Liris : Namaku Embun, Bukan Berlian!

Selalu dan membuatnya terpaku. Aku memandang wajahnya, beku. Ujung daun berayun, mengangguk, menyapa,” Rahayu, kawan.”

Kabut merebut pandangan, tersesat di belantara rindu. Menetes air dari ujung daun. Pendar tirai langit berujung biru.

“Apakah aku berkata kasar? Apakah kau merasa aku membencimu? Tidak. Sekali-kali tidak! Hanya saja, kamu tak selembut embun.

Daun mengeluh. Rasa iri menggelitik setiap kali aku menggelayut.

Aku, embun yang bergoyang di daun keladi dengan gundah.

“Jika aku jatuh, kepada siapa aku harus bersimpuh?” rintihku pilu.

Kemilau itu, kamu pikir berlian? Itulah aku, embun.

Bunga berbisik lembut. “Aku selalu rindu, kecup mesramu. Embun yang setia menyapaku di bekunya dini hari.”

Aku tersipu.

Saat hatimu terluka oleh tatapan dinginnya.
Aku, embun selalu menyejukkan harapanmu.

Ah, biarkan embun berlalu.
Kau tetap hantu di setiap sepinya.

Beku, kaku, atau apalah sebutan lain tentangku. Hadirku tetap ditunggu. Dalam gundah, aku ingin menghibur gelisah di dada.

“Segera kecup aku karena mentari akan meluruhkanku!” bisikku pada wajah beku.

Matahari telah menampakkan wajahnya. Aku pun pergi berlalu, meninggalkan kesejukan di hati.

Kau menatap langkahku penuh selaksa rindu.
“Ah! Andai bisa kucegah kemunculan sang surya itu,” sambatmu pilu.

“Embun, embun, ke mana kau sembunyikan wajah rembulanku? Adakah sekecup dia titip pada bekumu?” bisikmu.

Aku memberi kesegaran dalam relung jiwamu. Aku adalah embun, mutiara bening di pagi hari.

Aku membisu. Bersembunyi dalam kelopak bunga
Menanti rembulan kembali tiba.

Padaku kau berkisah tentang segala suka duka. Di pagi yang sejuk kau selalu memainkan beningku sambil bersenandung.

“Aku rindu, di mana kau dara jelita?”

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, hey, Jejaka? Kalau boleh aku sarankan, pergilah! Cari dara jelitamu. Cinta itu tak cukup hanya menunggu.”

“Andai aku bisa sejenak melupa perih yang dia tinggal. Seperti embun yang ikhlas bergulir di dedaunan,” katamu lirih.

Hanya setetes namun mampu mengobati luka yang menggenang, itulah aku, embun.

Aku bening dan sejuk, dalam pandang matamu
Taukah kau?
Aku tersiksa dalam gigil pagi
Menunggu dekap hangat mentari

Aku, masih saja melihatnya. Mata sendu menyimpan rindu. Aku tahu, di hatinya hanya terpatri namamu, bulir. Tapi kau tetap saja berlalu. Seperti aku, yang akan pergi saat hangat mulai menyapa.

Lalu ingatanmu tentangku, akan segera menguap seiring lesapku dipanggang matahari. Saat mentari menyapa aku harus ikhlas pergi. Esok akan kembali hadir membawa rindu yang tak pernah hilang.

Rindu akan membawaku kembali. Bersama secercah cahaya mentari pagi. Menyambutmu, mengiring waktu menjemput mimpi.

 

–selesai–

 

Karya keroyokan dari pecinta sastra yang bergabung di Baris Kepak Sayap Angsa.

2 tanggapan pada “Liris : Namaku Embun, Bukan Berlian!”

Tinggalkan Balasan