Toh Kuning – Alas Kawitan 4

Para prajurit itu segera bersiap dan senjata mereka telah merunduk. Suasana tegang sangat terasa di dalam dua kerumunan itu.

Kemudian, lurah prajurit itu memberi perintah pada pengikut Ki Ranu Welang sambil menunjuk ke suatu tempat,”Atas nama Raja Kediri, aku perintahkan kalian untuk meletakkan senjata dan mengumpulkannya di sebelah utara. Aku ingin kalian melakukannya tanpa bantahan.  Aku adalah wakil raja bagi kalian.”

Para pengikut Ki Ranu Welang menjadi geram dan jengkel dengan perintah lurah prajurit Kediri.

“Ia berpikir sebagai wakil raja? Mungkin kepala lurah itu harus segera dpisahkan agar ia cepat menjadi sadar diri.” Pikir orang yang bertubuh kurus itu. Ia berjalan mendekat dan mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah lurah prajurit. Bentaknya,” Kami tidak takut pada prajurit Kediri dan kalian tidak bekerja untuk memberi kami rasa takut. Bahkan seorang raja pun tidak mempunyai arti yang begitu penting bagi kami. Kertajaya tidak pernah peduli pada kami. Kertajaya tidak mengerti rasa sakit yang kami alami. Lalu, bagaimana kami akan menyatakan tunduk padanya? Apa kepentingan Kertajaya yang sebenarnya?”

“Aku ulangi kata-kataku sekali lagi, Ki Sanak! Alas Kawitan adalah tempat terlarang untuk bermalam. Ki Sanak sekalian tidak boleh bermalam di tempat ini,” lurah prajurit menegaskan. Dengan pandang mata yang awas, ia memberi perintah pada teman-temannya untuk bersiap. Gelegak jiwanya makin kuat. Dorongan hati untuk segera memberi pelajaran pada kawanan Ranu Welang merambat lebih jauh untuk menguasai hatinya.

Setengah berteriak ia berkata,“ Kalian harus patuhi aturan kerajaan. Kalian harus mengemasi semua barang-barang kalian dan pergi dari sini. Jika kalian membangkang perintah kami, pasukanku akan datang dan menghukum kalian!”

“Ki Lurah, aku harap tidak ada kekerasan yang terjadi,” terdengar orang berkata-kata dan tiba-tiba muncul Toh Kuning dari kegelapan.

Ia berkata dengan tenang,” Kami mengira jika kami meneruskan perjalanan maka kawanan begal akan menghabisi nyawa kami semua. Dan pemimpin kelompok kami…” Toh Kuning menghentikan ucapannya lalu menunjuk orang bertubuh kurus itu lalu ia meneruskan,”… memilih tempat ini untuk bermalam agar kami aman dari kejahatan yang mungkin telah mengintai kami sejak dari Tumapel.”

“Ki Lurah,” Toh Kuning melangkah mendekati para prajurit,” Larangan itu membuat kami yang terbiasa melakukan perjalanan jauh untuk banyak keperluan merasa seperti diawasi. Paugeran itu seperti membuat dinding tebal diantara rakyat dengan kerajaan. Seolah-olah kerajaan sudah tidak percaya pada kami.”

“Kau pintar bertutur kata, anak muda,” sahut lurah prajurit. Ia melanjutkan kemudian,” Sangat disayangkan jika akhirnya kau berada dalam pergaulan dengan orang-orang seperti mereka.”

Lurah prajurit itu sebenarnya sudah tidak sabar untuk memaksa kelompok Ki Ranu Welang untuk pergi, tetapi kehadiran Toh Kuning memberi kesan yang berbeda dalam hatinya. Kemudian ia mencoba untuk menahan diri.

Dan ternyata rasa tidak sabar untuk melawan prajurit Kediri juga menyembul dalam hati orang bertubuh kurus sebagai pimpinan kelompok Ki Ranu Welang. Hampir saja ia meloloskan senjatanya jika Toh Kuning tidak segera melangkah keluar dan berdiri di tengah-tengah mereka.

Tinggalkan Balasan