KKG – Jati Anom Obong 4

Pada saat Tanah Perdikan Menoreh tengah dilanda kebakaran dan Sangkal Putung dalam keadaan kosong, Sayoga harus meladeni dua orang pengikut Raden Atmandaru yang berilmu tinggi. Sayoga berloncatan mengelak serangan yang trengginas dan mengurungnya dari segala penjuru.

Ki Sarjuma tidak memberi kesempatan pada lelaki muda yang mendekap ilmu Serat Waja untuk membalas serangan, bahkan ia seperti tidak memberi kesempatan Sayoga untuk bernapas. Sementara Ki Malawi dengan lincah dan cekatan  menutup setiap celah yang ditinggalkan oleh kawannya, maka dengan demikian Sayoga benar-benar dalam keadaan bahaya.

“Aku tidak mungkin akan membiarkanmu hidup, anak muda!” kata Ki Sarjuma dengan kaki terjulur mengarah pada lambung Sarjiwa. Sarjiwa menggeliat cepat seraya memutar lengannya untuk menepis punggung tangan  Ki Malawi.

“Pemimpin kami telah mengajarkan pada kami arti sebuah kerja sama,” sahut Ki Malawi. “Panembahan kami memberi kami perkenan untuk merampas harta setiap orang yang menentang kami. Bahkan kami pun diizinkan untuk mengambil perempuan yang telah bersuami. Tidak ada larangan dari pemimpin kami.”

“Bahkan kami berdua terkadang mendapat hadiah berupa wanita muda dari Panembahan, bukan begitu Ki Malawi?” derai tawa Ki Sarjuma menjadikan kulit Sayoga meremang.

Sebagai seorang anak yang tumbuh berkembang dalam pengajaran Ki Wijil, Sarjiwa banyak menyerap pengertian tentang hubungan dengan orang lain. Pengertian mengenai budi pekerti pun disampaikan oleh Nyi Wijil tanpa melewatkan satu contoh yang baik dan buruk.  Bahkan dalam benturan besar melawan orang-orang Perguruan Kedung Jati, Sayoga secara sadar telah melepaskan seorang lawannya hanya karena senjata lawannya terlepas dari genggaman. Pada saat itu, ia segera beralih menyerang seorang putut yang sedang terlibat dalam pengeroyokan salah seorang senapati dari pasukan Untara.

Di tengah gempuran tanpa henti dari dua orang lawannya, Sayoga telah membuat satu keputusan penting bahwa ia tidak boleh memberi kelonggaran pada mereka berdua. Menurutnya, kebebasan dua orang dalam berbuat telah berada di luar batas nilai kewajaran.  Maka ketika Ki Malawi meloncat dengan tendangan yang berputar-putar, Sayoga cepat membalas dengan kaki yang terayun lurus menggedor dada Ki Malawi.

Tetapi tendangan Sayoga tidak mengenai sasaran, bahkan dada Sayoga nyaris tersentuh lengan Ki Sarjuma yang  menyambar cepat ketika pertahanan Sayoga terbuka lebar. Taka da pilihan lain bagi Sayoga selain menjatuhkan diri dan bergulingan menjauh. Meskipun keseimbangan belum dapat tergapai sepenuhnya, namun sejauh itu Sayoga masih mampu melindungi tubuhnya dari sentuhan-sentuhan Ki Sarjuma dan Ki Malawai. Sayoga melompat bangun lantas cepat memperbaiki keadaannya dan siap untuk melanjutkan perkelahian.

“Kau mempunyai ilmu yang memadai, anak muda,” berkata Ki Sarjuma,”Kau mungkin akan lebih lama bertahan dari perkiraanku. Tetapi, kau wajib untuk tahu, bahwa kau tidak akan pernah mampu merangkak hingga batas Tanah Perdikan.”

Dengan tangan bersilang di depan perut, Sayoga berkata,”Ini bukan masalah tentang kedatanganku di Tanah Perdikan.”

Ki Malawi mengerutkan kening. Tanyanya,”Lalu tentang apa?”

“Sepertinya aku harus berkata kasar padamu, orang tua.”

Ki Malawi tergelak karena ucapan Sayoga. “Mengumpatlah selagi lidahmu belum keluh, anak muda!”

Menyadari kedudukannya yang tidak leluasa, Sayoga menarik tongkat pendek yang berbentuk seperti pedang dari pinggangnya.

“Setan!” Sayoga menerjang Ki Malawi sambil memutar pedang kayunya. Dengan senjata yang unik, Sayoga mencoba melepaskan diri dari tekanan dua orang pengeroyoknya. Tetapi lawan Sayoga bukan orang yang mudah untuk dikuasai, mereka mengimbangi serangan Sayoga dengan gerak tubuh yang begitu cepat. Sebenarnya Sayoga belum beranjak dari olah gerak yang mendasar dari apa yang diajarkan oleh ayahnya, Ki Wijil, namun pedang kayu Sayoga ternyata mampu mempengaruhi jalannya perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah dan ilmu.

“Kita membuang waktu terlalu lama, Ki Malawi!” seru Ki Sarjuma yang kesulitan untuk mendekati Sayoga.

“Aku serahkan padamu, Ki!” sahut Ki Malawi seraya meloncat surut menghindari tebasan mendatar pedang kayu Sayoga. Mereka berdua nyaris bersamaan bergeser mundur dan meloloskan senjata masing-masing.

“Sebenarnya aku sangat menyayangkan bila kau harus berakhir pada usia muda, anak  dungu!” Ki Malawi menutup ucapannya dengan bentakan panjang menerkam Sayoga dengan putaran rantai yang bermata trisula.

Ki Sarjuma berlari kecil memutari Sayoga lalu menyerang bagian belakangnya dengan sepasang belati berhulu kepala naga. Desing belati panjang segera memenuhi ruang udara di lingkar pertarungan. Sementara lecut rantai Ki Malawi sekali-kali memekakkan telinga dan mulai menganggu pusat perhatian Sayoga.

Tinggalkan Balasan