Liris : Ia Bernama Sanumerta (Tamat)

Ia tertawa. Walau pedih hati, Sanumerta masih menebar rasa menyelimuti dadanya yang terluka. Berbicara dengan bau mulut yang luar biasa. Berjalan dengan aroma tubuh yang tidak biasa. Bernapas dengan udara yang berbeda. Udara panas, anyir dan busuk!

Ia mendapat petunjuk saat bertanya kepada pengembara.  Melangkah lebar memasuki sebuah rumah berhalaman lega. Berpayung pohon mangga dan berpagar rendah.

“Tanpa suara kau mengambil sarang di tempat ini.” Pengunci ilmu dengan suara lantang berseru padanya. Seorang lelaki separuh baya bertelekan tongkat melangkah mendekatinya.

“Aku butuh makanan dan tempat tinggal. Berapa yang engkau punya?” angkuh Sanumerta bertanya.

“Sebuah kepala dan sehelai jiwa berdosa.” Lelaki bertongkat yang seorang guru memandangnya dingin.

“Kau berkata seolah aku seorang pendosa yang datang kemari untuk melakukan perbuatan tercela.” Sanumerta bertatap mata.

“Pak Tua! Kau, dia dan mereka selalu berkata salah. Kau dan mereka selalu berpanjang kata mengenai sesuatui yang tidak terlihat mata. Yang hanya dapat dirasa, itu kalian kata.Aku mengerti mencuri adalah perbuatan dosa. Tetapi, merampokmu di tempat ini sudah tentu sulit dilakukan.”

Lelaki bertongkat menjawab lirih,”Itu pendapatmu.”

Orang menilai ia seorang guru. Sebuah gudang ilmu, kata mereka.

“Beri aku segenggam harta. Dalam waktu tak lama, kita akan berpisah.”

“Aku menolak perintahmu. Kau bukan Tuhan bagiku dan kau bukan seorang perampok. Kau telah katakan itu. Sekarang, lakukan yang kau suka.”

“Aku tidak ingin merebut jiwa orang merdeka.”

Sang guru mengerutkan keningnya kemudian, “Inilah si pencuri itu. Dia begitu kerdil untuk mengaku tetapi enggan berjalan jauh karena takut terhadap jebakan yang telah terpasang dalam hatinya. Semenjak kapan kau berbelas kasih?”

Jawab Sanumerta, “Kau tak patut bertanya padaku.”

“Dengan jawaban itu, maka kau pantas mengambil hidupku.”

“Aku bukan dewa. Bukan pula pencabut nyawa!”

“Kau adalah perampas harta, pencuri kehormatan para perawan, pemetik bunga yang telah bertabur benih lelaki lain. Dan kau nyatakan diri telah berubah. Kondang namamu di masa lalu ternyata bukan kenyataan yang aku hadapi sekarang. Sanumerta telah berputih mata.”

Penjaga langit mengguncang semesta dalam satu kibas pedang. Memasung marah dalam ledak cemeti bertangkai palung samudera.

“Aku tidak mempunyai mata.”

“Tetapi kau telah membakar surga!” tukas sang guru.

“Mereka layak meraih ganjarannya.”

“Jika demikian, seperti yang kau ucapkan. Engkau adalah Sanumerta yang mulia.”

Sanumerta memalingkan muka ke arah pohon mangga

“Diam!” bentaknya. Sanumerta kemudian berkata,”Tidak ada orang yang dapat memahami isi pikiranku. Tidak pula dengan kalimat bijaksana atau para nabi. Mereka adalah kehampaan yang membentang tetapi selalu dipandang sebagai keabadaian menurut sebagian orang. Aku tidak menyalahkan mereka. Tetapi mereka selalu menyalahkan aku yang berbeda. Rasa yang tidak terlihat oleh mata, begitu mudah menjadi mainan di tangan mereka. Aku membunuhnya. Aku membunuh rasa yang selalu menyatakan hanya kesucian yang dapat mengerti keindahan.”

Sang guru kemudian berujar saat Sanumerta berdiam,”Sanumerta tak pantas berkalang tanah. Berbaur dengan debu-debu yang hina. Bertoreh lumut untuk menutup wajah. Tidak ada cerah yang menutupi mata. Para nabi dan orang bijak telah melewati masa hampa. Mereka berkata tentang jiwa-jiwa nestapa.”

“Diam!” seringai bengis Sanumerta dalam bentakannya.

