KKG – Jati Anom Obong 6

“Aku tidak akan memberi kalian satu kemudahan,” lengking Sayoga sambil memutar pedang kayu bergulung-gulung menutup seluruh bagian tubuhnya,”Bahkan, kalian tidak akan pernah dapat bertemu kembali dengan pemimpin kalian.”

“Tentu ini akan menjadi peristiwa yang menyenangkan,” sahut Ki Malawi memapas serangan Sayoga,”Melihatmu menggeliat dan meronta akan membuat pekerjaan ini semakin menantang.” Buas sorot mata Ki Malawi menyapu pandang. Dalam waktu kurang dari sekejap, Ki Malawi menjulurkan rantai bermata trisula menembus pertahanan Sayoga. Loncatan panjang ke samping dilakukan Sayoda dengan dibarengi tebasan pedang kayu menyambar Ki Sarjuma.

Meskipun ia bertarung melawan dua orang, Sayoga mencoba memberi tekanan tanpa henti pada keduanya. Tetapi kedua lawannya bukanlah orang yang baru mendalami olah kanuragan dalam waktu yang singkat. Mereka telah melalui masa-masa sulit dalam penempaan diri. Pengembaraan yang mereka lakukan telah memperkaya unsur gerakan Ki Sarjuma dan Ki Malawi.

Ki Sarjuma selangkah surut untuk menghindari tebasan pedang kayu Sayoga yang meskipun tumpul namun tidak kalah berbahaya dengan pedang tajam. Ki Sarjuma menyadari ancaman yang timbul jika satu bagian tubuhnya harus menerima sentuhan pedang kayu Sayoga. Bagian dalam tubuhnyadapat remuk redam oleh hantaman pedang berlambar ilmu Serat Waja. Dengung pedang kayu terdengar menggetarkan gendang telinga, Sayoga tangkas memburu Ki Sarjuma yang tidak berada dalam kedudukan yang cukup baik.

Namun ketika ia mengulang terjangannya, Sayoga mendapat tekanan dari Ki Malawi. Rantai terjulur menggapai Sayoga dan nyaris menggapai kening Sayoga yang sigap merendah. Serangan Ki Malawi tidak berhenti begitu saja, ia mendapatkan kesempatan yang dianggapnya cukup baik untuk menghimpit Sayoga dalam gulungan rantainya. Dalam pada itu, Ki Sarjuma segera melakukan penyesuaian dengan gerak terjang Ki Malawi. Keduanya kini bertempur berpasangan dengan serasi dan saling menutupi celah-celah pertahanan mereka. Kekuatan dan kecepatan Sayoga sudah tak lagi dapat diremehkan oleh dua pengikut Raden Atmandaru. Bahkan lambat laun, Sayoga pun mengubah dasar olah geraknya untuk memperkuat pertahanannya.

Sayoga hanya merasa harus dapat mengimbangi arus serangan Ki Sarjuma dan Ki Malawi yang datang bergelombang. Putaran belati panjang Ki Sarjuma terus menerus memotong langkah Sayoga setiap kali ia berkelit atau menghindar. Kelenturan Sayoga secara berulang membantunya untuk melepaskan diri dari kejaran belati Ki Sarjuma.

Bergantian saling mematuk, kedua senjata Ki Malawi dan Ki Sarjuma terus menyerang bersama-sama.  Kedua senjata mereka terus menerus menyambar, menebas silang. Sayoga terus berloncatan dan sekali-kali membenturkan pedang kayunya untuk memotong serangan lawan. Dan seperti air bah yang melanda sebuah kademangan, dua gelombang serang itu terus mengalir dan mengejar Sayoga.

Serangan yang datang bertubi-tubi itu semakin rapat membungkus Sayoga. Kelebat belati dan patuk ujung rantai Ki Malawi semakin dekat menggapai Sayoga.

“Tidak ada lagi pilihan,” desis Sayoga dalam hatinya.

Demikianlah, perkelahian itu semakin meningkat ketika Sayoga mengungkap tenaga cadangan yang ada dalam dirinya. Tata gerak Sayoga mulai membingungkan kedua lawannya. Bertapa Sayoga seringkali mengubah kecepatan geraknya tiba-tiba menjadi lambat. Namun dalam pada itu, di balik lambatnya pergerakan Sayoga, kedua lawannya terasa seperti membentur tebing karang setiap kali senjata mereka beradu dengan pedang kayu Sayoga.

Maka Sayoga telah berubah begitu menakutkan pada pandangan Ki Sarjuma dan Ki Malawi. Tetapi keduanya adalah orang yang tangguh dan telah mengarungi berbagai ilmu dalam pengembaraan maka kedua orang itu pun masih mampu menempatkan diri sebagai pasangan yang sukar dikalahkan oleh Sayoga. Mereka bekerja sama dengan baik. Bahkan sepertinya telah timbul semacam pengertian dalam kerja sama itu. Setiap kali Sayoga bergerak lambat, maka salah satu dari lawannya akan berulang kali membenturkan senjatanya dengan pedang kayu Sayoga. Dan seorang yang lain akan menyerang dari bagian yang berbeda.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin membahayakan. Setiap orang mulai mengerahkan segenap kemampuannya dan udara pun mulai terasa hangat saat tenaga cadangan mulai teruungkap perlahan. Tidak ada lagi yang menjadi pertimbangan ketiga orang yang terlibat dalam pertarungan di tepi hutan sebelah menyebelah dengan Tanah Perdikan Menoreh.

“Selangkah lagi Tanah Perdikan akan kutapak,”desis Sayoga dalam hatinya. “Aku harus dapat keluar dari tekanan ini.”

Maka satu-satunya pilihan bagi Sayoga adalah memenangi pertarungan itu. Namun sebaliknya, kegeraman Ki Sarjuma dan Ki Malawi semakin menjadi-jadi tatkala Sayoga ternyata sangat liat dan sulit ditundukkan.

Tinggalkan Balasan