Bahagia

Matahari semakin terik, aku harus bergegas. Biar tak terpanggang. Panas!
Aku menggerutu sepanjang jalan. Berlarian dengan sepatu bertumit tinggi membuatku acap kali hampir terjatuh.

Mulutku terus mengomel. Lengket, baju basah dengan keringat. Aku jengah. Keluh kesah tiada henti. Berlomba dengan waktu mengejar rezeki bertemu dengan calon pembeli.

“Tapi bagaimana dengan penampilanku begini,” Tanyaku membatin.Aku menatap lengan yang mengkilap penuh dengan bulir keringat. Duduk di halte dengan gusar.

Mata terpaku pada sosok gadis kecil di ujung bangku, menenteng termos biru. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Ceria, dengan merah merona. Tak sedikit pun terlihat sedih.

“Esnya mbak!” Dia menghampiriku menawarkan es lilin.
“Boleh deh, pas banget mbak lagi kehausan.” Bergegas aku raih es yang aku jilati perlahan. Dingin merambat ke kerongkongan. Segar.

“Maaf dek, sampai lupa. Ini uangnya!” sepuluhribuan aku letakkan di tangan mungilnya.
“Ini kembaliannya mbak.” Katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
“Buat kamu saja, dek!” aku masih melahap es sesekali menggigit dan nyeri mendera gigiku. Ngilu.

“Waaaaah mbak, banyak banget! Terima kasih yaaaa mbak!” ucapnya sambil berjingkrak kegirangan.
Bahagia yang luar biasa dari rupiah yang tak seberapa.

“Siapa namamu dek?” tanyaku sembari mencolek pipinya yang merona merah jambu. Kacamata tertaut dihidungnya yang imut. Kegembiraan semakin tampak. Gigi putihnya berderet sempurna di senyuman yang terukir.

“Aku,Widurihepiputritawarembulanendahswarapuspajelitalinalianasalsadyna.” Sebutnya cepat yang serta merta membuatku terbahak.
“Benaran namamu itu sayang?” kataku sambil mengacak rambutnya yang hitam.
Dia, gadis kecil yang cantik dengan namanya yang unik.

“Iyaaa mbak, tapi panggil saja saya Puteri Tawa.” Sambil berlalu dan melambaikan tangannya kepadaku dengan menyisakan tawa yang membahana. Dia menularkan rasa kesyukuran yang ajaib.

“Ayo Lin, jangan mengeluh lagi,” gumamku dalam hati.
Dia sekecil itu saja mampu menikmati hari yang terik dengan kidung tawa. Bahagia.

Tinggalkan Balasan