Fiksi Mini : Bantal Dedek

Ibu masih menangis. Aku tidak suka dan aku ingin menenangkannya. Kulingkarkan tangan mungilku pada pergelangannya. Ia melihatku. Aku tersenyum padanya. Tapi dibalasnya dengan pandang...

Fiksi Mini : The Duty

Lelaki yang bernapas busuk itu tengah menindihku. Kulirik jam di dinding. Pukul 01.15 WIB. “Cepatlah selesai,” batinku menahan muntah. Sesaat kemudian dia tampak wajah...

Fiksi : Terbakar Otak

"Aku hamil, mas. Tolong segera nikahi aku", pintaku sambil menangis. Wido tercekat, dalam hatinya berkata, "Kiamat ini, bagaimana aku menjelaskan pada William kekasihku." -tamat-...

Fiksi Mini : Selalu Berduri

Aku menatap hamparan mawar yang bertabur bahagia memamerkan rekah kelopak. Merah menyala tergelar seperti permadani mahal penghias istana raja. Sungguh pemandangan yang memukau mata,...