Toh Kuning – Alas Kawitan 1

Toh Kuning yang sedang duduk di anak tangga kemudian bangkit dan bergeser dua langkah, katanya,” Kiai, kami berdua masih sesekali mengamati Jalur Banengan dan kami sudah menyiapkan sebuah tempat di Alas Kawitan bagi kiai jika ingin bertualang kembali. Dan kami harap anak buah kiai tidak lagi berbuat melebihi batasan.”

“Kalian anak muda yang belum mengenal dunia keras seperti kami,” Ki Ranu Welang berbicara dengan nada tajam dan tinggi. Dengan tangan terkepal ia berkata,” Kami tidak pernah melakukah pembunuhan  tanpa tujuan. karena itu kami semua tidak pernah menyesali. Pembunuhan yang terkahir kami lakukan adalah bersama-sama kalian di Jalur Banengan. Katakan dan beritahu kami, jika kita tidak melakukan pembunuhan itu, apakah kalian akan dapat selamat dan lari begitu saja dengan membawa harta benda mereka? Kematian bukan sekedar menghitung jiwa yang mati dan keluarga yang ditinggalkan. Kalian pernah bertempur bersama kami, dan kalian juga melihat orang-orang yang kami biarkan melarikan diri. Jadi, batasan seperti apa yang kalian inginkan?”

Toh Kuning terdiam. Ia dapat menerima pendapat Ki Ranu Welang dan ia sendiri pun mempunyai penilaian tersendiri tentang batasan yang ia maksudkan. Tetapi pada saat itu Toh Kuning enggan mendebat pendapat Ki Ranu Welang.

Lantas ia mengalihkan pokok pembicaraan, katanya,” Aku memperhatikan jika prajurit yang melakukan ronda bukanlah pasukan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Wunelang. Ada tanda yang berbeda dari yang dikenakan prajurit Mahesa Wunelang.”

“Ya, aku telah mendengar dari beberapa orang yang singgah di kedai yang berada di induk pedukuhan. Dan aku sempat mendengarkan prajurit yang sedang berbicara di gardu jaga. Pasukan Kediri yang mengawasi Jalur Banengan adalah pasukan Gubah Baleman. Ia seorang lurah prajurit yang ulet dan mungkin sedikit lebih dari usiaku,” kata Ki Ranu Welang. Ia membenahi letak duduknya kemudian,” Sebenarnya beberapa orang anak buahku memang bertanya tentang kegiatan yang telah lama mereka tinggalkan. Dan memang bekerja di sawah dan kebun tidak dapat memuaskan beberapa orang,” kata Ki Ranu Welang.

“Termasuk kiai sendiri?” tanya Toh Kuning.

“Ya, aku termasuk bagian orang yang tidak dapat berlama-lama di sawah,” ucap Ki Ranu Welang kemudian mengalihkan tatap matanya.  “Ken Arok, apakah Begawan tahu mengenai luka-luka yang kau alami?”

“Guru yang mengobatiku jadi sepantasnya ia tahu tentang luka-luka itu,” jawab Ken Arok.

“Apakah ia tahu mengenai penyebab luka-luka itu?” tanya Ki Ranu Welang.

“Aku katakan jika luka-luka itu terjadi karena salah paham dengan prajurit Kediri,” jawab Ken Arok dengan senyum kecut. Lalu,” Guru bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi. Namun ia tidak mengejar kami dengan berbagai pertanyaan yang tentu saja akan menyulitkan kami untuk menjawab. Dan ia masih memberi kami kebebasan untuk melakukan hubungan di luar perguruan,” lanjut Ken Arok.

Ki Ranu Welang manggut-manggut mendengar penjelasan. Setelah menarik nafas panjang, ia bertanya,”Toh Kuning, bagaimana sebenarnya keadaan Jalur Banengan?”

“Jalur Banengan sementara ini sudah cukup tenang, pengawasan dari prajurit memang semakin meningkat. Keadaan itu menjadikan kita tidak mempunyai ruang gerak yang cukup luas, sehingga akhirnya Alas Kawitan menarik perhatian kami berdua. Perjalanan prajurit Kediri yang meronda hanya sampai di gardu jaga yang berada di sisi selatan Alas Kawitan, dan sebuah gardu jaga yang berada di seberang utara telah menjadi tanggung jawab Tumapel,” jawab Toh Kuning yang kemudian menuangkan air kelapa yang disuguhkan oleh anak buah Ki Ranu Welang.

“Pengawasan mereka tidak terlalu ketat, Kiai. Alas Kawitan yang tidak terlalu lebat dan masih banyak padang rumput menyebabkan para prajurit tidak begitu menaruh perhatian,” Ken Arok menambahkan.

 

Kisah Toh Kuning telah tersedia dalam bentuk digital. 

Untuk pembelian dapat menghubungi langsung melalui WA di nomer 0813 5760 9831

Tinggalkan Balasan