Liris : Sang Pecinta (Brodin dalam Sakera)

Di detik pertama aku melihatnya, aku tahu sesuatu akan terjadi.
Marlena. Aku yakin Tuhan menciptakannya sambil bersenandung. Parasnya adalah wujud kesempurnaan.
Aku tak dapat menemukan kata yang tepat untuk melukis keindahannya.
Sebab semua yang ada di dunia ini tiba-tiba terasa hina.
Yang aku tahu, jantungku jumpalitan saat memandangnya. Nadiku menggila. Ratusan kupu-kupu beterbangan di dasar perutku saat mendengar ia berkata.

Mereka bilang cinta itu buta. Ternyata itu dusta. Cinta memiliki mata. Ia bahkan memiliki telinga.
Cintaku tahu ke mana harus bermuara.
Ke sana, gadis dengan wajah secerah rembulan dan suara semerdu burung kenari.
Gadis yang kini berdiri di sebelah Sakerah, pamanku.

“Istrimu cantik sekali, Paman,” pujiku.
Sakerah menepuk pundakku seraya tersenyum jumawa. Ia lalu menggamit Marlena dan masuk ke dalam kamar. Sesuatu di dalam diriku menggelegak. Seharusnya tangankulah yang kini berada di pinggang Marlena.

Jangan salah paham. Aku menghormati pamanku. Aku berterima kasih padanya seperti anjing pada tuannya. Tak mungkin aku melupakan semua jasanya. Namun cinta tidak mengenal tata krama. Dia datang dengan lancang dan menyelusup seperti maling. Kekuatanku belum cukup untuk membendung, hanya mampu menutupnya rapat-rapat.

Suatu hari, tentara Belanda mengusik ketenangan. Sakerah terlibat perlawanan. Ia akhirnya di gelandang menuju ruangan dengan jeruji besi.

“Brodin, jagalah Marlena untukku.” Sakerah berpesan dengan mata sendu. Sesekali ia melirik Marlena yang tengah terisak. Tatapannya dipenuhi cinta yang tumpah ke suluruh ruangan. Aku sesak. Dadaku panas. Kepalaku bergemuruh, aku bertarung dengan diriku sendiri. Sesaat aku bersorak atas kepergian Sakerah. Namun segera berganti bisikan kesetiaan dan kepantasan.

“Aku takut Sakerah tidak akan pulang selamanya,” keluh Marlena suatu malam. Beberapa purnama telah berlalu tanpa Sakerah. Marlena masih bersedih. Air matanya keperakan tertimpa cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.

Aku menyeka titik air yang tersisa di pipinya. Ia terperangah. Namun wajahnya memerah. Matanya sayu menatapku. Telunjuknya perlahan membelai ibu jariku. Bulu-buluku meremang. Darahku berdesir. Jantungku menggila. Detik itu, aku melihat cinta sedang mengendap-endap di mata Marlena.

Sesaat kemudian, jemari kami saling bertaut. Ribuan kupu-kupu kembali beterbangan di dasar perutku. Sesuatu di bawah sana bergemuruh. Menyeruak dan memaksa untuk diledakkan.

Sejak malam panas itu petualangan kami dimulai. Angin berembus dan menyiarkannya ke seantero kampung, hingga menembus dinding berteralis besi. Sakerah yang hilang akal melarikan diri dari penjara. Harga dirinya tercabik saat mengetahui kisahku dengan Marlena. Ia lalu datang dengan celurit terhunus. Amarah menguar dari setiap jengkal tubuhnya.

“Dasar bocah tidak tahu diuntung! Beginikah caramu membalas semua kebaikanku?”

“Aku berterima kasih atas semuanya, Paman.”

“Tapi kau goda istriku! Kau tiduri dia!” Suaranya menggelegar. Wajahnya merah padam. Kumisnya naik turun dengan kasar.

“Aku bukan pemerkosa, Paman.”
Aku berkata jujur. Aku tidak pernah memaksa. Bagaimana mungkin aku memaksa saat sayu mata Marlena menatapku pasrah. Pipinya memerah meronakan gairah. Sudah aku bilang sebelumnya bahwa cinta telah menyelinap. Bagaikan pencuri yang ahli, dia mengambil hati Marlena dan menyerahkannya padaku.

Cinta lalu tumbuh setiap pagi melalui sepiring nasi. Ia berkembang dalam rangkaian kata yang kami ucap. Orang-orang menganggapku tengik tak tahu diri. Menuduhku penggoda bini orang. Tak apa, biarlah mereka menghujat sesukanya. Lebih baik mereka memercayai kisah ‘Brodin si bocah tengil tak tahu diri’, daripada ‘Marlena istri tak setia’.

Ujung celurit menyentuh leherku. Aku menatap mata Sakerah. Kilat amarah telah berganti sorot penuh luka.

“Aku minta maaf, Paman.”

Sakerah bergeming. Mataku tertutup. Kelebat bayangan Marlena menghampiri. Aku merapal doa-doa bagi kebahagiaannya dan bersiap menyambut kegelapan.

 

Persembahan Delma Puspa. Brodin dalam Sakera.

Tinggalkan Balasan