KKG – Jati Anom Obong 11

“Ya. Aku tahu bila satu atau beberapa orang telah membenturkan olah kanuragan di sekitar tempat ini, itu berarti ia telah siap untuk melabrak Mataram. Ia menyulut api dengan menyinggung harga diri prajurit,” lanjut Ki Panuju.

“Aku tidak mempunyai maksud mengundang marah para prajurit,” sahut Ki Garu Wesi. “Aku tidak berkelahi.”

“Kau tak dapat ingkari kedalaman ceruk ini,” telunjuk Ki Panuju menuding bagian tertentu dari sungai. Kemudian ia melanjutkan, “Tak mungkin pula daun menjadi layu dan ranting terpotong rapi.”

Ki Garu Wesi berpaling wajah. Ia berkata, “Aku hanya membela diri dari orang yang menerobos keluar dari arah itu.” Dagu Ki Garu Wesi sedikit terangkat ke sebuah arah.

Ki Panuju tajam memandang dua bola mata Ki Garu Wesi. “Ki Sanak, engkau menunjuk sebuah tempat yang menjadi tempat kami berkumpul. Dan itu sama saja dengan menujukkan bahwa kedatanganmu di pedukuhan ini memang bukan dengan niat baik”

“Jaga bicaramu, orang Mataram!” sesaat kemudian Ki Garu Wesi menyadari kesalahannya. Ia yang berencana menghancurkan barak prajurit di Jatianom setelah berada di dalamnya, kini berharap pemimpin peronda tidak menyadari kecerobohan yang dilakukannya. Tetapi terlambat, Ki Panuju adalah seorang pemimpin yang cerdas dan berwawasan luas

“Hantam lututnya!” perintah Ki Panuju.

Ki Garu Wesi tidak mungkin membiarkan lututnya menjadi hancur lalu beringsut mundur. Ia berteriak lantang, “Ki Hariman dan kau, Ki Tunggul Pitu! Keluarlah! Kita akan membakar Jatianom dengan tubuh busuk para prajurit Mataram ini!”

Gelegar suara Ki Garu Wesi mengejutkan sekawanan burung yang berada di sekitar mereka.

Lanjutnya, ”Segera, setelah kita tuntaskan sekelompok orang kerdil ini, kita memasuki Jati Anom.  Aku ingin membakar setiap rumah dan melihat Untara menjadi gila.

Hei, lurah prajurit! Tidak akan ada upaya darimu hingga kau harus kehilangan pengikut atau waktu!

Tidak! Kau akan meninggalkan Jati Anom dan keluargamu. Selamanya!”

“Aku tidak kehilangan atau meninggalkan siapa saja, termasuk prajuritku. Justru aku ingin memastikan bahwa kau akan kehilangan nyawa di tempat ini!” Ki Panuju menjawab dengan sorot mata tenang dan dingin. Seolah ia tidak mempunyai rasa gentar sedikit pun. Pembawaan Ki Panuju yang tenang cukup mempengaruhi ketahanan jiwa anak buahnya dalam menghadapi Ki Garu Wesi yang mulai tidak terkendali.

Selangkah KI Garu Wesi bergeser ke samping, katanya, ”Siapa di antara kita yang dapat keluar dari tempat ini dengan selamat?”

“Dua kawanmu tidak akan pernah dapat melarikan diri dari kejaran kami!” suara Ki Panuju kini terdengar penuh tekanan.

“Kau berkata tentang kami?” KI Hariman melayang ringan keluar dari gua persembunyiannya. Seringai  mengejek mengembang pada sudut bibirnya.

“Apakah kau sanggup menghadapi kami, orang-orang rendahan? Aku katakan pada kalian bahwa lurah kalian tidak mempunyai perhitungan matang berkelahi dengan kami,” kata Ki Tunggul Pitu seraya melempar segenggam pasir basah ke arah prajurit Mataram.

Ki Panuju tiba-tiba terbahak. Begitu pula anak buahnya yang meniru perbuatan Ki Panuju. Mereka tertawa keras-keras.

“Bertingkah seperti orang gila agar perhatian kami terbelah? Itu siasat kuno, Ki Sanak. Kami tak akan mudah kehilangan perhatian karena tingkah remeh seperti itu,” kata Ki Tunggul Pitu.

Ki Tunggul Pitu terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. Kedua tangannya bergetar hebat. Kedua kakinya berderak halus seperti sedang menembus permukaan tanah. Dan perkembangan itu seolah diabaikan oleh Ki Panuju.

Ki Panuju tidak mengindahkan ucapan orang yang akhirnya datang pada mereka. Mereka merasa beruntung bahwa orang-orang yang mereka cari justru akhirnya mendatangi mereka. Namun, Ki Hariman memendam sebuah rasa yang tak terkira. Keinginannya untuk mempelajari kitab peninggalan Kiai Gringsing kembali terhambat. Kali ini orang-orang Mataram akan menjadi kendala besar. Bahkan mungkin tidak akan dapat dikendalikan olehnya jika Ki Tumenggung Untara mengerahkan seluruh daya untuk membantu adiknya, Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan