KKG – Jati Anom Obong 8

“Kau berhasil mendapatkan kitab itu!” seru kegirangan Ki Tunggul Pitu, bahkan ia nyaris berloncatan riang seperti anak kecil sebelum Ki Garu Wesi menggamit lengannya.

“Inilah kita pada sore ini,” sahut Ki Hariman seraya melangkah lebar mendekati dua orang kawannya. Ki Tunggul Pitu yang hampir tak dapat mengendalikan diri bergegas maju menjulurkan tangannya ingin memegang kitab peninggalan Kiai Gringsing.

Ki Hariman lekas mendorong tangan menahan KI Tunggul Pitu, katanya,”Tahan dirimu, Kiai!”

Ki Garu Wesi cepat menengahi sambil berkata,”Kiai berdua, kita telah mengenal kekuatan Agung Sedayu meski kita sama sekali belum benar-benar pernah bertarung dengannya dalam satu lingkar perang tanding. Tetapi, dengan adanya kitab Kiai Gringsing berada di antara kita maka kita akan menjadi orang pilihan dalam waktu tak lama.“

Ki Tunggul Pitu menghirup udara sebanyak mungkin untuk menenangkan diri, kemudian,”Aku kira memang benar bahwa aku harus mampu mengendalikan diri. Terutama ketika aku mendapatkan giliran untuk mendalami isi kitab perguruan Orang Bercambuk.”

“Dan itu akan memaksamu untuk bersabar selagi aku masih melakukan kajian lebih dalam terhadap isi kitab ini,” sahut Ki Hariman seraya menepuk kitab yang telah berada di balik pakaiannya.

“Seberapa lama kau butuhkan untuk mengkaji isinya?” Ki Tunggul Pitu memandangnya dengan sorot mata yang menghunjam jantung.

“Yang pasti adalah aku ingin telah dapat mengerti isinya sebelum Raden Atmandaru datang menduduki jati Anom,” jawab Ki Hariman. Kemudian ia berpaling pada Ki Garu Wesi,”Apakah Kiai mempunyai perkiraan mengenai kedatangan Raden Atmandaru?”

“Aku meninggalkan kademangan dalam waktu yang cukup lama, mungkin empat atau lima bulan telah berjalan hingga kita bertemu di tempat ini,” Ki Garu Wesi menjawab dengan pandang menebar sekelilingnya. Lalu,”Lebih baik kita menyingkir dari tempat ini dengan segera. Aku kira tak lama lagi pasukan Mataram yang berada di Jati Anom akan segera mengirim para prajurit peronda.”

Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman mengangguk-angguk. Lalu Ki Hariman berkata,”Aku tahu tempat terbaik untuk kita semua.” Ia bergegas berjalan menuju arah pedukuhan Jati Anom diikuti Ki Tunggul Pitu dan Ki Garu Wesi yang masih bertukar pandang dengan sinar mata bertanya.

Mereka berjalan cepat menyisir pematang sawah, melintasi pategalan dan agaknya tiga orang ini tidak ingin tiba di Jati Anom dalam keadaan gelap. Jalur jalan yang mereka lalui merup[akan jalan pintas menuju Jati Anom. Maka gerumbul semak liar yang berduri dan pohon yang tumbuh silang menyilang masih mereka jumpai sepanjang perjalanan. Hingga kemudian Ki Hariman melompati serumpun tanaman perdu lalu menuruni tebing menuju sungai kecil yang nantinya akan membelah Jati Anom.

Sejenak kemudian, mereka menyisir tepi sungai kecil dan mengikuti arus yang lancar mengalir. Tetapi jalur itu semakin lama semakin sulit karena tumbuhan liar tak jarang menjorok hingga bagian tengah sungai. Keadaan semakin gelap saat mereka berjalan di bawah rimbun pohon tinggi saat matahari semakin dalam berada di balik punggung Merapi.

“Kita akan berada di sungai ini untuk menghindari penjagaan para prajurit Mataram,” kata Ki Hariman memecah keheningan. Kemudian,”Aku mengenal tempat ini meski tak begitu baik tetapi aku pernah bermalam di sebuah gua yang tak jauh lagi akan kita capai.” Ia menunjuk rimbun semak yang menjorok ke bagian sungai.

“Malam ini kita akan sepenuhnya mengambil masa untuk istirahat,” Ki Hariman menyatakan rencananya ketika mereka tiba di depan mulut gua,”Sebelum matahari terbit esok pagi, salah seorang  di antara kita harus berada di pasar induk. Seorang lagi akan mengawasi perkembangan yang terjadi di barak pasukan Mataram.”

“Itu sudah dua orang yang kau sebut, Ki Hariman,” sahut Ki Tunggul Pitu,”Lalu dimanakah engkau berada esok?”

Lurus pandang mata Ki Hariman menatap wajah Ki Tunggul Pitu, kemudian,”Kau seolah tidak percaya padaku karena kitab sudah barang tentu bersamaku sepanjang hari.”

“Adalah hak kami untuk tetap dapat mengawasi kitab itu,” kata Ki Garu Wesi tiba-tiba.

Ki Hariman bergeser setapak surut, ia berkata sambil meraba bagian dadanya,”Aku tidak dibebani kewajiban untuk menyerahkan kitab peninggalan guru Agung Sedayu pada kalian. Bahkan aku dapat saja tidak menemui kalian setelah kitab ini berhasil aku dapatkan dari rumah Ki Demang Sangkal Putung.”

Tinggalkan Balasan