Liris : Kidung Terakhir Burung Nuri

Saat Terakhir

Di hutan ini, tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Pohon besar dan tinggi menjulang sebagai tempat berteduh tatkala panas mentari meresap dalam tubuh. Kicau nyaring bersahut-sahutan, menyeruak memecah kesunyian pagi.

“Hmm … suaramu sangat indah sekali , aku sangat kagum mendengarnya,” ujar burung Nuri jantan hinggap di dahan tempat kuberpijak.

“Oh, ya! Suaraku memang merdu, bahkan kepintaranku mampu menirukan suara orang lain.” Gelak tawamu membahana mendengar jawabku, seolah itu hanya bualan semata.

“Dari sekian banyak Nuri betina yang kutemui, rasanya kamu yang pantas menjadi tuan putri untuk menemaniku. Aku terlalu lama dalam sendiri.”

“Apa kamu merasa yakin?” tanyaku.

“Tentu saja, tunggu di sini! Aku akan pergi mengumpulkan daun kering. Menyusunnya menjadi perhiasan dan menyematkan di atas kepalamu.”

Seketika wajahku merona. Hatiku berdegup kencang tak karuan.

Deg deg ser. 

Deg deg ser.

Jatuh cinta padamu adalah hal terindah dalam hidupku. Aku merasakan aroma surge dengan cintamu. Aku akan tetap bersamamu dalam suka dan duka sepanjang hidup sampai maut menjemput.

Musim berganti.

Hari yang dinanti tiba, gumpalan awan hitam berarak  lalu titis hujan jatuh membasahi bumi. Itu adalah hari yang tak mungkin aku lupakan, saat dimana kita merayakan pengikat janji. Kau membuat rumah di atas pohon sebagai tempat kita memadu kasih. Di rumah ini aku mengeluarkan butir demi butir bakal anak kita dan kaulah yang mengeraminya.

Kau menjaganya dengan sepenuh hati, bersabar sampai mereka menghancurkan cangkang yang menutupi tubuh. Akupun mengepakan sayap, terbang melesat tinggi mencari makan untuk kelangsungan hidup kita. Berharap bisa mendapatkan biji palem lezat untuk kubawa pulang.

Hari beranjak senja, aku pulang penuh riang. Rasa rinduku membuncah. Namun buyar seketika, tatkala di kejauhan aku melihat ‘pemangsa bertopi hijau’ itu menggunakan senjata laras panjang menodong kearahmu yang sedang mengerami bakal anak kita.

“Kalian pengembara liar tak tahu diri!” rutukku.

Segera aku terbang hinggap di bahu mereka. Mematuk leher, kepala, dan apa saja yang bisa membuat mereka enyah dari sini.

 

“Ah sial!” aku terpental. Tangannya menghempasku.Aku limbung lalu terjatuh.

Pandanganku kabur, berusaha bangkit. Namun gagal. Bunyi tembakan menggelegar. Membuat penghuni lain di atas pohon ini berhamburan terbang. Sekilas terlihat mereka membawa tubuhmu yang terkulai lemas.

Aku perlahan bangkit, mendekati rumah yang porak poranda.

Darah berceceran, tak kutemukan jasadmu.

Aku memunguti serpihan cangkang yang berserak.

Betapa hatiku bersedih, kekasihku pergi. Setulus pesanmu sebelum aku pergi mencari makan terlintas di benakku, bahwa kau akan menungguku.

“Cepatlah pulang! Bawalah makanan yang lezat!”ucapmu saat itu.

 

Seorang wanita. Penyayang anak dan lelaki terhornat berkenan meluangkan waktu dan pikiran bagi burung Nuri. Dora Gustika.

Tinggalkan Balasan