KKG – Jati Anom Obong 13

Para penggembala benar-benar menjadi gangguan yang rumit. Sulit dikendalikan oleh Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman meski mereka bergerak cepat. Kecepatan gerak dua orang berilmu tinggi itu dapat diimbangi kegesitan para penggembala yang mengetrapkan ajaran Ki Panuju dengan baik.

Ganggu dan sembunyi.

Empat prajurit Mataram bergantian menyerang Ki Hariman dan Ki Tunggul Pitu dari berbagai arah lalu menghilang secara mendadak. Mereka menyelinap di antara kerbau dan lembu yang terus bergerak dalam kendali para penggembala.

Gelar perang sederhana itu diterapkan dengan baik oleh penggembala.

Mereka berkerumun rapat dan tidak pernah mencoba mencari ruang kosong untuk menghindari serangan dua lawan mereka. Para penggembala terus menerus bergerak untuk menghindar dan melindungi kawannya dari sebuah serangan.

Mereka paham bahwa serangan mereka justru akan menjadi celah yang dapat merontokkan gelar mereka. Karena itu, keteguhan hati para penggembala menaati petunjuk-petunjuk Ki Panuju telah menjadi unsur yang membedakan. Dan keteguhan mereka menjadi pangkal gelisah bagi Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman yang perlahan mulai kehilangan kendali diri.

Ruang gerak mereka berdua sangat terbatas. Saat keduanya hendak menyerang, tanduk kerbau atau kepala lembu tiba-tiba menggapai dari arah belakang, depan dan samping mereka. Begitu pula bila mereka melompat surut dan menyerang dari jarak jauh, maka serentak prajurit Mataram dan penggembala melempari keduanya dengan segala benda yang dapat diraih.

Perempuran kecil yang begitu sengit. Menegangkan dan mengharukan!

Betapa para penggembala merelakan diri dan harta bendanya sebagai tameng prajurit Mataram. Dan sebaliknya, para prajurit Mataram berjibaku dengan nyawa mereka. Satu usaha yang menjadi tanda kerelaan mereka melindungi hak rakyat pedukuhan Jati Anom untuk hidup tenang.

Kerja sama yang lahir dari kebiasaan berlatih dalam setiap perjumpaan mereka. Pengertian yang terjalin karena rasa saling memiliki dan saling mengerti di antara mereka. Maka perpaduan prajurit Mataram dan para penggembala menjadi sulit ditaklukkan oleh dua orang berilmu tinggi itu.

Meski para penggembala berulang terpental dan bergulingan karena terjangan dua penyusup pedukuhan mereka, namun kegigihan untuk melindungi keselamatan prajurit Mataram.

Pada lingkaran yang lain, Ki Garu Wesi menghadapi tandang Ki Panuju yang luar biasa.  Meskipun perlahan-lahan Ki Panuju mendapat tekanan hebat dan mulai terdesak, namun ia tidak memperlihatkan keresahan. Justru Ki Panuju semakin kokoh dan liat menutup rapat pertahanannya. Sesekali, Ki Panuju berbagi pandang dengna lingkar pertempuran yang lain dan setiap kali ia melakukannya, kedudukan Ki Panuju semakin sulit.

Ki Panuju tetap mengkhawatirkan keselamatan para penggembala. Ia akan merasa bersalah sepanjang hidupnya apabila satu dari penggembala itu kehilangan nyawa. Meski selama waktu perkelahian itu ternyata para penggembala mampu bekerja sama dengan prajurit Mataram. Mereka mampu saling melindungi dan menutup kelemahan kemampuan per orang, maka ketinggian ilmu Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman menjadi tidak terlihat.

Setelah ia dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa para prajurit dan penggembala akan mampu bertahan hingga bantuan tiba, Ki Panuju kembali berkelahi dalam tataran yang telah dikuasainya. Perlahan ia mampu mempertahankan kedudukan. Meski masih dalam keadaan terdesak, tetapi Ki Garu Wesi semakin sulit menguasai lawannya. Ki Panuju dengan cermat telah berhitung bahwa ia tidak akan mampu melawan tenaga inti Ki Garu Wesi. Ia memilih siasat seolah berada dalam tekanan dan sepertinya rencana itu berhasil. Ki Garu Wesi larut dalam gelombang kanuragan yang diperagakan oleh Ki Panuju.

Inilah kehebatan Ki Panuju. Ia mampu melebur kemampuan khusus sebagai prajurit dengan ilmu yang ia serap dari Ki Widura, pengganti Kiai Gringsing di Perguruan Orang Bercambuk. Sehingga Ki garu Wesi msih saja terpancing dengan rasa penasaran oleh tata gerak Ki Panuju.

Tinggalkan Balasan