Fiksi Mini : Kebun Jasad 3

"Sehari ini kau berencana apa, Mas?" "Sedikit belanja buat besok pagi," jawab Nono. "Lalu kau tinggal aku di rumah? Seperti arca penunggu candi?" Elsye...

Fiksi Mini : Kebun Jasad 2

Hidangan ditata apik dan bernuansa kalem. Empat lilin menyala. Sup merah kacang polong masih mengepul uap hangat. Dini tampak cerah. Jemarinya tak berhenti mengusap...

Fiksi Mini : Mayat Telanjang

Lidah terjulur melalui sela bibir Rania menebar bau bangkai lalu melibat leher Hendra. Duri bertabur penuh dari ujung hingga pangkal lidah Rania. Darah merembes...

Fiksi Mini : Aku Mencintaimu

“Kau belum memberi jawaban, Diaz." "Aku belum bisa kasih jawaban, Mas. Tolong jangan paksa aku!" "Sudah dua bulan aku menunggu dan kau meragukanku!" Diaz,...

Fiksi Mini : Bantal Pembunuh

Ibu masih menangis. Aku tidak suka dan aku ingin menenangkannya. Kulingkarkan tangan mungilku pada pergelangannya. Ia melihatku. Aku tersenyum padanya. Tapi dibalasnya dengan pandang...

Fiksi Mini : The Duty

Lelaki yang bernapas busuk itu tengah menindihku. Kulirik jam di dinding. Pukul 01.15 WIB. “Cepatlah selesai,” batinku menahan muntah. Sesaat kemudian dia tampak wajah...

Fiksi : Terbakar Otak

"Aku hamil, mas. Tolong segera nikahi aku", pintaku sambil menangis. Wido tercekat, dalam hatinya berkata, "Kiamat ini, bagaimana aku menjelaskan pada William kekasihku." -tamat-...

Fiksi Mini : Kebun Jasad

Aku menatap hamparan mawar yang bertabur bahagia memamerkan rekah kelopak. Merah menyala tergelar seperti permadani mahal penghias istana raja. Sungguh pemandangan yang memukau mata,...

Fiksi Mini : Dendam

DENDAM   Diaz terpejam menikmati sensasi ciuman Lea. Secepat kilat Lea mengambil FN 57 berperedam di bawah bantal Diaz, dan menembakkan tepat di pelipis...