KKG – Jati Anom Obong 19

Dan untuk menghentikan usaha Ki Prayoga yang ingin membunuhnya, Agung Sedayu memutuskan untuk menanggalkan ilmu kebalnya. Tinjauan singkat dan kematangan dalam menilai suatu pertarungan mempengaruhi Agung Sedayu. Tubuh Agung Sedayu berkelebat lebih cepat dari sebelumnya, ia memburu wujud asli Ki Prayoga yang tidak berhenti bergerak bertukar tempat dengan dua wujud semunya.

Meski wujud asli Ki Prayoga selalu berpindah dan dua wujud semu terus menerus berhimpun lalu berpencar, Agung Sedayu dapat membedakan ketiga wujud yang bergerak seperti siluman. Pendengaran Agung Sedayu dapat membedakan derap kaki ketiga wujud Ki Prayoga. Kemampuan yang meningkat berlipat-lipat setelah ia mengalihkan sumber kekuatan ilmu kebal ke setiap simpul yang berhubungan dengan tenaga cadangan.

“Sulit dimengerti! Ia seolah tahu kedudukanku sebenarnya,” geram Ki Prayoga dalam hati.

Gangguan tanpa henti dari dua wujud semu Ki Prayoga tidak membawa akibat besar bagi Agung Sedayu. Meski ia tidak menghentak cambuk untuk menyerang, namun Ki Prayoga mengerti bahwa ia tidak mungkin dapat mendekati Agung Sedayu. Putaran cambuk yang sangat cepat akan mengubah kedudukan secara mendadak bila Ki Prayoga memaksa diri menyerang senapati tangguh Mataram itu.

Pertemuannya yang singkat dengan Pangeran Benawa benar-benar memberi warna yang berbeda terhadap tata gerak Agung Sedayu. Ia mampu mendesak Ki Prayoga melalui kedua kakinya yang bergeser cepat menutup ruang gerak wujud asli Ki Prayoga. Ditambah tenaga cadangan pemberian Ki Lurah Wira Sembada yang menyusup ke dalam tubuhnya, Agung Sedayu dengan gagah telah bertarung di luar kebiasaannya.

Kini di belakang Ki Prayoga adalah permukaan tenang Kali Progo. Agung Sedayu berhasil memindahkan lingkar perkelahian dari rerumputan yang sedikit terbakar.

“Tidak ada pilihan bagimu, Ki Prayoga! Atau mungkin kau berpikir lain,” desak Agung Sedayu yang perlahan menekan Ki Prayoga lebih dekat ke Kali Progo.

“Kau dapat menelan mimpimu, wong gemblung!” sepasang golok telah melekat pada kedua tangannya. Dua wujud semu tiba-tiba menghilang.

Tubuh Ki Prayoga melejit tinggi ke samping. Menjauhi Agung Sedayu. Ia menghentikan gerakan agar Ki Prayoga benar-benar mendarat dengan sempurna. Agung Sedayu tidak ingin menyerang musuhnya yang berada dalam kedudukan lemah.

Paugeran keprajuritan terpancang teguh dalam jiwa Agung Sedayu. Ditambah ajaran Kiai Gringsing untuk tidak menyerang lawan dalam keadaan terlemah membuat Agung Sedayu setapak surut.

Meski kedudukan mereka akhirnya sejajar di tepi permukaan, Agung Sedayu bergeming dalam keadaanya.

“Perempuan!” pancing Ki Prayoga sambil merangsek dengan golok yang datang bergulung-gulung menghantam Agung Sedayu.

Kembali Agung Sedayu memutar cambuknya menyambut serangan Ki Prayoga. Kali ini ia tak lagi sekedar menutup diri dengan pertahanan yang rapat.

Agung Sedayu meledak!

Ia telah mendalami pukulan jarak jauh dari kitab peninggalan gurunya. Bagian akhir dari tulisan Kiai Gringsing. Aliran tenaga cadangan yang sebenarnya keluar melalui ujung cambuk, namun Kiai Gringsing mampu mengolah sehingga ia dapat tersalurkan melalui tangan yang tidak terikat dengan cambuk. Dan Agung Sedayu nyaris sempurna telah menguasai bagian tertinggi ilmu Perguruan Orang Bercambuk.

Maka perkelahian mereka dengan cepat menanjak ke lingkup yang berbeda. Gelombang serangan mengalir dengan ketinggian ilmu yang sulit dibayangkan.

Cambuk Agung Sedayu menggeliat ganas dengan usahanya membelit golok Ki Prayoga bergantian. Namun lawannya masih mampu berkelit lincah dari lilitan cambuk senapati Mataram. Bahkan, Ki Prayoga dengan percaya diri membenturkan bagian pipih goloknya dengan ujung cambuk Agung Sedayu. Kerap kali terlontar bunga api saat senjata dari keduanya saling berbenturan.

Membutuhkan waktu sedikit lama bagi Agung Sedayu untuk mengetrapkan pukulan jarak jauh dalam perkelahian ini. Ia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Dan melawan Ki Prayoga adalah perang tanding pertama baginya sejak menguasai Tapak Karang, nama ilmu dari pukulan jarak jauh yang tertulis dalam kitab Kiai Gringsing.

Ia adalah Agung Sedayu.

Kesulitan yang dihadapinya telah dilewati. Ia dapat memperkirakan tenaga cadangan yang akan dilontarkannya. Kepal tangan kiri akan menghantam tanpa mengurangi daya gedor cambuknya. Daya nalar yang luar biasa dan ketenangan jiwa yang mengendap mampu meledakkan kemampuan yang tersimpan.

Tinggalkan Balasan