KKG – Jati Anom Obong 16

Terjadilah perubahan yang nggrigisi!

Tandang Swandaru membuat kulit meremang orang yang menyaksikannya!

Swandaru berubah menjadi banteng ketaton. Penuh tenaga, tak lagi ada rasa gentar karena percaya diri yang kuat. Ia merangsek, memecah dan menggedor dahsyat setiap orang. Meski mereka mengepungnya rapat!

Swandaru yang tekun berlatih bersama istrinya, Pandan Wangi, serba sedikit menyerap ilmu pedang kembar yang dimiliki putri tunggal Ki Gede Menoreh. Ia mengembangkan dan berusaha meleburnya dengan dasar gerak yang diperolehnya dari Kiai Gringsing. Kemudian lahirlah gerakan yang khusus dan sulit diduga arahnya.

Cambuk Swandaru tak lagi mengeluarkan ledakan yang menggetarkan gendang telinga. Ia banyak mengurangi lecut sandal pancing, tetapi maut mengintai setiap orang yang mengeroyoknya.  Kekuatan Swandaru seolah meningkat berlipat ganda, peningkatan ini adalah akibat dari perubahan gerak yang ia lakukan. Ujung cambuk Swandaru seolah mempunyai mata. Ia mampu menghadang setiap gerak orang yang akan mengurungnya. Tata gerak yang sulit dinalar karena pada saat yang sama, ia sedang melakukan tekanan pada pengeroyok yang lain. Swandaru menjadi semakin berbahaya.

Gerak kaki Swandaru seperti tidak berhubungan dengan putaran cambuknya, dan sebenarnya itu adalah kelanjutan dari ilmu pedang Pandan Wangi. Tangan dan kaki Swandaru adalah senjata yang terpisah. Keduanya seperti mempunyai kehendak yang dimiliki oleh dua orang. Meski kaki Swandaru melancarkan pada orang yang berada didepannya, cambuk Swandaru akan menutup celah pertahanan di tiga bagian yang lain.

Dan pertarungan berlangsung semakin menggetarkan ketika ujung cambuk Swandaru mulai mengoyak tubuh pengeroyoknya satu demi satu.

Swandaru yang geram karena kebakaran yang melanda Tanah Perdikan Menoreh, menjadi semakin marah dengan serangan atas dirinya dan Agung Sedayu di tepi Kali Progo. Ia merambatkan tenaga inti hingga mencapai ujung cambuknya. Yang terjadi selanjutnya, ujung cambuk Swandaru mampu mengoyak tubuh para pengeroyoknya tanpa harus menyentuh kulit mereka.

Ya. Dari ujung karah baja cambuk Swandaru keluar tenaga inti yang mampu menyayat kulit lawan meski masih berjarak sejengkal.

Gerak Swandaru semakin garang dan buas. Darah yang mengalir keluar dari tubuh lawan-lawannya seperti mengubah Swandaru menjadi seekor pemangsa yang kelaparan. Bau darah yang membaur di udara makin membuat Swandaru bertarung lebih cepat dan lebih kuat!

Tidak ada jalan keselamatan bagi pengeroyok Swandaru!

“Mustahil bagiku kehilangan nyawa bagi seorang Atmandaru!” desis orang yang berikat kepala lurik.

“Kita sedang berkelahi melawan anak iblis!” sahut temannya yang berkedudukan persis sebelah menyebelah dengan orang berikat kepala lurik itu.

“Aku akan meninggalkan tempat ini, Ki Suladra!” teriak orang berikat kepala lurik.

“Lakukanlah, Ki Sanepa! Kau dapat lakukan yang kau inginkan. Tetapi Panembahan akan datang memburu seluruh keluargamu!” sahut Ki Suladra.

Kegamangan sedikit menyergap hati Ki Sanepa. Ia tidak menolak kebenaran dari ucapan Ki Suladra. Bahkan ia menjadi ingat bahwa Panembahan Tanpa Bayangan akan memburu semua anggota keluarganya jika ia melarikan diri dari pertempuran.

“Tetapi aku tak sanggup menahan tandang lelaki gendut Sangkal Putung ini,” keluh Ki Sanepa dalam hati. Gurat luka yang tidak begitu banyak telah menghias bagian depan tubuhnya.

Dan ia merasakan betapa pembuluh darahnya terasa pedih saat terbelit dan berbenturan dengan cambuk Swandaru Geni. Lambaran tenaga inti Swandaru ternyata mampu mengoyak bagian dalam dari lawan-lawannya.

Swandaru benar-benar bertarung seperti kobaran api. Ia menjilat ke segala arah dengan cambuknya sebagai lidah api. Sambaran angin yang panas dirasakan oleh orang-orang yang terikat oleh Swandaru. Angin panas yang memerihkan kulit selalu mengikuti cambuk yang belum berhenti berdenyut. Kedudukan tidak lagi seimbang. Swandaru terlihat dapat mengikat dan mengendalikan lawan-lawannya yang masih belum menyerah padanya.

Cambuk Swandaru dengan trengginas memburu satu demi satu lawan orang-orang yang melingkari adik seperguruan Agung Sedayu. Setiap orang yang melihat tata gerak Swandaru akan menilai cambuknya adalah ular siluman yang lahir dari kobaran api!

Tangan Swandaru begitu cepat memutar-mutar cambuknya dan ia  seolah bergerak dalam senyap terlebih suasana semakin pekat dalam gelap.

Lingkar pertarungan yang menggiriskan!

Tinggalkan Balasan