Fiksi Mini : Kebun Jasad 3

“Sehari ini kau berencana apa, Mas?”

“Sedikit belanja buat besok pagi,” jawab Nono.

“Lalu kau tinggal aku di rumah? Seperti arca penunggu candi?” Elsye angkat alis tinggi-tinggi.

“Baik. Kita pergi sekarang!”

Sepanjang hari, Elsye tak henti berucap mesra. Nono yang bahagia karena Elsye tak pernah berkata jika dia hamil. Selain itu, Elsye pada setiap saat dan di banyak tempat, mampu memaksa Nono untuk melepas kekang renjana.

Tiada tara, Nono membatin.

Empat tahun terlewat tanpa terasa. Mawar tumbuh berganti. Merebak dan membara seolah memahami bara hasrat dalam diri Nono.

“Kau gila!” lirih Nono berkata dengan sorot menyala marah.

“Nikmatilah! Kau tengah melayang menuju keabadian,” sahut Elsye yang tengah mengiris tipis sepanjang tubuh lemas Nono.

Merah membasahi peraduan, Nono mengerang kesakitan tanpa daya. Seteguk teh telah melemaskan seluruh urat syarafnya.

“Kenapa?” lirih Nono menahan sakit.

“Lepas senja kau akan melebur bersama semua yang kau sayang, Mas,” bisik Elsye di telinga kirinya.

Mengecup tipis bibir Nono, dan menatap puas.

“Siapa kau sebenarnya?”

Telanjang tubuh Elsye berpindah-pindah tempat. Belati besar dan pisau kecil bergantian membelah Nono.

Tinggalkan Balasan