Liris : Ia Bernama Sanumerta (3)

Berguncang angkasa ketika malaikat penghuni langit memadu kata.

“Dua, tiga, empat…delapan,” Menyala tatap mata malaikat penyanggah jagad raya. Geram suara penuh gelora.

“Pergilah!” Gelegar tanpa tutur mengguncang dinding semesta.

“Aku lakukan apa terhadapnya?”

“Lakukan saja yang kau suka bila kau lebih baik darinya.”

Penjaga langit menggelepar dengan rona wajah membara. Memasung marah dalam ledak cemeti bertangkai palung samudera. Lalu mereka memilih untuk membeku!

Sanumerta tengadah wajah. Ia tidak melihat murka. Dan ia tidak terlihat marah.

Di sebuah pemukiman, ia duduk di bawah pohon bidara.  Mengangkat dada saat alim menyapa.

“Kau, siapa?”

“Sanumerta.” Kemudian, tanpa diminta,  ia berkisah tentang hidupnya. Tentang rumput yang enggan bertegur sapa. Tentang udara panas yang menyapu wajah. Ia mengabarkan setiap jengkal dari tanjakan dan turunan yang telah dilewati.

Orang alim menunduk lalu berkata, “Aku tidak melihat cinta di dalam sinar matamu. Aku sedang berbicara di depan gerbang kematian dengan telaga kering yang berada dibaliknya. Telaga yang hanya berisi belulang dan garis-garis tanah yang membujur lintang. Dan aku tahu bila aku melewati gerbang  saat malam menjelang,  itu akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang kau katakan sebagai rasa sakit.”

“Aku tidak peduli. Saat ini aku terkulai di hadapanmu. Tertembak jatuh oleh sesuatu yang dikatakan orang bernama cinta. Lalu kau bicara tentangnya. Cinta.

Ketahuilah! Kegelapan ada karena kejahatan yang disebabkan oleh cinta.” Sanumerta berkata datar. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan yang menyiratkan gejolak perasaannya.

Orang alim yang berpakaian coklat itu kemudian menggetarkan bibirnya, “Angin berdesah melewatiku dan aku tahu kau tidak memiliki belas kasih, lalu kau bicara seperti itu padaku. Hari ini.

Orang yang tidak mempunyai belas kasih dan menyimpan cinta dalam hatinya, sebenarnya ia tengah menempuh perjalanan panjang. Sebuah lorong kelam yang harus ia lewati tanpa kaki untuk berjalan, tiada tangan untuk memegang dan sayap yang enggan bertumbuh.”

Sanumerta berpaling. Ia mendengus.

Kasar menarik lengan orang alim lalu geramnya,“Aku seorang pejalan kaki. Bertegur sapa dengan iblis saat melewati jalanan penuh duri. Ia melihatku dalam terang matahari. Ia memujaku layaknya seorang nabi. Aku tidak berada dalam lorong derita seperti yang kau ucapkan. Di bawah benderang, aku melihat segalanya. Aku melihat kekejaman dari sebuah kekuatan yang tak terbantahkan. Aku menjadi saksi ketika berdiri di puncak gedung yang menjulang tinggi.”

“Bila begitu, sesungguhnya engkau tumbuh dalam duri.”

“Aku tidak peduli! Aku tak ingat lagi warna dan rasa yang bertempat dalam hati. Untuk kau pahami, Iblis telah aku ludahi.”

“Kau berkisah padaku tentang keluarga yang kelaparan. Perawan yang ditelantarkan. Wanita yang terabaikan. Satu wajah yang berada  dalam persimpangan. Seseorang berdiri didepanku setelah ia menelan dalam kekenyangan sementara ia menghirup napas kehidupan orang lain.” Orang alim memandang Sanumerta dengan sorot mata menyayat hati.

“Aku berulang mendengarnya dari orang-orang yang berkata di atas mimbar. Pada setiap menara-menara yang bergantung pada kaki langit, orang banyak mengucapkan mantra dan puja puji, namun itu tentang diri mereka sendiri. Mereka yang mengaku sebagai kekasih.”

“Aku adalah sang kekasih,” kata sang alim dengan mata beralih.

Belati Sanumerta menjawabnya. Matahari masih bersinar terik ketika Sanumerta menanam orang alim di bawah pohon bidara.

Penjaga langit menggeliat dengan lidah membara. Memasung marah di bawah kelebat pedang mendesing prahara. Mereka menjadi saksi atas kematian orang dianggap sebagai manusia suci.

Sanumerta meringkik  pongah. Telanjang belati membakar hatinya.

“Aku bukan pendosa!

Ia memberiku tanggapan yang salah. Ia menilai dirinya terlalu tinggi. Tak pantas ia bernapas lebih lama dari seekor nyamuk. Tak patut ia berjalan sebagai gembala,” gumam Sanumerta lalu meneruskan langkah.

Hari berganti minggu. Bulan terbit dan tenggelam. Musim terus bergulir tanpa lelah menuju batas penantian.

Gelap telah lingsir berganti mentari yang meretakkan tanah kering.

Sanumerta masih melangkah dengan tumit terbelah. Ketika mendekati tapal batas sebuah kota, ia membaca coret aksara.

“Selamat datang, Begundal.”

 

sumber gambar :www.idntimes.com/travel/destination/anami/7-tempat-paling-angker-di-sulawesi-selatan-berani-mengunjunginya-c1c2

Tinggalkan Balasan