Liris : Kutukan Sang Pecinta (Rara Jonggrang)

Gadis itu berdiri di antara bebatuan candi yang masih berserakan. Sorot matanya tajam menatapku. Angkuh.

Hening.
Seluruh pasukan tak kasat mata yang membangun seribu candi permintaannya telah hilang. Musnah seiring cahaya merah yang muncul di ufuk timur dan kokok ayam jantan yang bersahutan. Mereka pergi sebelum candi terwujud sempurna.

“Kau tak menepati janjimu, Pangeran.” Seulas senyum licik terkembang di bibirnya. “Hari telah pagi. Dan candi belum genap seribu.”

Kalimatnya menyulut emosiku. “Kenapa kau ingkar, Putri?” Sekuat tenaga aku manahan gejolak yang membakar dada.

“Aku ingkar? Hahahaha, akui saja bahwa kau tak sanggup memenuhi syaratku! Kau dan pasukan jin mu ternyata tak cukup sakti! Perjanjian kita batal! Kita tidak akan pernah menikah!” Kalimat yang keluar dari bibir mungilnya serasa cambuk yang melecut harga diriku.

“Kau curang! Kau pikir aku tak tahu tipu muslihatmu?” Kali ini darah telah mendidih di kepalaku.

“Tipu muslihat yang mana, Pangeran?” Matanya menatapku licik. “Yang pasti fajar telah menyingsing!”

“Fajar belum menyingsing! Kau menyuruh perempuan desa menumbuk padi dan membentangkan kain putih! Sehingga ayam jantan berkokok karena mengira hari telah pagi! Kau licik, Roro!” Letusan amarah tak tertahan lagi.

“Terserah! Yang pasti seumur hidup aku tak akan menikahi seorang pembunuh!” Suaranya lantang memecah udara.

“Bagaimana mungkin kau mengkhianati janjimu sendiri, setelah semua yang kulakukan untukmu?” Aku meradang.

“Dengarkan aku, hey, Bandung Bondowoso! Dunia menjadi saksi, aku, Roro Jonggrang, seujung kuku pun tak akan pernah sudi menikah denganmu! Sekuat apa pun kau berusaha, sekuat itu pula aku menolak dan menggagalkan seluruh usahamu!”

Hatiku tercabik. Perih.

“Dasar perempuan laknat! Sombong! Culas! Kau memang tak akan menikah denganku! Tapi juga tidak dengan orang lain! Seumur hidup tak akan ada yang sudi menikah denganmu, Putri!”

“Hahahha, rasakan kekalahanmu! Mengumpatlah sesukamu! Kau kalah, Pangeran!”
Roro Jonggrang hendak pergi. Tapi tak semudah itu! Dia harus bertanggungjawab atas luka batin ini.

“Hey, kau, perempuan keras kepala berhati batu! Kau tak akan kemana-mana! Tempatmu di sini! Menggenapi arca permintaanmu! Engkau lah arca ke seribu itu!!”

Petir menggelegar. Semesta menjadi saksi ucapku. Roro Jonggrang terpaku. Membatu.

Suasana menjadi sunyi.

Bahkan seolah tidak ada lagi kehidupan.

Di bawah bulan yang bercahaya penuh, aku terduduk pilu.
Aku tidak mendengar pasti suara hati. Ia tengah meratapi luka hati. Aku juga mendengar isaknya. Ia menangisi ucap yang jadi kutukan untuk gadis yang sangat aku cintai. Aku dan hatiku tahu itu.

Roro Jonggrang.

Gadis yang menjadi batu itu akan selalu jadi saksi. Setulus apa pun cinta, pengkhianatan adalah neraka.

 

 

Persembahan Alin Tersiana dalam peran Bandung Bondowoso untuk Rara Jonggrang.

Tinggalkan Balasan