Prosa : Kala Abang Terbenam

Judul : Kala Abang Terbenam

(Karya keroyokan oleh serombongan orang kemalalman dalam Kelas Prosa Liris. Kelas handal yang diselenggarakan oleh Wonderland)

Mentari setapak menuruni lereng cakrawala..
Ia ingin berpaling.. Bahagia beriring kala malam menjelang..

Senja kau lukiskan..
Sebagai lembayung..
Temaram ungu..
Bahkan warung remang pun kau rengkuh erat..

Dimana ember berada?

Itu dia di sudut ruang. Tersuruk di antara dinding dan rak piring. Tanpa pikir panjang kuraih dan kubawa ke halaman.

Bunga-bunga malas mengembang. Lemas terkulai dibuai terik. Kupenuhi ember dengan air sejuk. Kubagikan dengan adil ke setiap yang tumbuh. Ah, semoga dahaga kalian sedikit terobati.

Aku terduduk di atas ember, menatap senja dengan hati melumer.
Tidaklah kau rindu, sore yang sendu?
Berdua ngangsu berebut ember.

Benarkah segalanya tinggal kenangan yang menjelma saat senja datang, lalu hilang kala malam menjelang?
Ember pun termangu, mulai bosan menghitung waktu

Candikala warnai langit di pinggang Lawu
Aku termangu mengingatmu
Setiap senja datang, hatiku melagu pilu
Tak pernah cukup ember menampung rindu.

Ketika mengenangmu.
Hilang sudah gulana yang tadi meraja.
Ember penuh tangkapan kail. Bumbu cinta kuracik mesra.
Duduk bersila kita mengepung nila.

Pada senja ku mengadu
Berpayung rindu yang kian pilu
Sebuah gemericik yang kian berisik
Karena lalaiku yang meluber di ember.

Senja itu.
“Sekar …, kemarilah segera!” Teriakku menggema memenuhi lapangan.
Berkeliling mencarimu membuat kakiku terjebak dalam ember usang. Aku pulang.

Gelayut awan.
Aku selalu benci hujan
Ember memenuhi kamar tidur bahkan kasur
Bocor di mana-mana
Mengganggu lelap mimpiku

Ember kutadahkan pada hujan, air pun meluber membuat rinduku semakin melumer.

Kau tahu, Bang
Raga telanjang
Menggeliat bebas
Menanti rangkummu
Melayang ringan
Tanpa beban
Teronggok oleh genggam
Kuterbangkan kutang

Seumpama ember yang mampu mewadahi sepenuh air
Ibarat senja yang menampung segenap renjana
Sebesar itu pula relungku menghimpun seluruh cinta darimu, Dayita

Ingin kukatakan itu.

Dalam ember berbau ini masih kusimpan rindu yang meraja hanya padamu seorang.
Lelaki yang telah berhasil menumpahkan airmata dari netra.

Per detik aku lalui.
Begitu banyak amarahmu karena cemburu.
Tak ada tempat yang layak.
Kumasukkan saja dalam ember.
Tak ada yang masuk di hati.

Kulihat senyummu dalam genang air di dalam ember.
Kian hari kian samar terasa.
Pilu.

Piluku kian meraja, melupakan kutang yang terbenam lama
Dalam ember berisi air berbuih sabun
Cuih … baunya kian tak sedap
Bang, mungkinkah nanti rinduku menjadi tak sesedap aroma rendaman kutang ini?

Senja..
Dalam lembayung jingga
Dalam ember penadah hujan gulana
Kurendam kutang pengekang asa.

 

Sumber gambar

https://pxhere.com/id/photo/956028

 

2 tanggapan pada “Prosa : Kala Abang Terbenam”

Tinggalkan Balasan