Penaklukan Panarukan 53

Ra Kayumas memberi perintah untuk pergi ketika dilihatnya sosok tubuh yang ia kenal telah pergi meninggalkan kapal induk. Ra Kayumas berada dalam jarak selemparan anak panah dari kapal Sultan Trenggana. Agaknya ia telah bersiap untuk mendukung Gagak Panji bila mengalami kesulitan. Namun segalanya tampak berjalan lancar seperti yang menjadi harapan Hyang Menak Gudra.

Gagak Panji tak banyak mengucap kata ketika mengayun kaki menuju barak prajurit yang terletak di sebelah utara bangunan pengawas. Ia menjawab sapaan para prajurit dengan anggukkan kepala. Lelaki yang dikatakan oleh Kiai Rontek sebagai sosok yang mengatur penculikan Pangeran Benawa ini beberapa kali mengusap wajahnya yang terkadang nampak muram. Ia tidak mengkhawatirkan ilmu tinggi Sultan Trenggana dan para senopatinya. Tak pula ia merasa gentar dengan kehebatan angkatan perang Demak yang terkenal sangat tangguh dalam pertempuran di atas samudera. Tetapi ia tergoncang karena mimpi buruk yang akan terjadi.

“Ambillah sedikit masa untuk istirahat, Ngger,” berkata Mpu Badandan ketika ia melihat Gagak Panji memasuki barak.

“Hari ini tidak ada lagi waktu untuk menghindari apa yang kita usahakan untuk menjauhi perairan Blambangan, Guru,” Gagak Panji berkata sambil mencium tangan gurunya. Kemudian ia membungkuk hormat pada Hyang Menak Gudra yang sepertinya telah berada di dalam barak semasa ia masih berbicara dengan Sultan Trenggana.

Hyang Menak Gudra mbalas dengan anggukan kepala kemudian berkata pelan,” Ki Tambak Langon telah menyediakan dirinya untuk menjadi orang yang pertama. Ia akan didampingi oleh Banyak Kitri dan Semambung.”

Kedua alis Gagak Panji bertemu saat mendengar nama Semambung disebut oleh penguasa Blambangan. Lalu,” Sejak kapan Semambung berada di Panarukan?”

“Ia datang bersama pasukan Demak,” jawab Hyang Menak.

“Aku ingin bertemu dengannya,” kata Gagak Panji.

“Apakah kau ingin tahu bagaimana cara ia menembus rapat barisan kapal Demak?” Mpu Badandan tersenyum. Gagak Panji tertawa kecil lalu,” Tentu saja, Guru. Semambung selalu mempunyai cara yang menarik.” Mpu Badandan bernafas lega melihat Gagak Panji masih dapat mengembangkan senyum meski ia tahu bahwa sorot mata Gagak Panji masih menyisakan kemuraman.

Gagak Panji pun kemudian menceritakan isi pertemuannya dengan Sultan Trenggana. Ia tidak melewatkan satu bagian pun termasuk keadaan di dalam bilik khusus yang ditempati Sultan Trenggana. Hyang Menak Gudra bertukar pandang dengan Mpu Badandan ketika Gagak Panji menyampaikan pesan khusus Sultan Trenggana.

“Ia berdiri sekokoh karang dalam pendapatnya,” desah Hyang Menak Gudra mengungkap pemikirannya.

Air muka Mpu Badandan masih terlihat tenang ketika mengucap perintah,” Katakan pada kawan-kawanmu untuk segera bersiap, Ngger.”

Tidak terlihat rasa gentar atau sorot mata yang membayangkan rasa segan pada pemimpin tertinggi Demak. Mpu Badandan rapat menutup gejolak perasaannya meski ia mengerti kemungkinan yang akan segera terjadi. Banyak anak yang akan kehilangan ayah mereka, ibu yang akan ditinggal oleh anak untuk selamanya dan kepedihan yang akan dialami oleh mereka yang tertimpa kemalangan. Tetapi Mpu Badandan merasa harus dapat memusatkan perhatiannya untuk kehancuran yang lebih luas di tanah Blambangan.

Sekilas ia mengerling wajah gurunya, Gagak Panji menarik nafas dalam-dalam lantas  bangkit dari duduknya. Ia mengayun  langkah lebar keluar dari ruang pertemuan khusus para senopati.

Tegas Gagak Panji berkata pada dua prajurit jaga,” Kumandangkan perintah untuk bersiap!”

Mereka berdua pun bergegas keluar dari gardu dan meniup dua terompet panjang dari tanduk kerbau.

 

*******************

Pembaca yang budiman.

Penaklukan Panarukan 53 adalah bagian terakhir yang tayang berkala di dunia maya. Ini terpaksa harus dilakukan agar saya sepenuhnya dapat memusatkan perhatian pada penyelesaian roman silat yang berlatar sejarah.

Demikian pemberitahuan ini saya sampaikan bersama permohonan maaf saya agar dapat dimaklumi.

 

 

Tinggalkan Balasan