Liris : Ia Bernama Sanumerta (2)

“Aku telah mendengar semuanya. Aku melihatmu saat datang ke rumah-rumah derita. Lolong tangis sepanjang malam? Aku mendengarnya. Satu demi satu kau koyak kesucian anak-anak Hawa. Lalu kau berkata tentang penebusan,” lanjut istrinya.

Perempuan berbalut kain ketat dengan bagian atas yang terbuka diam sesaat. Kemudian, “Buramnya pagi bukan karena mendung meringkuk di bawah mentari tetapi karena kabut yang tidak terangkat.

Dan itu dari hatimu, Sayang.

Ketika Tuhan membagi cinta, semesta diliputi bahagia selama jutaan tahun. Lalu Ayah datang dan merenggut seluruhnya. Tanpa ada yang Ayah sisakan untuk jagad raya.

Cinta, masih adakah ia di dalam hati Ayah?”

Belati kecil yang tersimpan rapi di balik ikat pinggang Sanumerta mendadak berpindah tempat. Menyentuh bagian dalam tubuh istrinya. Depan, belakang dan pangkal leher menjadi pemberhentian terakhir.

Jasad wanita malang itu terbujur di pembaringan hingga lewat senja. Sanumerta memanggulnya. Menerobos malam. Dan menguburkannya di tengah persawahan.

“Kau begitu anggun jika diam!“ desis tajam Sanumerta.

Sanumerta meninggalkan rumahnya.

Ladang.

Sawah dan hartanya.

Rasa sesal dan bersalah menjadi hantu baginya.

Genap seratus hari dari langkahnya meninggalkan rumah, Sanumerta menuai karma. Sanumerta terus berpindah dan memburu dekap demi dekap banyak wanita. Ia merindu hangat sebagai penawar luka kematian istrinya di ujung belati.

Sanumerta kini berwajah bopeng dan tumbuh koreng semenjak meninggalkan rumah.

Ia berusaha menebus sesal dengan tutur kata ramah. Orang berpaling muka saat ia menyapa.

“Bilakah aku berhenti?” Sanumerta bertanya pada satu masa. Tanpa lelah, ia menempuh jalan panjang dan sunyi. Hingga tiba di depan sebuah bangunan sederhana. Orang berkata bahwa penghuni rumah itu adalah orang terkemuka. Saleh dan disegani penduduk langit.

Duduk bersimpuh. Jiwa Sanumerta terkulai. Tak berkuasa ia menatap mata orang saleh.

Kepadanya, Sanumerta berkisah tentang perjalanannya.

“Menghentikan hidup seorang kekasih adalah khianat yang tak terampuni.” Sang alim menyentuh dada Sanumerta.

“Sebuah pengampunan membutuhkan darah penebusan.”

“Penebusan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang bijak.”

“Aku akan mengambil jalan menuju kebijakan.”

“Kau harus disucikan.”

Tenaga Sanumerta kembali mengisi tubuh yang gontai. Ucapan orang saleh itu tiba-tiba berubah menjadi air yang membasahi lembah kering. Api lemah yang tertumpuk jerami kering telah disiram minyak dari biji jarak.

Sanumerta bangkit. Ia mengulang lagi. Perbuatan yang dilakukan dalam bungkus pakaian yang lama.

“Darahmu adalah tebusanku untuk kesucian, Pendosa!” Sanumerta berpaling. Meninggalkan jasad orang yang dituturkan banyak orang sebagai pemuka yang disegani penduduk langit.

Ia menuju pintu dengan menenteng belati membasah merah. Berlalu menyisir jalan berdebu. Orang semakin menjauh darinya saat berpapasan. Napas anyir menebar di udara. Mengurung setiap jiwa yang terjaga dan dijaga. Merenggut sukma di awang-awang melayang tanpa tujuan.

Bersayap ratusan dengan mulut menganga penuh bara, makhluk ajaib menghadang jalannya.

“Kau telah menjadi tuhan,” makhluk ajaib berkata.

Sanumerta meradang marah.

“Apakah itu pendapatmu?” Sanumerta bertanya.

Yang ditanya rapat mengunci bibirnya.

“Apa yang tahu dari kuasa?“ lanjut Sanumerta.

Yang ditanya mematung diam dengan mata menyala.

“Aku katakan padamu bahwa kekejaman Tuhan telah dinyatakan melalui kedua tanganku,” jelas Sanumerta. “Kamu tidak mempunyai hak membunuhku.”

“Kau telah membunuhku!” makhluk ajaib yang tak sebut namanya menghunus pedang.

“Kau yang menyatakan itu! Bukan aku!”

Alam bergolak.

Jawaban Sanumerta membuatnya marah. Jagad raya tak berdaya mencegah ucapannya.

Ia adalah Sanumerta. Lelaki bertubuh langsing dengan mata seorang pecundang. Penuh murka menantang penjaga neraka.

Ia mengayun langkah. Membelah kampung dan desa. Menyusuri jalanan kota. Meninggalkan cahaya mata setelah menenggelamkan istrinya di tengah sawah. Menempuh perjalanan panjang yang akan memisahkan hidupnya sebagai ayah.

“Cinta adalah kebengisan tanpa tara,” ucapnya pada binal bergincu membara.

“Pergilah menuju siksa!” tandas wanita berpinggul kecil dengan bibir mendesah. Pergulatan desah dan keringat sangat hebat terjadi di antara mereka. Mereguk nikmat dalam siksa. Sanumerta mencari penawar untuk hatinya.

“Kemarilah, lelaki perindu wanita! Kau dan aku adalah pendosa tiada tara.” Sanumerta luluh. Kebutuhan jasad menuntut penuntasan. Merampok bukan pekerjaan mudah, katanya. Mencuri adalah perbuatan dosa, menurutnya.

Maka belati disiapkan. Hari terlalu pagi untuk menjadi saksi ketika darah kembali mengalir. Pemuas dengan nomer urut menuju belasan telah tuntas!

“Binal yang menggairahkan!” desis Sanumerta. Puas!

Sungai yang tak begitu lebar dipandangnya sebagai pemakaman yang lumrah.

Tinggalkan Balasan