Liris : Hanoman Anjaneya, Wanara Putih

Taman Asoka yang indah di tengah Alengka, berkurang keindahannya karena wajah murung seorang wanita cantik di dalamnya.

Aku menemukannya. Akhirnya satu dari belasan atau puluhan taman di Alengka menjadi pilihan Rahwana untuk menyembunyikannya. Aku harus merubah penampilan, agar gerakku lebih cepat dan lincah. Saat mendekatinya, aku harus menyesuaikan wujudku agar Dewi Shinta merasa nyaman saat aku menyapanya.

Dengan percaya diri, aku mulai mendekatinya. Tidak putus rasa syukurku kepada Sang Hyang Widhi. Betapa bahagianya Dewi Shinta saat melihatku. Ia akan pulang dalam keamanan karena aku berada di sisinya.

Inilah bukti pengabdianku pada Sri Rama. Aku telah melampauinya untuk satu keadaan.

“Mohon ampun Dewi, anda tidak seharusnya bermuram di tengah taman yang indah,” kataku sambil memberikan hormat.

Pandang tajam kepadaku, seekor wanara putih di hadapan.

“Wahai Dewi Shinta, saya Hanoman. Diutus Sri Rama untuk menjemput Dewi pulang,”

Aku melihat matanya membulat melihat ke arahku.

“Aku diculik karena tertipu oleh Rahwana yang menjelma menjadi Brahmana tua. Bagaimana aku bisa mempercayaimu wahai Hanoman?”

Aku pun menyerahkan sebentuk cincin milik Sri Rama untuk ditunjukkan. Bukti bahwa aku adalah utusan resmi, bukan penipu.

Cincin ini adalah cincin suamimu. Tidak ada sedikit pun ragu dalam hati bukan? Akulah utusan suamimu. Mari ikutlah denganku. Kita tinggalkan kerajaan Alengka.

“Tidak!”

Dia menjawab dengan suara bergetar namun tegas. Pandangan matanya begitu tajam serta menunjukkan sinar kecewa mendalam.

“Biarkan suamiku datang sendiri ke sini.” Pelan, namun terasa hingga ke hati.

“Katakan kepada Sri Rama, jadilah ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan aku.”

Aku terdiam.

Hening.

Dewi Shinta tak mau pulang bersamaku.

Tidak kuasa aku memaksa junjunganku.

“Baiklah Dewi, pesan akan disampaikan kepada Sri Rama.”

Aku pamit dari hadapannya serta mohon restu untuk perjalanan.

Sebelum pergi, aku harus membuat taman ini tidak utuh. Aku ingin mereka tahu bahwa aku marah. Marah, karena raja Alengka telah berani menculik istri rajaku. Meloncat kesana kemari, aku menabrak berbagai arca, guci dan pot bunga. Rahwana tidak boleh tenang. Akan aku buat dia mengerang.

Gubrak!

Prang!

Brug!

Krompyang!

Aku yang pernah menggetarkan jagad raya, kini melabrak Alengka seorang diri.

Aku lumpuhkan ribuan prajurit.
Aku adalah Hanoman putera Anjali.
Aku akan hancurkan Alengka!

Akulah Hanoman, wanara putih abdi setia Sri Rama junjunganku.

 

 

Buah Karya Wimala Anindita dalam lakon Ramayana.

Kelas Liris Kepak Sayap Angsa,

Tinggalkan Balasan