Ndog Kutu

Aku ikut ke mana pun dia pergi. Gadis manis, berambut panjang sepinggang. Hitam legam dan lebat, tempat ternyaman buatku.

Kala mentari tepat di atas kepala. Aku semakin bernas. Bagai deretan emas di sela rambut. Gadis kecil sesekali menggaruk kepala. Menggerutu karena gatal.

Malam hari aku harus bersiap, tangan nenek sering menyelinap. Mencari di setiap helaian rambut. Dengan belaian lembut dan sembari memberi petuah.

Aku juga mendengar, ketika nenek mendongeng. Bahkan kidung juga dilantunkan agar gadis kecil bisa tenang. Dia meringis ketika tangan nenek menarikku. Memaksa aku lepas dari helaian rambut.

Akhirnya aku tak menetas menjadi kutu. Pecah di antara kuku.

Aku, ndog kutu.

 

Batas Kota, 11 Juli 2019