Pengumuman : Tidak Melanjutkan ADBM

Sanak kadang,  kerabat dan handai taulan para pecinta Api di Bukit Menoreh.  Assalamu alaikum wa rahmatullah.  Semoga sejahtera selalu terlimpah bagi kita semua. Dengan sangat menyesal,  saya harus katakan bahwa serial Lanjutan Api di Bukit Menoreh harus berakhir pada jilid 398 – 16. Tak lain dan tak bukan,  satu-satunya alasan adalah terkait hak cipta atas […]

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 16

Ki Rangga Agung Sedayu mendengar percakapan dengan jelas. Gelora perasaannya segera membakar jantungnya. Terjawab sudah kegelisahan hatinya tentang Ki Lurah Sanggabaya. Akan tetapi ia telah mendapatkan kepastian jika Ki Lurah Sanggabaya tidak akan memutar arah berhadapan dengannya. Selain itu, Ki Rangga Agung Sedayu tercekam perasaan betapa Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh akan dilandai badai hebat […]

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 15

Ki Rangga Agung Sedayu dengan daya ingat sangat tajam segera membandingkan dengan keadaan pesanggrahan Poh Pitu di masa lalu. Terkenang olehnya sikap Ki Jayaraga yang tidak dapat menahan diri untuk segera membuka sumbatan. Karena air yang mengaliri sawah-sawah di Tanah Perdikan Pajang dan sekitarnya telah  dibendung oleh orang-orang Ki Tumenggung Wirataruna, maka ia mendatangi pesanggrahan […]

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 14

“Angger Agung Sedayu kini mempunyai senjata yang tidak kalah dengan cambuk miliknya. Ilmu dari kitab Ki Waskita ini benar-benar nggrigisi,” desah Ki Jayaraga perlahan pada dirinya sendiri. Ki Rambetaji segera meningkatkan ilmunya melampaui beberapa tataran. Ia harus banyak menyesuaikan dengan serangan Agung Sedayu namun rupanya ia belum terlambat. Sesekali ia melontarkan serangan yang tidak kalah […]

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 398 – 13

Kegelisahan mulai mencekam Ki Sanggabaya. Seandainya bukan karena tugas dan rencana yang telah disusun bersama dengan Ki Rangga Agung Sedayu, ia sudah barang tentu meninggalkan tempat itu. “Malam telah mendekati kedalaman. Ki Rangga Agung Sedayu juga belum menampakkan dirinya. Sampai kapan aku menunggunya? Jika aku menerobos pesanggrahan itu sendirian, tentu saja itu seperti menyalakan bara […]