Liris : TBC, Tekanan Batin Cinta!

Tapi sebuah perkenalan selalu memiliki kendalanya sendiri.

Tekanan Batin Cinta, itu kau sematkan.

Aku pendiam dan pemalu, kau mengulangnya.

Tidak! Kenyataan yang disuguhkan, kau habisi selusin sate kambing, semangkuk sup merah, sepiring lontong.

Pemalu dan pendiam.

Kau belum tahu saat pendiamku tenggelam.
Sebakul nasi, sepiring ayam goreng, semangkok sup iga, ditambah seporsi gado-gado lengkap dengan lontong akan masuk perut dalam sekejap.

Aku ingin menyerah untuk meraihmu. Aku memgerti bahwa menyerah bukan pilihan.

Aku hanya mencoba untuk berjalan. Meski cuaca tak bersahabat. Jangan lari, aku pasti kembali.

Tetapi aku tertekan. Haruskah aku mengulang? Tekanan Batin Cinta!

Tak ada gairah. Sejak aku mengidap Tekanan Batin Cinta. Butuh obat. Dan itu kamu.

Ingin berkenalan, tapi sudah kenal.
Sudah kenal tapi tidak banyak tahu.

Yang jelas nderedeg dan pucat. Waktu kau berkata,” Aja lali nyaur utang, ya Mas! Besok saya akan kulakan!”

“Gile lu cin! Siapa kau sebenarnya?”
Aku tersesat ketika mencari jawaban.

“Aku, virus TBC!” Jawabmu sambil lalu.

“Ah, iya! Bagaimana aku bisa lupa?
Kau yang lahir dari ketinggian hati dan abainya!
Dari amarahnya!
Dari ingkarnya!

Aku harus tenang, kau telah siapkan ramuan untukku. Serbuk berwarna merah menyala dalam cangkang kapsul yang menggoda. Dalam hitungan bulan, TBC akan hilang.

“Apa kau sedih dan merasa kehilangan?”

Tidak! Aku tak merasa sedih meski terbelit sarung apek,.

Aku senang kau tahu apa yang aku rasakan
Tapi, bagaimana aku bisa tenang?
Bukan ramuan itu yang aku butuhkan
Aku hanya ingin dia, yang bisa membunuh penyakit tekanan batin cinta.

Pura-pura bahagia padahal merana.  Berlagak kaya raya ternyata miskin harta. Bergaya muda belia tapi kulit tua renta.

Cinta? Kebodohan yang tercipta tanpa rasa karena tanpa budi dan rasa.

Namun aku tak kuasa. Hatiku tersangkut jemuran dari tiang kayu.

Deritaku, yang selalu berusaha bahagia dengan Tekanan Batin Cinta. Hanya di Witasem, aku mendapatkannya.

 

Rahayu🙏

 

Tinggalkan Balasan