Liris : Perjaka Bukan Harga Mati!

Aku adalah Bukanjaka!

Teman, aku kisahkan satu malam singgahku di tepi jalan utama Tuban-Rembang. Karena sulit bagiku untuk menahan lebar mata, aku putuskan untuk berhenti berkendara. Mobil aku tempatkan di sebelah warung yang temaram. Aroma kopi dan minyak wangi berebut memasuki dua lubang hidungku.

Aku duduk di bagian luar warung. Di bawah pohon jambu sepertinya, aku tak begitu yakin.

Secangkir kopi kemudian bersanding denganku. Aku mengenal bau wangi ini. Begitu akrab. Aku sering melihat kemasannya di toko berwarna biru dekat rumahku. Wanita yang sekarang duduk di dekatku adalah sumber wewangian yang sudah pasti bukan aroma surgawi.

Lama kami berbincang. Sesekali jemariku menyelinap di belah dadanya yang tersembul menyolok mata. Aku meremas, membelai dan berulang mengecupnya. Batang keramat menjadi tegang. Sedikit basah telah aku rasakan. Wanita ini mengerling dan sesekali ia meraba bagian yang keras.

Gelegar guruh menjadi senyap. Bintang enggan berkedip.

Kami berpindah tempat. Desah nikmat tak habis aku lontarkan setiap kemaluan bergerak maju mundur.

Selalu dan selalu.

Aku lakukan itu dengan wanita yang berbeda.

Makhluk gaib mengepak sayap. Berulang memukul jalanan hingga terlontar bunga api. Mereka bernapas dalam udara panas. Aku menyambut angin panas dengan dada terbuka. Aku merasa gagah. Perkasa.

Kini, aku terbaring lemah. Koreng merebak dan memenuhi kulitku. Tidak ada ruang kosong tanpa koreng.

Aku menunggu mati.

Dokter menasehatiku agar aku banyak berdoa.

Jelas paras wanita berwajah ayu membayang di mataku. Ia adalah wanita yang merampas batangku saat aku masih perjaka.

Aku dapat mengingat ucapannya, “Aku mendapat perjaka, dan kau mengeraskan kejantanan di atas bulu lebat tersembunyi dan mulai memutih.”

Saat itu aku tidak peduli. Aku hanya ingin menepis dingin dalam gejolak nikmat. Aku tidak menyesalinya karena aku lakukan penuh cita.

Terselip sesal, aku sangkal!

“Perjaka bukan harga mati!”

Itu urusanku, bukan urusanmu.

Apakah kau berkata tentang keharaman? Adam beroleh ampunan atas kesalahan yang sama denganku.

Melanggar larangan dengan sadar.

Sekarang, aku ingin meraih tanganmu. Katakan jika dosa ini tak akan diampuni.

Aku tidak takut mati.

Aku hanya takut jika aku kembali menjadi perjaka.

Namaku Bukanjaka, satu nama yang akan kau ingat selamanya.
====

Sumber gambar ;

www.reverbnation.com/

2 tanggapan pada “Liris : Perjaka Bukan Harga Mati!”

  1. Bukanjaka.
    Pemuda apes.

    Kau pikir, menikmati gejolak malam sebuah kebanggaan?
    Kau pikir, kelakuanmu sangat hebat?

    Rasakan perihmu!
    Itulah kubang kenikmatan bagimu!

    *Porno*

    1. kau pikir Bukanjaka gak pake mikir?
      Gelora malam adalah teman karib ketika orang lain memandangku dengan mata dipunggungnya

Tinggalkan Balasan