Liris : TUKANG LOTEK

Mentari semakin menghangat. Pertigaan tempat para lelaki berkumpul untuk makan siang masih sepi. Bahkan tirai lapak pun belum dibuka.
Tidak lama, dia muncul dan mulai membuka lapak tempat berjualan. Langkahnya gemulai. Pinggulnya berlenggak lenggok bagai penari. Kulitnya biasa saja layaknya orang kebanyakan. Tidak hitam, tidak juga putih apalagi kuning. Rambutnya diikat ke belakang, dengan sebagian anak rambut menutupi wajah.
Jemari tangan terampil mempersiapkan dagangan. Sayuran mentah maupun matang telah siap di wadah. Buah-buahan segar pun telah tersusun rapi dalam keranjang buah yang diletakkan di atas meja sebelah kiri.
Rok panjang ketat membungkus tubuh bagian bawah. Kemeja ketat dengan potongan leher berbentuk huruf V membuat bentuk tubuh bagian atas terlihat semakin menonjol. Belahan dada jelas terlihat. Membuat jakun para pria bergerak naik turun.
Baju ketat yang memerlihatkan tubuh dengan tonjolan di sana sini inilah yang membuat lapak di pertigaan selalu ramai oleh para lelaki saat makan siang.
“Hiburan siang,” kata seorang bapak berkumis lebat.
“Hiburan gratis” ujar lelaki dengan topi hitam.
“Sii mbaknya ramah, ” sahut seorang lelaki dengan kemeja rapi.

“Silakan duduk, Kang. Mau lotek atau rujak?” tanyanya saat seorang lelaki datang.
“Lotek ya, Mbak. Yang pedes! Manisnya lihat Mbak saja,” sahutnya dengan mata berkedip sebelah.
“Loteknya gratis, kalau bisa menyebutkan nama lengkap saya, Kang,” jawab perempuan penjual lotek.

Balum ada satu pun pria yang bisa menyebutkan namanya dengan benar. Nama Ayuningtyasmewangisepanjanghariyangmencintakangmasyantopujaanhatidambaansemuaputrimelati telah melekat padanya sejak dua puluh lima tahun lalu.
Percakapan terus berlangsung, jakun naik turun pun berlanjut. Sambil mengobrol, melihat goyangan pinggul si penjual. Memperhatikan wajah yang berkeringat karena kepanasan. Saat dia menyibak rambut yang basah karena keringat, lihatlah mata-mata melotot tak berkedip.

Dia, penjual lotek di pertigaan. Berwajah rupawan dan menawan. Nama panjangnya telah membuat banyak pria bersuka hati. Merapal. Menghapal. Demi sebuah senyum dan sapa.

 

Wimala Anindita,

Bandung 050719

Tinggalkan Balasan