Bawang Putih

Keluargaku hidup berlimpah harta. Tanpa kekurangan apa pun jua. Kebahagiaan melekat di keseharian tanpa jeda. Ayah bunda tertawa, aku menari ceria.

Tiba masa kehilangan, bunda tiada. Meninggalkan diri ini dalam duka.

Bundaaaaaa!
Pekikku hanya menyisa luka.
Aku, anak yang kehilangan bundanya. Meratap, lara mendera.

Ayah memilih kekasih barunya. Membawa kisah yang tak disangka. Mencoba mengganti kasih sayang bunda tercinta.
Percuma!

Aku kecewa, ayah tak setia.
Marah, tak bisa. Karena cintanya sudah terbagi dua. Ayah terlena.
Aku, tak bersuara. Hanya bisa menahan sesak di dalam dada. Rindu bunda yang selalu memeluk dan menghangatkan dengan sapa. Tanpa hardikan dan cela. Bunda, anakmu di rundung malang tiada tara.

Ayah, jangan biarkan aku dihina!
Aku juga ingin tertawa seperti mereka. Bercanda ria, menari dengan jenaka. Tidak perlu kemewahan baju baru dengan warna merah menyala. Cukup selandang putih saja.
Aku ingin menjelma menjadi putri raja. Dengan kereta kencana, di pinang pangeran berkuda.

Ayah, izinkan aku mewujudkan mimpi dengan ikut sayembara. Raja mencari calon mantunya.

Aku ikut serta mencoba tiara bertahta berlian, walau aku bukan Cinderella dari negeri nun jauh di sana. Tapi aku pasti bisa. Menjadi jelita walau hanya rakyat jelata.
Istana berpesta pora. Aku menang sayembara. Tiara menghiasi kepala, memesona.
Aku, Bawang Putih bersuka cita. Menjadi istri Pangeran Mahkota.

 

gambar dari Pinterest

Tinggalkan Balasan