Liris : Es Tinta? Sungguh Terlalu!

Melihatmu sendiri kala menahan lapar sama dengan melihat es tinta..

Kau berkata bahwa bahagia adalah ketika tercebur dalam semangkuk es tinta..

Tetapi semesta mengajarkan bahwa setiap kepul debu itu disebabkan tinta yang merana. Tinta yang menyisir jalan menemui sebongkah es.

Es tinta

Kau yang mengajarkan tentang merajut rindu, lebur bersamamu, wahai es tinta..

Senikmat dahaga yang menyatu bersama ranum senyum bibirmu yang dingin, aku mengecup lembut sisa es tinta..

“Aku rindu mereguk es tinta.” Itu ucapmu saat aku menyajikan es tinta. Dan itu juga bukan kata-kata dari Rara Jonggrang.

Es tinta selalu jujur. Meski hitam tapi tak pernah berdusta. Dia tulis apa yang ada. Ia berkata ada apanya tapi bukan suka-suka.

Apa yang terasa?

Ia utarakan segalanya. Tak ada yang sejujur es tinta. Dan sedikit yang setulus cinta Sakera.

Senja beranjak pergi saat Putri Nawang Wulan menuju ke sungai.
Berpandu kunang-kunang.
Nawang Wulan bertanya dalam hati.
Jaka Tarub mengirim gambar es tinta lalu
berharap aku bahagia?

Terlalu!

Es tinta adalah bukti cinta.
Cintamu pada keindahan aksara.
Cintaku pada alunan gamelan.

Kala lapar melanda, tetaplah bahagia. Pikirkan dia di dalam kalbu, bersama rindu yang terus menggebu. Rasakan hadirnya dalam aliran paduan rasa. Es tinta.

Es meleleh bersama hangatnya cinta. Hitam tak mengalahkan bahagia.

Dahaga sirna karena setetes tinta. Tapi rasa rindu tetap saja menghantui di setiap tegukan.

Es tinta adalah aku. Pekat dengan embun sebagai selimut tubuhku.

Aku mendengarnya.
Bangku panjang itu berbisik,” Es Tinta, waktu tak mungkin berubah. Sejauh aku membujur kaku di tempat ini, ia tak berpaling padaku.”

“Ketika kau memahat dalam sepi, aku akan memudar bersama kekasih. Waktu memaksaku agar luntur dalam genggamnya. Dan kau lihat, aku masih bertahan,” sahut Es Tinta.

“Tapi aku bukan Bandung Bandawasa.” Gerutu bangku panjang dengan gemas.

Sayup ayam berkokok melambung pelan beriring awan dari barat. Es tinta merayap. Ia mulai mengembun.

“Ini es tinta untukmu, Dek.”
Aku kira dia merayu, ternyata hanya menuang rindu. Dalam cairan berwarna pekat, es batu berenang bersama rindu.

“Minumlah dulu, Mas, aku ingin merasakan hangat bibirmu yang menempel di gelas itu.”

Rasaku bergelung dalam indah tatapanmu. Gairah meraja, memenuhi relung jiwa. Semakin aku menjauh, kau semakin dekat. Es tinta memadukan rasa.

“Aku tak mau sedikitpun tanpamu,” aku berbisik pelan. Aku ingin selalu ada kamu disini, mendinginkan rasa dan jiwaku.

Es tinta, senyum itu terpantul dipermukaanmu.
Es tinta, masih kuingat menikmatimu bersamanya.
“Aku abadikan kenangan di sini, dalam ruang gelap nan sejuk” es tinta katakan itu padamu.

Hanya untukmu. Karena ia tahu bahwa kau bukan putra Pandu, Arjuna.

Es tinta kembali merajuk, aku terpojok dalam dinginnya es tinta yang tersuguh dalam gelas bening.

Kuputar gelas bening berisi es tinta, kembali mencari bekas bibirmu di sana. Kutemukan dan kusesap penuh rindu.

Aku menggigil.
Dingin es tinta meluluhkan hati yang cemburu.

Sungguh terlalu!

Hatiku sakit.
Saat mengenang es tinta, wajahmu yang terbayang. Haruskah mengingatmu?
Aku ingin melupakanmu!

Tapi aku tak mampu!

Kau yang hitam telah menyiksaku dalam rindu.

Kau yang pekat menjadi hantu dalam hidupku.

Sungguh terlalu!

Cinta bernoda darah. Cinta dalam sengsara. Cinta yang berakhir bahagia dan segala yang terhubung dengan cinta selalu abadi dengan tinta.

Untukmu yang tak punya rasa cinta, kau adalah batu yang beku. Sebeku es di musim salju.

Sungguh terlalu!

Dipersembahkan oleh emak yang masih bergabung dalam Kelas Lanjutan Liris Kepak Sayap Angsa.

Semoga cinta menjadi karunia terbaik bagi Indonesia dan dunia.

2 tanggapan pada “Liris : Es Tinta? Sungguh Terlalu!”

Tinggalkan Balasan