KKG -Jati Anom Obong 14

Di tepi Kali Progo kala senja semakin merayap gelap. Swandaru menolong tukang satang untuk keluar dari keributan yang terjadi.

Dengan segala kekuatan yang ada dalam dirinya, Swandaru merangkul erat tukang satang. Ia memutar tubuh cepat melompat menuju batang sungai, namun sebelum tubuhnya menyentuh permukaan air, Swandaru melontarkan tubuh tukang satang ke tepi Kali Progo. Jarak mereka berdua memang begitu dekat sehingga tukang satang dapat terdampar di bagian berpasir tepi sungai.

Sementara itu, keadaan Agung Sedayu memang terlihat lemah. Bagian punggungnya begitu terbuka dan Ki Prayoga melihat lubang pertahanan yang sangat luas. Kaki Ki Prayoga berkelebat cepat menggapai Agung Sedayu dengan gerak seperti ayunan cangkul.

Pendengaran Agung Sedayu menangkap deru angin tendangan sedang mengarah padanya dan siap mematahkan tulang belakangnya. Ia berguling ke samping dengan cepat. Sejengkal dari tubuhnya adalah air Kali Progo. Dan tanpa ada halangan, kaki Ki Prayoga menghancurkan lantai rakit. Rakit terguncang keras. Getar dahsyat melanda permukaan Kali Progo. Bahkan getar tenaga yang dilontarkan Ki Prayoga telah menimbulkan gelombang air yang cukup tinggi menghantam bibir sungai.

Agung Sedayu melompat bangkit dan menjauh dari Ki Prayoga.

“Ki Prayoga!” Agung Sedayu telah berdiri dengan tubuh sedikit merendah. “Sejak awal aku tidak ingin mempunyai dugaan buruk tentangmu meski kau katakan banyak hal yang sulit diterima nalar.”

“Diamlah, Agung Sedayu!” datar Ki Prayoga berkata. Kembali ia melayangkan tendangan yang mirip ayunan cangkul pada Agung Sedayu namun kali ini ia melakukannya lebih dahsyat. Tapak kaki Ki Prayoga bergeser cepat, sedikit melayang ia melontarkan tendangan cangkul dengan lambaran tenaga cadangan.

Ketenangan Agung Sedayu memang luar biasa. Ia mempunyai keyakinan tinggi atas kemampuannya berkelahi di atas sungai. Satu ilmu dari kitab peninggalan gurunya telah tuntas ia serap. Ia mesu diri dengan berendam di sungai dalam pengawasan Ki Jagaraga dan Ki Gede Menoreh. Pada masa itu, Ki Waskita pun turut menyaksikan keberhasilan Agung Sedayu melampaui batas tertinggi Kiai Gringsing.

Dan memang penilaian semacam itu muncul dan seolah telah mereka sepakati bersama. Suatu ketika, Ki Waskita berakata pada Ki Gede, “Aku belum  pernah menyaksikan Kiai Gringsing menghempas satu ilmu dari dalam air. Atau mungkin Ki Gede pernah melihatnya?”

“Aku tidak terlalu sering melakukan perjalanan bersama guru Agung Sedayu. Dan jika Agung Sedayu menguasai ilmu itu dari kitab gurunya, bisa saja Kiai Gringsing pernah menunjukkan bagian inti dengan cara yang tidak kita ketahui, Ki Wakita,” jawab Ki Gede Menoreh.

Ki Jagaraga yang berada di dekat mereka lantas mengangguk-angguk pelan.

Guru Glagah Putih itu berkata lirih, “Satu kemungkinan lain adalah Kiai Gringsing menekankan pada penguasaan cambuk. Ia   yakin pada kemampuan Agung Sedayu untuk merambah bagian yang lain. Meskipun ia tak lagi mendampinginya.”

Ketiga orang yang disegani di Tanah Perdikan Menoreh itu kemudian beralih pembicaraan tentang mesu diri Agung Sedayu selama sebulan di dalam sebuah gua yang terletak di Jati Anom.

Tetapi kali ini Agung Sedayu tidak menghindar serangan Ki Prayoga. Agung Sedayu lebih cerdik memanfaatkan keadaan perahu yang terombang-ambing akibat gerakan mereka. Ia memapas setiap serangan Ki Prayoga dan melakukan bermacam gerak yang sebenarnya berakibat pada pergerakan rakit itu sendiri. Agung Sedayu berkali-kali membenturkan tenaga dan setiap kali terjadi benturan, rakit semakin mendekati  bagian sungai arah Sangkal Putung.

Pergeseran yang sama sekali tidak disadari Ki Prayoga.

Semula ia mengira akan dapat mengungguli Agung Sedayu dengan perkelahian di atas rakit. Ki Prayoga banyak mendengar dari percakapan orang tentang kehebatan senapati Mataram dari pasukan khusus itu. Namun ia tidak mendengar perkehalian Agung Sedayu di atas air.

Sama sekali tidak ada!

Karena itulah, Ki Prayoga dengan kepercayaan diri yang tinggi dan bekal olah kanuraga yang luar biasa mempunyai keyakinan akan dapat menghadang kedatangan Agung Sedayu di  Sangkal Putung.

Namun ia salah menilai. Ki Prayoga justru larut dalam siasat yang diperagakan Agung Sedayu. Ia mengira Agung Sedayu akan bertarung hingga puncak tertinggi di atas rakit.

Tinggalkan Balasan