Liris : Si Pitung

Pitung panggilanku, nama asliku Salihoen.

Aku lahir di kampung Pengumben, pemukiman kumuh di Rawabelong dekat stasiun Palmerah.

Orang bilang pitung itu artinya adalah pitung pitulung yang berarti tujuh sekawan yang tolong menolong.

Aku putra keempat dari bang Piung dan Mpok Pinah.

Aku menghabiskan waktu masa anak-anakku dengan mengaji di Hadji Naipin.
Aku juga diajari pencak silat, ayah punya harap agar aku waspada terhadap keadaan sekitar.

Gomar, si centeng,  telah mengubahku menjadi berandal. Suatu hari kambing ayah yang aku dagangkan ternyata dicuri olehnya.
Ayah marah karena aku melenyapkan hartanya.
Aku berkata pada ayah, bahwa kambingku di rampok. Namun aku berbohong.

Namun alasan itu tak dipercayainya. Beliau memintaku untuk mencari sampai ketemu. Takdir sungguh baik aku menemukan Gomar. Aku berhasil mengambil lagi harta ayahku.

Tapi sial bagiku.
Saat itu pula aku dipaksa oleh Gomar untuk masuk ikut dalam gerombolannya. Aku menolak. Apa jadinya jika ayah juga guruku tahu, jika seorang yang dibanggakan menjadi anggota gerombolan perampok.
Rayuan Gomar nggak tanggung-tanggung, akhirnya aku luluh juga.

Aku menjadi perampok. Pekerjaan yang bukan bagian mimpi ayah.
Bahkan aku adalah pemimpin kawanan.

Kau lihat itu!

Lalu aku juga menyamar sebagai pegawai pemerintah Belanda. Aku di sebut dengan Demang Master Cornelis.
Dengan sebutan tersebut aku menipu. Memperdayai orang-orang kaya. Salah satunya adalah Haji Saipudin.

Aku memberikan surat untuk Haji Saipudin, agar dia menyimpan uangnya di Demang Mester Cornelis, kukatakan bahwa uang tersebut dalam pengawasan pencurian.

Haji Saipudin pun setuju dan tanpa curiga. Kesempatan itu kugunakan untuk membawa lari uang Haji Saipudin, tentu bersama kelompok besarku.

Aku menjadi buronan kompeni.
Ternyata keberadaanku menarik perhatian seorang komisaris polisi bernama Van Heyne.

Van Heyne memburuku dengan membabi buta.
Aku kemudian di tangkap dan di tahan di ka Demangan Mester Cornelis.

Aku dipenjara.

Tidak lama aku dipenjara
Kekuatan sihir dan tenaga dalam yang kumiliki mampu membuatku keluar dari penjara lebih cepat.

Kepala penjaralah yang dicurigai melepaskanku.
Dia dituduh meminjamkan linggis padaku untuk membuka terali penjara.

Aku tidak peduli. Kecurigaan rakyat terhadap kepala penjara adalah persoalan berbeda. Aku sangat lega, mampu lolos dari pengapnya jeruji besi.
Dengan demikian aku bisa mencari lebih banyak harta untuk membantu rakyat miskin di luar sana.

Persetan dengan Belanda!

Aku hanya berharap mereka dapat menikmati hidup layak tanpa tekanan dari Belanda.

Suatu hari seorang perempuan memberi kesaksian. Ia berkata bahwa ia melihatku singgah pada sebuah perahu bernama Prasman.

Kesaksian perempuan ini membuat seorang polisi rahasia bergerak untuk menyelidiki keberadaanku.

Aku sulit ditangkap. Licin bagai belut berlumur minyak. 400 gulden adalah harga sebutir kepalaku.

Belanda menginginkan aku ditembak mati.

Kematianku adalah minyak tersulut api. Orang bermata biru batalkan niat.

Aku merasa bebas untuk mencuri. Mencuri dan melakukan kekerasan adalah kebiasaanku. Bersama Dji-ih aku juga balas dendam untuk membunuh polisi intel Djeram Latip.

Aku juga merampok perahu milik pedangang di Kali Besar, sarung ratusan gulden milik Nyonya De C aku bawa pergi.

Sahabatku Dji-ih sakit di kampung halaman. Dia ditangkap di rumahnya.
Dji-ih yang teramat lemah tak mampu meraih pistol meski ada dalam jangkaunnya.
Dji-ih benar-benar menyerah.

Seseorang bersumpah dengan mengatakan aku membunuh Dji-ih.

Heyne kembali memburuku dengan segala cara. Mencariku dari atas ke bawah, bawah ke atas, terkadang serong kiri kanan, kanan kiri.

Aku selamat.

Tak lama berselang, aku dikhianati sahabatku sendiri. Somatlah yang mengabarkan kelemahanku.
Bahwa kekuatanku selama ini adalah pada jimat keris yang selalu kusandang.
Jimat itu raib. Sengan bantuan Somat jimat itu lepas dari tubuhku.
Tiga tembakan yang dilepaskan oleh Heyne telah memisahkan nyawa dari ragaku.
Kampung Bambu adalah kampung antara Tajung Priok dengan Meester Cornelis, disitulah aku meregang nyawa.

Suatu saat kau akan mendengar kisahku. Kau boleh tidak percaya, tetapi aku pernah ada di tengah kalian.

 

Dipersembahkan oleh Tuty Sri Hartuti yang berusaha keras menjiwai tokoh legenda, Si Pitung.

 

Sumber gambar :

Www.sipitungputrabetawi.blogspot.com/2010/03/?m=0

Tinggalkan Balasan