Toh Kuning – Jalur Banengan 7

“Kau telah meremehkan kemampuan mereka, Ki Lurah,” Ki Panji Mahesa Wunelang lantas berdiri dan berkata tajam,” Orang dengan kedudukan sebagai rangga sudah pasti mempunyai ilmu beberapa tingkat diatasmu. Dan Ki Rangga Kertapati dapat dengan mudah mereka sekap dan aku temukan dia dalam keadaan terikat di sebuah gardu jaga. Apakah kau tidak mengetahui berita itu?”

Gubah Baleman berdiam diri cukup lama untuk menjawab pertanyaan Mahesa Wunelang. Namun pada saat itu telah terpikir olehnya rencana yang lebih dalam dan sedikit keluar dari tatanan dasar keamanan Kerajaan Kediri.

Ia menarik nafas dalam-dalam lalu berkata dengan tegas,”Baginda, menjamin dan menjaga keamanan di lereng Arjuna adalah tanggung jawabku. Oleh karena itu aku mohon agar Baginda berkenan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaan yang telah menjadi buruk.”

Sri Baginda Kertajaya menganggukkan kepala, ia mengangkat tangannya lalu,” Ki Panji, secara keseluruhan pengamanan wilayah Kediri berada dalam pengawasanmu. Maka aku perintahkan padamu untuk secara khusus melimpahkan Jalur Banengan pada Ki Lurah Gubah Baleman. Pelimpahan itu juga mempunyai tujuan lain.”

Mahesa Wunelang menundukkan wajah kemudian menyatakan dirinya tunduk pada sabda raja. Semenjak Gubah Baleman menjalankan perintah raja secara khusus, maka para prajurit Kediri kemudian meningkatkan kegiatan ronda di sepanjang Jalur Banengan. Tidak jarang mereka menyisir padepokan yang tersebar di lereng Arjuna dan Kelud.

Tetapi Toh Kuning dan Ken Arok selalu dapat mengambil kesempatan untuk menebar rasa takut pada pedagang yang akan melintas Jalur Banengan. Usaha mereka sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil dan sebagian kecil pedagang mulai beralih melintasi Alas Kawitan.

Maka demikianlah ketika Ken Arok setuju dengan ajakan Toh Kuning, mereka berjalan keluar dari padepokan dan terus menyusuri bulak-bulak panjang. Kadang-kadang mereka berlari kecil di atas pematang sawah. Mereka telah sepakat untuk tiba di rumah Ki Ranu Welang sebelum hari menjadi gelap. Hingga kemudian mereka tiba di daerah yang hijau dan berudara sejuk.

Rindang dedaunan menghalangi sinar matahari sore yang berusaha mencapai daun-daun kering yang terserak di atas tanah. Arak-arakan mendung melayang pelan di atas daerah itu sehingga dua pemuda murid Begawan Purna Bidaran mendapat keteduhan sesaat kala melintasi sebuah bulak pendek sebelum mencapai pekarangan rumah Ki Ranu Welang.

Mereka mempercepat langkah kaki tatkala dinding halaman rumah Ki Ranu Welang yang tersusun dari batu setinggi lutut telah terlihat jelas. Nampak seorang lelaki berdiri bertolak pinggan sedang menghadap kea rah mereka datang.

“Ki Ranu Welang,” sapa Ken Arok.

Ki Ranu Welang menganggukkan kepala. Katanya,”Aku harap kau membawa berita baik. Sungguh membosankan setelah mengurung diri semenjak prajurit Kediri meningkatkan kegiatan.” Setelah mereka bertiga duduk di ruang depan, Ken Arok kemudian berkata,” Wajah kita belum dikenal oleh para prajurit. Jadi aku pikir keputusan kiai sebenarnya tidak mempunyai alasan kuat dengan tetap berada di pedukuhan sunyi seperti ini.” Tanpa bersuara, Ki Ranu Welang menoleh ke arah Ken Arok.

“Kalian belum mengenal Mahesa Wunelang,” sahut Ki Ranu Welang. Ia berkata lagi,” Meskipun prajurit tidak mengenali wajah dan bentuk tubuhku, namun Mahesa Wunelang telah mengerti kebiasaanku. Ia telah menjadi prajurit tangguh dan mempunyai pikiran tajam untuk mencari jejak orang-orang yang mampu melepaskan diri. Ia akan banyak bertanya dan akan berbicara pada setiap orang yang ia jumpai, dan akhirnya ia akan membakar semua perguruan yang ada di Kediri. Dan aku belum mampu menghadapi Mahesa Wunelang. Aku mempunyai anak yang masih kecil sedang dalam bimbingan sebuah padepokan. Itulah alasanku bersembunyi dan mengamati suasana hingga mengendap karena Mahesa Wunelang tidak akan pernah berhenti memburuku.”

 

 

Kisah Toh Kuning telah tersedia dalam bentuk digital. 

Untuk pembelian dapat menghubungi langsung melalui WA di nomer 0813 5760 9831

Tinggalkan Balasan