rangga menuju ke pesisir utara.”

Agung Sedayu mengerutkan kening. Perjalanannya ke Demak telah berlalu begitu lama dan lelaki didepannya masih mengingat dirinya dengan baik. Ia mengangguk pelan kemudian,”Maafkan aku, Ki Prayoga. Aku tidak memperhatikan keadaan sekitarku pada saat itu.”

“Ah, lupakan Ki Rangga. Setiap orang mungkin akan mengalami keadaan seperti yang dialami oleh Ki Rangga sendiri karena perhatian Ki Rangga tentu tertuju pada tugas yang sedang diemban,” sambil tersenyum Ki Prayoga berkata.

Percakapan itu memang tidak menarik perhatian Swandaru Geni. Berulang kali terdengar desah dari bibirnya. Agaknya ia tidak dapat bersabar dengan laju rakit yang dirasa olehnya terlalu pelan. Sekali lagi ia menengadahkan wajah. Bagi Swandaru pada saat itu, matahari begitu cepat bersembunyi di balik punggung bukit. Semurat merah telah membayang dari puncak Merapi ketika pandangannya beralih kea rah puncak Merapi.

“Apakah kau begitu lemah sehingga kau tak lagi mampu mendorong rakit ini lebih kuat?” bertanya gusar Swandaru pada tukang satang. Ia pun merebut galah panjang dari tangan tukang satang lalu menggerakkannya dengan tidak sabar untuk mencapai bagian seberang yang berjarak lebih dari setengah perjalanan.

Di dalam perjalanan itu, Ki Prayoga  bertanya pada Agung Sedayu,”Apakah Ki Rangga masih sering melakukan perjalanan ke Sangkal Putung?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Perhatiannya masih tertuju pada Swandaru yang mengeluarkan kata-kata sedikit kasar pada tukang satang. Kemudian,”Tidak seperti di masa lalu, Ki Prayoga. Terkadang dapat dikatakan sering, namun juga hingga beberapa waktu lamanya tidak mengunjungi Sangkal Putung.”

“Aku pun tak lagi pernah datang ke tanah yang sebenarnya sangat indah dipandang mata.”

“Daerah yang sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal.”

Ki Prayoga berpaling pada Agung Sedayu. Lalu,”Bukankah di Tanah Perdikan telah memberi segalanya bagi Ki Rangga?”

Sambil menarik nafas panjang, Agung Sedayu menggetarkan bibirnya,”Tentu saja. Keberadaan Tanah Perdikan tidak dapat diabaikan begitu saja.”

“Aapakah Ki Rangga berkeinginan untuk kembali ke Sangkal Putung atau mungkin akan menghabiskan masa di Jati Anom?”

“Kita bicara terlalu dalam, Ki Prayoga.”

Ki Prayoga tajam menatap wajah Agung Sedayu untuk sesaat, lalu ia mengalihkan pandangan. Ia tahu bahwa senapati Mataram itu tidak ingin dirinya memasuki wilayah pribadi, tetapi satu hal yang dianggapnya penting memaksanya untuk terus bertanya pada Agung Sedayu.

“Tidak ada salahnya kita mencoba membuat suatu bayangan tentang masa depan, Ki Rangga. Setidaknya itu akan memberi kita panduan agar tetap mampu menatap masa depan. Terlebih aku telah menyaksikan asap hitam kebakaran saat aku berada di sebuah pasar sebelah timur kademangan induk.”

Agung Sedayu menganggukkan kepala, ia dapat menerima alasan Ki Prayoga bahkan ia sendiri telah mempunyai rencana yang belum pernah ia ungkapkan pada Sekar Mirah. Tanpa praduga buruk, Agung Sedayu kemudian bertanya,”Darimanakah asal Ki Prayoga?” Agung Sedayu sedikit terusik dengan asal Ki Prayoga.

Ki Prayoga tidak segera menjawab pertanyaan itu. Sedikit ia mengerutkan kening karena ia tidak menduga bila tiba-tiba pemimpin pasukan khusus Mataram itu tiba-tiba bertanya.

“Padukuhan Dawang.”

Agung Sedayu menautkan alisnya, lalu,”Aku ingat tempat itu.” Sebuah peristiwa ketika kelompok kecilnya secara mendadak diserang oleh murid-murid padepokan yang berpihak pada Demak.

Sejenak ia berpikir ulang tentang orang yang berdiri sebelah menyebelah dengannya dan mengaku bernama Ki Prayoga. Tajam ingatan Agung Sedayu seperti mengingatkan bahwa sebenarnya pedukuhan itu terletak cukup jauh dari tempat pertempuran antara pasukannya dengan orang-orang padepokan. Kecurigaan mulai merambati hati Agung Sedayu, namun ketika ia berpaling pada Swandaru maka yang terlihat olehnya adalah adik seperguruannya terlihat sedang berusaha keras mempercepat laju rakit.

1 tanggapan pada “KKG – Jati Anom Obong 1”

  1. Pingback: PTB – Merebut Mataram 9 – Republik Witasem

Tinggalkan Balasan