Cinta Melati

Kaki kembali melangkah ke kota tempat aku menyemai bibit cinta. Tapi tak bisa memetik rasa manisnya. Kerinduan ini terobati. Melipat waktu dan jarak. Pandangan pantai yang sangat jauh berubah. Membuka ingatan tentang masa lalu.

Dulu, di tepi pantai sosok yang cantik berdiri memandang mentari terbenam. Melepas jingga dan aku hanya mampu melihat di kejauhan. Tanpa ada keberanian menyapa. Menyembunyikan getar yang tak bisa aku tuang dalam kata.

Hari ini ternyata sosok itu berdiri di sana. Membuatku tersenyum. Semilir menghembus rambutnya. Terurai bagai mayang. Tapi tak sehitam yang dulu pernah aku kenang. Masih panjang sepinggul, dengan sedikit gelombang.

Dia, yang begitu menyita ingatan. Lama bertahta dalam hati, hadir membuat netra ini berbinar. Gadis kelas sebelah, 20 tahun silam.

“Melati, apa kabar?” Sapaku perlahan sambil mengulurkan tangan.
“Maaf, siapa ya?” mata bulatnya memicing terlihat kerutan, tapi tak mengurangi keindahannya.
“Oh iya, maaf. Lupa memperkenalkan diri. Aku Dhani, kita satu SMA.” Kataku sambil menarik uluran tangan yang tak di balas. Ada debar aneh.

“Oh ya, Dhani! Astaga, kamu berubah banget. Pangling aku!” Netra indah itu berkilau. Cantik.
Bahagia hadir menyeruak, ternyata dia mengingat diriku.

“Dhani yang menumpahkan sop ubi di kantin dulu?” Wajah sendunya berubah ceria. Terlihat lesung pipit yang semakin dalam di pipinya yang sedikit tirus.
Ya, Melati tak semenarik dulu. Apalagi mata yang membuat aku jatuh cinta itu seperti menyimpan luka.

“Masih dengan kebiasaanmu ya, Mel? Berdiri menyaksikan mentari ke peraduannya.” Tanyaku dengan memandang rambut yang jatuh di keningnya.

“Kamu ingat kebiasaanku? Aku kira dulu kamu sangat sombong. Bahkan untuk bertegur sapa saja tak pernah.” Gerutunya dengan mulut yang menggemaskan. Bibirnya yang tebal sempurna di wajah manisnya.

“Ternyata kamu memperhatikan aku ya?” Selidiknya dengan mendelik. Sepasang mata yang sangat menarik. Apalagi bila melirik. Membuat jantung ini berdetak lebih cepat.

“Hey Dhan, apa waktu membuatmu berubah jadi pendiam?” Katanya sambil memamerkan deretan gigi bagai mutiara.

“Ternyata kamu juga memperhatikanku, Mel!” Tukasku gelagapan menghindari tatapan yang merontokkan sendi-sendiku.

Aku mengajaknya minum sara’ba sembari menikmati sepiring pisang peppe. Suguhan yang takkan aku lewatkan setelah sekian tahun tak mencicipi. Rindu ini bergejolak lengkap dengan suasana yang tak terlalu ramai. Getar menjalar, rasa ini terulang. Cinta yang terpendam.

Hanya pandangan yang beradu. Ada sendu menggantung di matanya. Ingin aku rengkuh dan membisikkan kata sayang.
“Akh, rasa apa ini? Mengapa harus hadir sekarang? Aku ingin menikmati debar ini,” batinku berkecamuk.

Duduk berseberang, puas memandang. Mata itu sesekali menghindari tatapan. Mengalihkan perhatian dengan memainkan jemari. Ada lebam di pergelangan tangannya.
“Kenapa tanganmu?” Ingin rasanya aku raih tapi aku tahan. Karena mendung di netra itu akhirnya runtuh.

Suara isak dan wajah yang tertunduk.
“Kehidupan telah membelenggu, pilihan yang harus aku hadapi. Tapi kali ini aku menyerah.” Dadanya semakin terguncang hebat, suaranya tertahan.

Tapi sekelebat wajah polos melintas di pelupuk. Sekeping hati yang aku ikat dengan janji setia. Tak mungkin aku mengobati luka wanita lain tapi nyatanya akan membuat belahan jiwaku berdarah-darah.

Aku gamang, bimbang bersikap. Melati begitu tersiksa dalam tangis. Ingin rasanya bahu ini basah oleh air matanya. Tapi hanya bisa merengkuhnya dalam khayalan.

“Maaf, Mel. Aku tak bisa berkhianat. Walau hati ini retak seribu melihatmu terluka,” batinku bergolak.
Pikiran tak selaras dengan hatiku. Berperang, ingin mencari pembenaran. Aku gamang.

“Sabar, Mel. Kamu kuat. Seperti sosok yang aku kenal dulu. Kamu pasti bisa melalui ini semua. Yakinlah!”

Isak reda, netra itu tenang. Dan kami hanya bisa saling pandang . Cinta dalam diam. Yang akan aku simpan rapat, agar tak terperangkap dalam rasa yang pekat. Aku terjerat, dalam dekap erat kasih seorang istri yang taat.

Tiba saatnya, harus bergegas menghindari semua rasa ini. Aku tak ingin tersesat dalam labirin masa lalu.
Selamat tinggal kenangan. Cinta tetap abadi tanpa harus bersemi.

Tinggalkan Balasan