Liris : Sebut Tiga Kali Namaku, Sayur Asem!

*Sayur Asem*

Aku digemari banyak orang. Mereka memberiku nama, Sayur Asem. Emak menuangkan kacang panjang, kacang polong dan ada potongan daging yang membaur padaku.

Di kota Tuban, aku sedikit pedas. Namun mereka masih menyebutku sebagai Sayur Asem.

Aku tidak paham sebenernya, kenapa aku bisa berisi banyak sayur tanpa aturan baku. Aku bahkan kadang bisa berisi wortel, daun so hingga labu siam.

Kadang ada kacang panjang kadang tidak. Entahlah.

Terkadang aku berteman sambal terasi. Dengan nasi hangat yang pulen. Disantap begitu lahap sampai ludes.

Jangan biarkan kuahku tersisa karena disitulah rasa asemnya.

Meski kau sering umpat,”Asem tenan kowe!”

Di lain hari kau maki,”Hassyeeeem!”

Aku tetap bahagia walau hanya mengutip sepotong namaku.

Kau merinduku saat kau katakan benci.

Aku adalah teman nasi yang pas saat cuaca panas. Aku bahagia, melihat anak-anak makan dengan lahap. Lidahnya berdecap-decap.

Sayang, seorang ibu enggan menikmatiku jika tanpa sambal.

Kadang pepaya mentah ditambahkan untuk melengkapiku. Ibu juga menambahkan banyak cabe untuk membuat warnaku menarik dan rasaku menggairahkan.

Saat tidak ada asem, ibu menggantinya dengan buah belimbing sayur.
Si hijau mungil segar yang makin mempercantik wajahku.

Kau tahu? Sambal terasi dan ikan asin adalah jodoh terbaikku. Di Jakarta mereka melengkapiku dengan jagung, kacang tanah dan melinjo

Sesap kuahku, nikmati aku dengan caramu. Kau rasakan pesonaku, hingga membuatmu lupa diri

Aku adalah sayur yang membuat kedua si mbah keliru dalam kesepakatan. Antara Madiun dan Tegal.

Kangkung dan kecambah kedelai dalam naungan kuah bening, membuat sayur asem si mbah Tegal tampak seperti sayur beraneka warna.

Selain ikan asin dan sambal, jengkol dan pete juga sering menemaniku. Jika sedang hilang selera makan, rasanya aku sayur yang paling banyak dicari.

“Bu, aku boleh nambah sepiring lagi ya?” Tiga piring nasi sudah habis disantapnya bersamaku.

Tahukah kau?
Akulah tersangka utama gagal turunnya berat badan Similikiti. Dia tak pernah sadar berapa panci tubuhku menyatu dengan tubuhnya dalam tempo satu jam. Dan tahukah kau? Karena rasaku maka dia menjerit di depan timbangan.

“Sayur asem, Sialan! Naik lagi berat badanku!”

Lucu! Sungguh lucu.

Apa salahku? Aku tak pernah memaksanya menelan dan melumatku.

Mereka hanya perlu kambing hitam dari kerakusannya sendiri. Dan, itu aku!

Ah, manusia!
Selalu saja pandai menyalahkan yang lain. Tapi enggan mawas diri.

Kalau aku hanya menggagalkan keseimbangan berat badannya, mengapa masih saja menyukaiku?
Mengapa masih memasakku dengan makanan tambahan yang membuatnya makin rakus dan lupa diri?

Lucu, sungguh lucu!

Lelaki botak itu melihatku dengan mata melotot.
Nafsu pada pandangannya.
Dia mengambil mangkok dari meja. Lahap menikmati tubuhku.
Ikan asin dan sambal terasi menemani.
“Segar! Enak sekali!” kata dia.

Syukurlah!
Aku bisa membuatnya senang.
Berbagi kebahagiaan bagi sesama, berpahala.
Bukankah begitu?

Namun setelah itu, aku melihat laki-laki itu meringis sambil memegang perut gendutnya. Aku terkejut, karena dia nyaris jatuh saat berlari menuju kamar mandi.

“Sayur asem sialan, aku jadi mules,” katanya. Aku tidak mengerti apa salahku. Aku tidak memaksanya menikmatiku dengan mangkuk besar itu. “Salahnya sendiri makan rakus sekali.” Pikirku.

Rasaku memang nikmat, hingga membuat setiap lidah bergoyang. Tapi, jangan kambing hitamkan aku penyebab sakitmu, Tuan.

Perpaduan asam, pedas, asin dan manis. Itulah cita rasaku. Enak di lidah, endang di rasa. Karuniaku. Kelebihanku. Teruslah nikmati tubuh dan aromaku. Jangan lagi kau jajah, wahai manusia berkepala botak.

Aku kasih tahu ya?
Jangan bilang siapa-siapa
Aku paling tidak suka kalau Nduk Sri tambahkan irisan tomat dalam kuah panasku
Bikin cepat basi!
Lantas sepanci diriku yang tersisa akan dibuang
Cukuplah tubuhku kau merahkan dengan tumbukan kulit lombok besar
Itu sudah sangat menarik
Sudah membuatku enak dipandang
Mampu membuat mata dan lidah manusia birahi padaku
Tolong sampaikan pada Nduk Sri
Aku adalah sayur asem tanpa tomat!

Aku adalah sahabatmu di tanggal tua.
Saat tinggal uang lembar terakhir bersisa. Cukup sayuran sisa yang ada.
Jadilah sayur asem lezat tiada tara.

Jangan hiraukan bentukku yang beraneka. Sayur asem bisa mengubah wajah kecut jadi tawa.

Letak kenikmatanku memang pada kuah. Desah kepuasan meluncur dari bibirmu. Saat kau menyeruput sisa kuahku di mangkuk itu. Tandas tak tersisa. Pedas, manis, asin, asam, berpadu dalam satu rasa.

Kau melirik panci di kompor. Semangkuk belum cukup. Tak mengapa. Ambil saja. Tugasku memang untuk memuaskanmu.

Aku sangat bahagia ketika melihat kau menikmatiku lagi, tetapi teman sebelahmu mengatakan bahwa aku penyebab perih lambungmu.

Sedih bercampur haru kala aku mendengarnya. “Apakah aku seburuk itu?”. Aku berharap semoga kau sehat selalu.

Sayur Asem adalah namaku. Menghimpun banyak rasa dan tanaman yang tercerai dari akarnya. Aku bersikap jujur padamu bahwa tidak menyakiti mereka yang bersandar dalam namaku.

Mereka memujaku dengan persembahan dari biji tomat dan lombok. Itu tidak mengubahku menjadi sayur yang lain.

Aku adalah Sayur Asem.

Akulah sayur yang banyak penggemarnya. Di penjuru nusantara. Tidak ada orang yang tidak mengenalku. Kaya, miskin, tua, muda, mereka sangat mengenalku.

Aku tersohor dan mampu berkembang dalam banyak jenis. Ada yang mengolahku dengan kuah bening seperti aku. Ada juga yang pedas memberingas, tapi tidak ganas.

Ya, begitulah aku, Sayur Asem yang bikin adem orang yang menyantapnya.

Sebut namaku tiga kali jika kau lapar.
Asem!
Asem!
Asem!

Haasyeeem!

Karya ini ditulis bersambung oleh para emak yang tergabung di Kelas Mengenal Liris Mei 2019.

Mereka ingin berkata tentang Sayur Asem dan yang terkandung didalamnya. Termasuk pandangan hidup.

Semoga bermanfaat!

Rahayu🙏

2 tanggapan pada “Liris : Sebut Tiga Kali Namaku, Sayur Asem!”

Tinggalkan Balasan