KKG – Jati Anom Obong 15

Rakit semakin mendekati wilayah berpasir tepi Kali Progo.

Jarak telah terukur dan ditunjang pertimbangan yang matang, tiba-tiba Agung Sedayu berkelebat dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa.

Ia melayang rendah.

Sejengkal di atas permukaan air dan itu telah cukup memadai memberi kejutan pada Ki Prayoga.

“Wong edan!” umpat Ki Prayoga.

Ia terlambat menyadari kelicinan siasat Agung Sedayu. Namun Ki Prayoga tidak merenungi lebih lama. Ia cepat menyusul lawannya dengan kecepatan yang tak kalah lesat dari Agung Sedayu.

Perkelahian sengit segera terjadi di atas hamparan pasir yang sedikit luas..

Suasana semakin gelap.

Agung Sedayu tidak lagi sekedar bertahan dari serangan Ki Prayoga. Setiap serangan Ki Prayoga selalu berbalas serangan balik dari Agung Sedayu. Mengenali lingkungan perkelahian adalah keunggulan yang menonjol dan itu dimiliki oleh Agung Sedayu.

Walau demikian, Agung Sedayu lebih cenderung untuk meningkatkan pertarungan selapis demi selapis. Ia bergerak semakin cepat dan kuat.

Ki Prayoga yang keliru memberi penilaian segera mengimbangi orang kepercayaan Panembahan Senapati semasa hidupnya. Ia menambah daya tahan tubuh dan menggandakan setiap terjangan. Udara menjadi panas oleh hawa tenaga cadangan yang keluar dari setiap sambaran Ki Prayoga.

Dengan cara yang mengejutkan lawannya, Agung Sedayu mengetrapkan ilmu Kakang Kawah. Dari balik punggungnya mendadak keluar dua sosok Agung Sedayu.

“Menakjubkan!” desis Ki Prayoga dan ia mengimbangi lawannya dengan cara yang sama. Tiga sosok Ki Prayoga berhadapan dengan tiga Agung Sedayu.

Enam wujud yang segera memenuhi lapangan sempit berpasir di tepi Kali Progo. Enam wujud yang bukan lagi wujud semu.

Agung Sedayu tiada lelah selalu berusaha menggali kedalaman isi kitab gurunya. Merenungi serta memikirkan cara untuk menyelami aksara demi aksara yang tertera pada kitab telah membuatnya mencapai puncak ilmu Kakang Kawah Adi Ari-Ari. Dua sosok Agung Sedayu akhirnya mempunyai kekuatan yang sama dengan tubuh yang asli. Dua bayangan itu mampu mengendalikan setiap kemampuan yang dimiliki. Serupa dengan Agung Sedayu yang asli.

Begitu pula yang diwujudkan oleh Ki Prayoga. Dua tubuh semu yang keluar darinya juga mempunyai lapis yang sama dengan wujud asli.

Saling melontarkan serangan, membenturkan ilmu tak lagi dapat dielakkan. Benar-benar pertarungan enam orang melawan enam orang.

Di bagian lain.

Swandaru telah meloloskan cambuknya dan lecut sendal pancing meledak di udara. Ia sudah tak sabar lagi untuk segera mengawali pertarungan melawan sejumlah orang yang masih bersembunyi di balik ilalang.

“Pahamilah! Kalian menghadapi Swandaru Geni!” seru Swandaru dengan memutar cambuk membungkus tubuhnya.

Terjangan Swandaru begitu dahsyat. Rumput tinggi tersibak oleh angin yang keluar dari putaran cambuknya. Empat orang segera menyambut tandang suami Pandan Wangi dengan senjata dan cara yang tak kalah ganas.

Masing-masing orang bersenjata sepasang belati yang terikat dengan rantai. Dan yang terjadi adalah delapan belati beterbangan menyambar tiada henti ke arah Swandaru. Pertarungan yang tidak seimbang semakin mencekam ketika muncul dua orang turut mengepung Swandaru.

Satu dua bintang telah mengawali malam. Menjadi tanda bahwa senja telah berakhir. Udara dipenuhi kelelawar yang meniti jalan hidup. Suara binatang malam perlahan merayap pada setiap tangga di angkasa.

Dua lingkar perkelahian menjadi semakin sengit.

Gelap yang merundung tempat pertarungan ternyata tidak menjadi halangan bagi dua pihak yang berbenturan. Bahkan yang terjadi adalah setiap orang meningkatkan serangan semakin pesat. Pada bagian ilalang yang telah setinggi dada lelaki dewasa terjadi pergumulan dahsyat. Cambuk Swandaru belum berhenti menghentak dan meledak dahsyat memecah setiap usaha para pengeroyoknya. Swandaru yang tidak terhalang dengan berat tubuhnya terkadang mampu mengikat dua orang dalam ayun cambuknya. Ia mampu membaca keadaan dan menilai kepandaian orang per orang yang menjadi lawannya.

Kelebihan jumlah yang dimiliki lawan Swandaru belum mengubah kedudukan pertarungan. Walau begitu, mereka gigih dalam upaya mengurung Swandaru agar tak bebas bergerak. Lontaran belati secara berantai terus menerus berusaha mencabik setiap bagian tubuh menantu Ki Gede Menoreh.

“Aku adalah Swandaru Geni! Kalian tidak akan mampu mengalahkanku!” desis Swandaru. Lalu dengan mendadak, ia mengubah tata geraknya.

Tinggalkan Balasan