Liris : Marlena, Perempuan Kedua (Sakera)

Sakerah suamiku, putra Madura yang sudah bosan seumur hidup memandang tanah gersang berkapur. Di mana udara panas meranggas menyesak dada. Nafas tak lagi sanggup menyesap debu.

Sedangkan aku, aku dibesarkan di tanah Rembang yang menyenangkan. Desaku berlimpah kesuburan. Saat aku bermain di masa kecil, hamparan sawah kubayangkan seperti bentangan permadani tempat turun sang bidadari. Dengan kelok tanah meliuk serupa kibasan selendang penari. Membingkai hijau pada bias biru cakrawala. Bila aku bosan, aku ganti bermain di antara barisan tebu yang berjajar rapi, berharap kelak mencecap manis semesta dalam kehidupan.

Malam ini aku berdiri seorang diri di pelataran kelam. Bulan gelap berpayung mega.

Aku merenung.

Memikirkan takdir yang menempatkanku menjadi istri kang Sakerah.

Istri kedua!

Menjadi istri kedua tentu bukan cita-citaku. Kekasaran dan sifat keras lelaki itu awalnya membuatku takut. Konon, ia memiliki kesaktian bisa menghilang dan kebal peluru. Amarah yang tak terkendali dan tebasan celuritnya ditakuti semua orang. Namun, dibalik sifat kerasnya tersembunyi hati yang pemurah dan suka menolong. Makanya, ia sangat cocok menjadi mandor di perkebunan tebu.

Aku tak menyangka jika kemunculanku di ladang tebu suatu siang menarik perhatian kang Sakerah. Kain batik dan kebaya merah yang kupakai untuk membalut tubuh molekku, membuatnya terpesona. Wajah cantik tanpa polesan, dengan rambut tersanggul tinggi memperlihatkan leher jenjangku, memikat hasrat kelelakiannya.

Hingga, di suatu malam berbintang di tengah rumpun tebu, ia berlutut memintaku menjadi istrinya.
Saat itu di hatiku memang belum tumbuh cinta. Tapi melihat sifat baiknya, aku yakin ladang hatiku bisa menumbuhkan setitik tunas cinta untuknya. Lagipula, bukankah kata pujangga lebih baik dicinta daripada mencinta?

Harusnya aku bahagia setelah mendapat cinta sang jawara. Namun, bahagiaku ternyata tak sempurna. Karena aku hanya menjadi yang kedua.

Hanya setengah hatinya yang bisa kumiliki!

Aku terpaksa berbagi!

Bagaimanapun, setelah menjadi istri aku mencoba berbakti. Walau acap perasaan sakit dan cemburu nyaris membinasakan. Membuatku kehilangan akal sehat. Serasa buah simalakama.

Pahit!

Pada suatu pagi buta, aku mendapati suamiku berada di pendopo dalam keadaan marah. Kabar yang diterima menyulut emosinya.

Tatap matanya merah, menyambar membakar ilalang. Alam mendadak hening. Katak dan jengkerik menyingkir terbirit-birit. Matahari meredup urung menyinari semesta. Menghindar dari amuk murka Sang Mandor Jagoan Carok.

Aku menghampiri sambil membawa secangkir kopi, lalu kuletakkan di atas meja.
“Berhati hatilah, Kang. Jaga keselamatanmu!” kusandarkan kepala sambil kuusap dada kang Sakerah, menenangkannya.

Sebagai istri, tugasku mendengarkan semua amarahnya.
Luapkan semua, Kang, agar hatimu lega!

Aku tau hatimu baik walau perangaimu keras.

Itu yang membuatku akhirnya jatuh cinta padamu!

Aku dengar, Carik Rembang memang orang yang sangat licik. Ia menghasut petinggi Belanda untuk membunuh kang Sakerah, agar tak ada lagi penghalang keserakahannya.

Hingga suatu siang, tubuh Markus, kaki tangan petinggi Belanda, lantak diamuk celurit suamiku. Aku hafal, prinsip kang Sakerah adalah lebih baik membunuh sebelum dibunuh.
Walau ada kengerian, aku bangga atas sikap kepahlawanannya.
Dia memang ksatria!

Sejak kang Sakerah mendekam di bui, Brodin, saudara yang dipercaya menjagaku, mulai kurang ajar menggodaku. Aku jengah dengan perlakuan tak sopannya. Meski aku mengelak, dia terus mengejar seperti elang hendak memangsa.

“Sampai kapanpun kamu setia menanti, percuma saja! Suamimu tidak akan keluar dari penjara lagi. Lebih baik kamu menikah dan hidup bahagia denganku, Wong Ayu,” rayu Brodin.

“Sadarlah Brodin, aku tidak tertarik denganmu. Walau apa yang terjadi, aku akan setia menunggu suamiku kembali,” aku menolak halus.

Kabar burung bertiup lebih cepat dari angin di musim panas. Menerbangkan debu dan menggugurkan daun yang tak lagi berpegang erat pada ranting. Awan menjadi limbung kehilangan arah. Badai siap menggulung.

Begitu kabar itu sampai di telinga kang Sakerah, mendidih dan terbakarlah jiwa kelelakiannya.

Sekuat hati menahan, lahar yang tersimpan akhirnya meledak juga.
Tanah Rembang akan berguncang jika suamiku membuat perhitungan.

Lelaki Madura pantang dihinakan.

Karena, seorang istri adalah simbol kehormatan!

#KepakSayapAngsa
#ProsaLiris
#RoniRisdianto
#Sakerah_Marlena

sumber gambar : www.detiknewsfile.wordpress.com/2015/06/14/sakera-tatag-dan-madura/

Karya Sulistyorini dalam pengembangan tugas bacaan, Sakera.

2 tanggapan pada “Liris : Marlena, Perempuan Kedua (Sakera)”

Tinggalkan Balasan