Liris : Dia adalah Bothok Teri

Kelopak mata Cah Gemblung terbuka lebar.

Ternganga. Ia berseru.

Aaaah..
Bothok teri.
Diemplok.
Tahu dipotong kecil-kecil.

Diemplok.
Oh mbak Indri, lihat wajahmu aku teringat bothok teri.
Diemplok.

Berbungkus daun pisang.
Direbus dalam dandang.
Disaji belum matang.
Kok diemplok?

Mendem!

“Nyosor ae!” Si Mbok menggerutu.

Bothok teri terlanjur masuk ke kerongkongan.

“Duh, Mbak Indri! Sliraku sliramu! Padaku padamu!
Ngemplok bothok seperti ngemplok dirimu.
Membuatku ketagihan.
Teri mentah sosor saja, bleh!
Edan!
Nyangkut di tenggorokan.
Tersedak, Maaaak!”

Bothok teri bothok klangenan.
Kunyah pelan. Penuh perasaan.

“Dasar bocah nggragas!
Bothok mentah diemplok, nggak ono aturane blas!” semprot si Mbok. Ludah merah berhamburan.

Simbok simbok..
Saya bukan Hanoman, bukan Pangeran Kesiangan. Saya bukan Superman bercawat merah dan kebal senjata tajam.

Saya seorang anak yang kelaparan, Mboook!

Aku lapar. Bothok aku embat, tapi..

Krompyang!
Prang!

Wasyeeeem! Kucing gondol bothok.

Lalelaa lelaa lelaaa leguuung
Simbok bingung, pakne linglung
Anak sithok jebule gemblung!

Krupuk puli nasi jagung.
Bothok teri terayun linglung. Ia tak mengerti alasan untuk menjadi bingung.

“Di dalam bungkus itu bukan sekedar bothok teri. Ada Sari, ada Betty, ada Murni, ada Uty, ada Tutty dan semua itu bagian bothok teri,” kata Cah Gemblung suatu hari.

Tampang bijak penuh wibawa menghias wajahnya. Mirip Ramayana di masa tua. Sekilas seperti Lord Aragorn ketika berhasil meruntuhkan Menara Kembar yang dihuni Sauron.

Bothok teri mentah bersemat pete dan cabe rawit. Adonan edan berasa nikmat diemplok.

Sarapan e bothok teri tanpa terasi
Ngemil e gethuk lindri
Ojo lali ngemut gulali
Bothok teri konco sepi
“Gemblung, yo wes ben!” kata Mbak Indri

Bothok teri marai lali
Sego sak cething entek, rak nurahi. Simbok bingung! Simbok muni-muni!

Hoooong!
Tanah gonjang ganjing. Bintang enggan mengerling. Awan berarak jalan kepiting.

“Kau lihat?” tanya Cah Gemblung.
Mbak Indri angguk kepala.
“Cintaku padamu senikmat bothok teri.”
“Halah mas. Mbok yang mewah. Merayuku dengan bothok teri itu seperti Subali kabur dari peluk Cat Woman!”

Cah Gemblung terkesiap.
Kapankah Subali kencan dengan Cat Woman?

Bothok teri.
Tak emplok neng pinggir lawang.
Mbak Indri mbalang liring
Waduh, Mbok, anakmu keselek bothok teri
Larane setengah modar.

“Nyebut, Le, nyebut!”

“Gemblungmu ojo keterusan!”

Si Mbok panik.
Gara-gara mbak Indri, anak lanang jadi kedanan bothok teri.

Oh.. Bothok teri, bikinan simbok..
Kau bikin aku, selalu nagih.
Nikmat rasamu, menggoda lidahku untuk melumatmu.

Masih ingatkah?
Bau amis saat melumat bibirmu?
Saat nonton misbar?
Ingatkah?
Kau lempar aku dengan bakiak.. karena bibirmu tertusuk duri teri yang nyelip di sela gigi..

Oh Indri! Kekasihmu bukan Iron Man. Seorang petani sederhana. Ingin jalani cinta apa adanya. Ada apanya. Denganmu. Hanya kamu.

“Suwe-suwe kowe njelehi, Mas!”

“Berpikirlah bothok teri tanpa teri. Kamu jalani tanpaku di sisimu!”

Cah Gemblung mikir keras. Keras mikir. “Rasanya seperti apa?”

Apa sama rasanya seperti kangen pada Indri?
Cah Gemblung gelisah ketika bothok teri telah berbumbu cinta.

Di bawah terik matahari sebagai payung, Cah Gemblung bersyair di kaki langit.

“Ini sebuah kisah cinta. Antara aku, Indri dan bothok teri. Bukan Iron Man dengan Anjani atau Dewi Kunti.

Kau dapat berkata antara beras dan ketan. Ketan dengan beras.

Antara waras dan edan. Edan dengan waras. Waras edan. Edan waras.

Namun kau akan paham bahwa waras dan edan hanya terpisah jarak setipis helai rambut.

Kala kau mengaku waras, sebenarnya kau sedang edan. Saat orang menilai kau edan, sesungguhnya kau adalah orang waras.

Apa ini tidak edan?

Kau tidak akan dapat mengerti tentang air yang ada di dalam sebutir kelapa. Dengan cara yang sama, kau kesulitan untuk pahami bahwa kebaikan dapat bersemayam dalam sukma setiap hewan.”

Seperti itulah bothok teri berpesan padamu. Melalui aku, Cah Gemblung.

Bothok teri bukan lambang perih atau pedih. Bothok teri berbalut daun dari tumbuhan yang hanya mengenal berbuah sekali lalu mati.

Bothok teri mengenalkan diri.
Bahwa ia adalah sekumpulan rasa perih yang tercecer. Perih yang merambat. Perih yang ingin berbakti dengan sisa nelangsa.

“Mereka berkumpul dalam pelukanku” ucap Bothok Teri pada Cah Gemblung melalui saluran bicara jarak dekat.

“Lalu?”

β€œMereka berusaha menjadi satu nyawa. Satu jiwa agar berani. Bernyali.”

“Dan?”

“Kau berada di sini untuk mengirim pesan pada banyak orang. Katakan, aku adalah bothok teri. Himpunan pedih yang akan mengubah warna dunia menjadi bahagia.”

“Itu saja? Bukankah kau lakukan itu sejak lama?”

“Sejak kau menjadi gila, Cah Gemblung!”

Apa ini tidak edan?

 

====

Terima kasih atas sumbangsih emak yang belum rela membubarkan diri dari Kelas Lanjutan 1 Liris Kepak Sayap Angsa.

Rahayu πŸ™

Tinggalkan Balasan