Sang guru tetap berkata-kata. “Pintu neraka telah tertutup baginya. Nanah dan darah enggan mendekati Sanumerta. Hendak kemana engkau berlalu dengan karma yagn setia bersamamu, Anak Muda?”

“Diam!” binar Sanumerta dengan belati dalam bola matanya.

Pengunci ilmu membuka hidungnya. “Kau melihatku tidak menutup hidung.Kau mengerti bahwa setiap yang mengendusmu selalu menyangka ada sebatang bangkai yang berjalan. Udara yang keluar dari parumu begitu menjijikkan orang di sekitarmu. Setiap kata yang kau ucapkan adalah hukuman mati bagi keluargamu.”

Tanah menggetar kuat. Dinding rumah terguncang hebat. Lubang panjang menganga.

“Kau tebar ancaman dan menakutiku,” Sanumerta mendesis.

Mengacu telunjuk sang guru ke arah Sanumerta

“Kau adalah malaikat.” Ia mendesis.

“Aku adalah iblis peziarah.”

“Kubur telah tergali. Kau dapat memilih.”

“Jahanam!” Sanumerta menggeram.

Pengunci ilmu tak peduli. “Pilih, Sanumerta!”

Buram wajah Sanunerta. Dada yang terhimpit beban perih masa lalu, harapan yang menguap dan selalu diliput persimpangan yang mengaburkan nyaris meledak.

“Aku katakan padamu, aku telah membakar surga dan membangkitkan orang-orang yang telah mati. Dan kau telah mengerti jika orang-orang mati tidak akan pernah bernyanyi tentang cahaya yang berselimut tirai suci,” lidah api terjulur dari sela bibir Sanumerta.

“Pilih, Sanumerta!”

“Aku berkata padamu, aku telah padamkan neraka dengan melempar anakku padanya! Dan kau juga mengerti bahwa surga belum memasuki masa untuk bernyanyi. Ia masih menahan diri dan berlapar dalam derita yang kalian katakan sebagai deru nestapa di dunia!” seru Sanumerta dengan api yang berkobar di kepalanya.

“Pilih, Sanumerta!”

“Aku berkata padamu, aku telah basahi Sahara dengan air merah istriku! Dan kau telah memahami cinta adalah kebebasan yang megah dan belenggu yang hina. Ia menyelami sisi baik manusia dan membongkarnya, lalu tampak oleh para pengembara bahwa kebusukan ada di dalam cinta!” Sanumerta membakar angkasa.

“Pilih, Sanumerta!”

“Aku berkata padamu, aku telah membunuh-Nya dengan belati yang menembus lambung binal bergincu! Dan kau mengetahui jika darah yang tumpah adalah bagian rencana-Nya. Aku berada dalam genggam-Nya tetapi Ia tak mau disalahkan. Gelas telah beredar di banyak pesta perkawinan dan cinta telah terbakar. Lalu, kau menyuruhku untuk memilih!“ tubuh Sanumerta berguncang hebat.

“Pilih, Sanumerta!”

“Aku telah terbaring lemas. Aku tertumpas.  Aku telah membakar kemuliaan yang disanjung banyak orang. Melempar kesucian ke dalam lembah-lembah yang kelam. Jubah kesombongan aku hancurkan di padang gersang dan berapi. Kain kelembutan telah aku rendam dalam air mata api. Aku tenggelamkan ia ke dalam sumur-sumur nestapa. Aku bakar ia dengan jilat matahari yang kelauar dari hatiku!” lengking Sanumerta menyayat telinga.

Menggiriskan dan memilukan.

“Aku berkata padamu, Pak Tua! Bakarlah neraka seribu tahun lagi! Aku akan menunggu untuk memasukinya!”

Semesta bergetar dahsyat.

Lalu, tiba-tiba senyap!

Tanpa desah, suara yang tak terdengar bertanya, ”Kau lihat Sanumerta?”

Malaikat penghuni langit menundukkan wajah.

“Kau menjadi saksi baginya?”

Tak terdengar kepak sayap. Senyap tanpa kecap suara.

“Saksikanlah, kalian tidak akan mampu mengejar Sanumerta!”

Lelaki paruh baya yang mencari surga.  Yang mengaku telah padamkan neraka.

Ia bernama Sanumerta!

 

sumber gambar : www://freethinkingministries.com/true-love-free-will-the-logic-of-hell/

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Minal Aidzin wal Faidzin

Mohon maaf lahir dan batin

Memayu hayuning pakarti

Memayu hayuning bawana

Rahayu

Tinggalkan Balasan