Liris : Kemerdekaan Bagi Butha Cakil

Aku dilahirkan suci. Harusnya, aku menikmati belai dan dekap mereka yang bernama ayah dan ibu. Namun, aku bukan sosok yang diharapkan. Aku nista. Aku adalah buah dari nafsu yang ia lakukan pada ibuku.

Mungkin ini hukum alam. Saat ia merampas kehormatan ibu penuh paksa, tak ada cinta di antara mereka. Hanya liar dan bejat!

Aku menatap bayang di sungai yang mengalir tenang.
Aku buruk rupa!
Apakah pantas aku terima hukuman ini?
Apa salahku?

Mahadewa, jawablah!

Seakan menjadi hal yang lumrah, kebaikan akan berkumpul dengan kebaikan. Mereka yang rupawan akan mendapat ruang yang indah.

Aku yang tak pernah bisa cicipi puting ibu, terbuang dalam kumpulan kumuh yang mereka sebut biadab.

Penjahat!
Pembunuh!
Perampok!

Aku yang ramping dengan hati yang penuh luka dan layu, mengabdi penuh pada ia yang memberikan kuasa padaku.

Ia memberiku ruang luas yang bertanggung jawab. Sewajarnya aku beri pengabdian penuh pada ia yang aku sebut Tuan.

Aku punggawa kepercayaan.
Aku akan maju di barisan paling depan, dan penuh lantang mengacungkan keris,

“Aku bunuh kalian yang berani masuk di gerbang kerajaan kami! Akan aku berikan raga dan darahku untuk mempertahankan tanah air tercinta!”

Ya!
Jangan pernah panggil aku Buto Cakil jika aku tak waspada.
Aku adalah prajurit yang tak takut menghadapi apapun demi mempertahankan tanah ini.

Lalu, ia yang telah melaknati ibuku hadir dengan pesona yang jauh beda denganku. Melangkah masuk ke negaraku. Hati terbakar, bercampur dendam dan jiwa ksatriaku.

Aku akan bebaskan diri dari masa kelam yang mendarah daging dengan membunuhnya.

Aku ingin merdeka dari bayang nista yang terus melekat padaku.

Kau harus mati, Arjuna!
Kau adalah sosok bermuka dua yang terbuai dengan pujian dari seluruh jagad raya.

Sedangkan aku?
Hanyalah lelaki bertaring buruk rupa yang mereka sebut sampah!

Penuh amarah aku melawannya dalam pertarungan sengit. Dendam menari seiring gerakku menghadapinya.

Lalu, aku rasakan sakit pada tubuhku. Darah mengalir deras dari kerisku yang tertancap di dadaku.

Aku terbelalak dan terkapar.
Napas tersengal dan darah terus mengalir jatuh ke tanah.
Tanah airku!

“Ayah, aku tak bisa membunuhmu. Kau muluskan jalanku terhindar dari durhaka. Sekaligus pengabdianku pada Tuan dan negara yang menyayangiku.”

Redup mataku tertutup. Kala arwahku terbang menuju langit, aku rasakan bebas!

Aku pergi dengan senyum merekah seiring dendam yang hilang.
Aku pergi dengan meninggalkan goresan manis pada tanah airku.

Aku, Buto Cakil menikmati yang mereka sebut merdeka!

Tinggalkan Balasan