KKG- Jati Anom Obong 2

Agung Sedayu dapat menangkap getar keraguan dari nada Ki Prayoga, lalu ia berkata lagi,”Ki Prayoga tentu orang yang mempunyai kemampuan lebih. Aku dan pasukanku hanya melintas pedukuhan itu dalam sekali waktu dan itu kami lakukan dengan menggunakan jalur yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa Ki Prayoga bukan orang biasa.”

“Aku tidak berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, Ki Rangga.”

“Mendengarmu menyebut pasar di Tanah Perdikan, aku tidak melihatmu membawa barang untuk diperdagangkan,” kata Agung Sedayu dengan nada rendah lalu,”seperti apakah barang yangditawarkan oleh Ki Prayoga pada orang-orang di Kademangan Sangkal Putung?”

“Aku bukan pedagang seperti kebanyakan orang, Ki Rangga.”

Kening Agung Sedayu mengerut. Tetapi ia tidak langsung memandang wajah Ki Prayoga, lalu lawan bicaranya kembali bersuara,”Aku mempunyai pekerjaan yang panjang untuk diselesaikan.”

Agung Sedayu tidak berkata apapun pada saat itu. Untuk beberapa saat kemudian, Ki Prayoga berkata lagi,”Aku datang ke Tanah Perdikan untuk melihat sebidang pategalan yang menurut kabar sedang mencari penawar tertinggi. Dan apabila kau ingin tahu alasanku datang ke Sangkal Putung adalah aku juga ingin melihat beberapa ekor kuda yang kabarnya cukup istimewa dan dimiliki seseorang yang berkedudukan tinggi di kademangan itu.”

“Bukankah di Mataram juga banyak kuda yang tegar dan merupakan kuda pilihan, Ki Sanak,” sahut Swandaru yang agaknya tertarik ketika Ki Prayoga menyebut tentang kuda.

“Ia adalah Swandaru,” kata Agung Sedayu yang melihat sorot mata ingin tahu dari Ki Prayoga.

“Benar, Ki Swandaru,” kata Ki Prayoga kemudian,”Mataram merupakan tempat banyak kuda pilihan tetapi aku masih mempunyai pilihan yang lain di luar Mataram.”

“Dan kau kira itu adalah Sangkal Putung?” tanya Swandaru.

Ki Prayoga menggelengkan kepala, lalu,”Bukan sebuah perkiraan tetapi kepastian. Awalnya adalah sebuah pertaruhan tetapi setelah Ki Rangga menyebut namamu, maka aku tahu bahwa kuda pilihan yang ada di Sangkal Putung adalah satu kepastian.”

“Aku belum mengerti maksudmu. Mengapa kau berkata bahwa ada satu kepastian di Sangkal Putung tentang kuda?” tanya Swandaru.

Ki Prayoga tersenyum kepada Swandaru. Ia bergeser selangkah lalu,”Tidak seorang pun dari pecinta kuda yang tidak mendengar nama Ki Swandaru Geni sebagai orang yang hebat tentang kuda selain para pangeran Mataram?”

Hidung Swandaru sedikit mengembang. Lantas katanya,”Apakah kau mengira bahwa aku akan melepas kuda itu dengan harga yang diluar jangkauanmu?”

“Tidak!” jawab cepat Ki Prayoga. Selangkah maju ia lebih dekat pada Swandaru Geni. Kemudian dengan tenang ia berkata,”

“Kami telah mendengar nama Ki Swandaru sejak lama. Bahkan kami pun mengetahui hubungan yang terjadi antara Ki Swandaru dengan Ki Ambara,” ucapan Ki Prayoga mengagetkan kedua orang murid Kiai Gringsing. Namun sepertinya Ki Prayoga tidak memberi kesempatan pada mereka untuk berpikir lebih panjang, ia terus berkata,”Dan kami juga mengetahui akhir dari perkenalan itu.”

Ki Prayoga berhenti sejenak sambil memandang bergantian dua orang yang berusia lebih muda sedikit darinya. Sekejap kemudian ia kembali menggetarkan bibir,”Tetapi aku tidak ingin memaksa Ki Swandaru untuk melepas kuda-kuda pilihan yang banyak dibincang  oleh orang-orang Mataram. Tidak!  Justru kepergianku ke Sangka Putung yang terutama adalah bertujuan untuk mengabarkan bahwa peristiwa besar akan kembali terulang.”

Ki Rangga Agung Sedayu memandang Swandaru yang terlihat sedikit tegang. Dua rahang Swandaru tampak mengeras, namun ia seperti tidak mempedulikan tatap mata kakak seperguruannya. Lalu Agung Sedayu bertanya,”Sebenarnya aku belum mengeti maksud sebenarnya dari Ki Prayoga. Tetapi jika Ki Prayoga menyinggung nama Ki Ambara lalu berkata tentang sebuah pengulangan dari satu peristiwa besar, apakah ini berarti  Ki Prayoga adalah seorang duta dari mereka yang akan memulai sebuah gerakan?”

Sambil memandang raut wajah Agung Sedayu dengan tatap mata tajam, Ki Prayoga balik bertanya,”Apakah kalian tidak mendengar orang yang disebut-sebut oleh pengikutnya sebagai Panembahan Tanpa Bayangan?”

“Panembahan?” Alis Agung Sedayu saling bertaut, lalu,”Hanya ada satu Panembahan Mataram.”

Ki Prayoga lantas bersedekap dan berkata dengan dada sedikit terangkat,”Aku membawa berita penting dan lebih dahulu menyampaikannya pada kalian lebih cepat dari para petugas sandi Mataram.”

Agung Sedayu belum mempunyai dugaan tentang sosok yang disebut sebagai Panembahan Tanpa Bayangan oleh Ki Prayoga. Pada saat itu, satu pertanyaan tampak membersit dari sorot mata Swandaru, sejenak ia berhenti menggerakkan galah lalu,”Ki Prayoga, apakah Ki Prayoga sedang tidak membuat percakapan bohong pada kami?”

“Aku mendengarnya dan berkata itu pada kalian karena aku mendengar bahwa telah terjadi keributan kecil di Mataram,” kata Ki Prayoga seolah tidak mengacuhkan pertanyaan Swandaru Geni.

“Hentikan bicaramu, Ki Prayoga!” geram Swandaru yang merasa seperti dipermainkan oleh Ki Prayoga.

“Aku mengerti apa yang sedang aku bicarakan, anak lelaki Ki Demang Sangkal Putung!” sahut Ki Prayoga yang semakin membuat dada Swandaru makin bergemuruh.

Tinggalkan Balasan