http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 9

Ketika ia merasa sudah tidak ada lagi obrolan pengikut Raden Atmandaru yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan, Sarjiwa memutuskan untuk pergi ke tempat yang telah ia sepakati dengan ibunya. Dan ia telah mendapati Nyi Winatra telah berada di tempat itu, lalu ia mendengar ibunya berkata,” Apakah kau mengenali tanda-tanda dan jalan menuju Tanah Perdikan, Ngger?” “Aku […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 8

Tiga orang itu kemudian berhenti di dekat gerumbul pohon pisang yang tumbuh di dekat pematang. Seorang diantaranya kemudian melihat ke tanah tinggi yang diatasnya ada Sarjiwa dan ibunya. Demikianlah, Nyi Winatra dan Sarjiwa masih berada di tempat semula mengamati orang-orang yang bergerak-gerak dan berpindah seperti sedang mengamati sisi luar kademangan. Walaupun Sarjiwa masih menyimpan rasa […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 7

Sarjiwa dan Nyi Winatra setapak demi setapak semakin jauh meninggalkan regol pedukuhan dan kemudian mereka mengambil jalur yang berbeda dengan jalan utama. Nyi Winatra agaknya ingin perjalanan menuju Kademangan Mangunreja itu juga dapat menjadi sebuah bagian dari latihan-latihan yang harus dijalani oleh Sarjiwa. Oleh karenanya ia mengajak Sarjiwa berjalan menyusur sungai kecil yang mengalir disela-sela […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 6

Ki Patih mengalihkan sejenak pandangannya keluar kedai. Tampak olehnya beberapa lelaki bertubuh tegap dan kekar sedang mendorong sebuah pedati yang terlihat membawa beban cukup berat. “Semuanya terlihat wajar di permukaan,” ucapnya kemudian. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu berkata lagi,”Aku mendapatkan laporan yang berbeda, Ki Tumenggung. Untuk itulah aku mengajakmu kemari agar dapat menilai keadaan bersamamu.” […]

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 5

Rananta berhenti sekitar belasan tombak dari regol pedukuhan. Ia melihat dua tiga orang sedang duduk di gardu jaga. Sementara yang lain nampak berdiri menghadap bulak pendek seperti sedang menunggu sesuatu. Ia melompat turun dari kuda dan menata perasaannya yang sedikit bergejolak. Setelah kendali perasaannya telah seimbang, ia menyusup diantara rerimbunan semak. Kuda yang ia tambatkan […]